Aksi Brutal di Manonjaya: 6 Korban Melepuh Disiram Air Keras
- account_circle redaktur
- calendar_month 56 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Lokasi penyiraman air keras di Manonjaya semalam, Senin(4/5/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Teror air keras Tasikmalaya mengguncang warga setelah seorang sopir ekspedisi melakukan aksi brutal dengan menyiramkan cairan berbahaya kepada pegawai konveksi. Insiden penyerangan air keras di Tasikmalaya ini menyebabkan sembilan orang menjadi korban, enam di antaranya mengalami luka bakar serius.
Peristiwa terjadi di Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, sekitar pukul 19.00 WIB. Suasana kerja yang semula tenang berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik.
Pelaku Datang dengan Penyamaran, Serangan Terjadi Seketika
Saksi mata menyebut pelaku datang dengan penampilan tertutup. Ia mengenakan helm dan jas hujan hitam, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
Di tangannya, pelaku menggenggam botol putih yang kemudian diketahui berisi cairan berbahaya.
“Dia datang langsung teriak-teriak seperti kesetanan. Helm menutup muka, jas hujan, botol putih di tangan,” ujar Abdul Holik, salah satu korban, saat mendapat perawatan di RSUD dr Soekardjo.
Tanpa banyak bicara, pelaku langsung menyemprotkan cairan tersebut ke arah para pekerja di dalam rumah produksi konveksi.
Korban Berjatuhan, Luka Bakar Parah Picu Kepanikan
Serangan terjadi cepat dan brutal. Para korban tidak sempat menghindar. Cairan yang disiramkan langsung menyebabkan kulit melepuh.
Jeritan pecah di dalam ruangan. Beberapa korban berguling di lantai sambil menahan rasa perih yang luar biasa. Warga sekitar yang mendengar teriakan langsung berhamburan keluar.
Sebanyak enam korban mengalami luka bakar serius dan segera dilarikan ke rumah sakit. Selain itu, tiga korban lain mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat, termasuk Puskesmas setempat.
Kondisi korban menjadi perhatian utama, mengingat luka akibat zat kimia berbahaya berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan permanen.
Polisi Bergerak Cepat, Pelaku Langsung Diamankan
Aparat kepolisian merespons cepat insiden tersebut. Tim Satreskrim Polresta Tasikmalaya segera turun ke lokasi untuk mengamankan situasi.
Pelaku berhasil ditangkap tidak lama setelah kejadian. Penangkapan dilakukan di sekitar lokasi kejadian tanpa perlawanan berarti.
“Pelaku merupakan sopir ekspedisi, kurir yang biasa mengantar barang ke tempat tersebut,” ungkap pihak kepolisian.
Setelah itu, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Garis polisi dipasang untuk mengamankan area dan mengumpulkan barang bukti.
Motif Masih Didalami, Hubungan Pelaku dan Korban Diselidiki
Hingga kini, motif penyerangan masih dalam penyelidikan. Namun fakta bahwa pelaku merupakan kurir yang sering datang ke lokasi memunculkan dugaan adanya hubungan sebelumnya dengan korban atau pemilik usaha.
Polisi mendalami kemungkinan konflik pribadi, masalah pekerjaan, atau faktor lain yang memicu aksi nekat tersebut.
Sementara itu, kondisi psikologis warga sekitar juga terdampak. Insiden ini menimbulkan rasa takut, terutama karena terjadi di lingkungan kerja yang seharusnya aman.
Ancaman Nyata di Ruang Publik: Alarm Keamanan Lingkungan Kerja
Kasus ini menjadi pengingat serius bahwa ancaman kekerasan dapat terjadi di mana saja, termasuk di tempat kerja skala kecil seperti rumah produksi konveksi.
Penggunaan zat berbahaya dalam aksi kriminal juga menunjukkan tingkat risiko yang tinggi. Selain melukai fisik, dampaknya bisa bersifat jangka panjang bagi korban.
Karena itu, penguatan sistem keamanan lingkungan dan kewaspadaan terhadap orang asing menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Upaya Penanganan dan Pemulihan Korban
Tim medis di RSUD dr Soekardjo saat ini fokus pada penanganan luka bakar para korban. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang, tergantung tingkat keparahan luka.
Selain perawatan fisik, dukungan psikologis juga menjadi kebutuhan penting bagi korban yang mengalami trauma.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menerima tamu atau pihak luar di lingkungan kerja.
Dalam hitungan detik, tempat kerja berubah menjadi lokasi teror. Dan ketika air keras digunakan sebagai senjata, yang tersisa bukan hanya luka di kulit—tetapi juga luka dalam rasa aman yang tak mudah dipulihkan. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar