Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Tata Kelola Kehutanan Jabar Diuji oleh Masifnya Kerusakan Hutan

Tata Kelola Kehutanan Jabar Diuji oleh Masifnya Kerusakan Hutan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
  • visibility 169
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kerusakan hutan Jabar menguji tata kelola kehutanan dan konsistensi kebijakan lingkungan daerah.

albadarpost.com, HUMANIORA – Lebih dari 800 ribu hektare lahan di Jawa Barat berada dalam kondisi kritis atau rusak. Angka ini bukan sekadar statistik ekologis. Ia adalah indikator kegagalan tata kelola kehutanan Jabar dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, tekanan populasi, dan keberlanjutan lingkungan.

Pernyataan Dinas Kehutanan Jawa Barat bahwa kerusakan tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah strategis—dari Cianjur, Sukabumi, Bandung Raya, Garut, hingga kawasan Puncak—menunjukkan satu hal penting: persoalan ini sistemik, bukan insidental. Ketika kerusakan terjadi merata, yang patut diuji bukan hanya perilaku masyarakat, tetapi desain kebijakan dan kapasitas pengawasan pemerintah daerah.

Dalam konteks kebijakan publik, kerusakan hutan Jabar adalah cermin dari bagaimana negara hadir—atau absen—dalam mengatur ruang hidup warganya.


Tekanan Penduduk dan Lemahnya Kontrol Ruang

Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Fakta ini kerap dijadikan alasan pembenar atas masifnya alih fungsi lahan. Namun, di sinilah letak persoalan kebijakan: tekanan demografis seharusnya diantisipasi melalui perencanaan tata ruang yang disiplin, bukan dibiarkan menjadi dalih pembiaran.

Pola alih fungsi lahan yang disampaikan Dinas Kehutanan—dari hutan langsung ke kawasan terbangun tanpa transisi—menandakan lemahnya kontrol negara atas ruang. Dalam praktik tata kelola kehutanan Jabar, hutan sering kali kalah cepat dibanding izin, kebutuhan pasar, dan kepentingan jangka pendek.

Masalahnya bukan sekadar berkurangnya tutupan hutan, tetapi hilangnya fungsi ekologis yang selama ini menjadi penyangga bencana. Longsor, banjir bandang, dan krisis air di Jawa Barat tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan langsung dengan keputusan tata kelola kehutanan yang longgar dan tidak konsisten.


Tambang, Reklamasi, dan Pengawasan yang Tertinggal

Salah satu sumber kerusakan paling nyata berasal dari aktivitas pertambangan. Lahan eks galian yang dibiarkan tanpa reklamasi menunjukkan celah serius dalam tata kelola kehutanan Jabar dan pengelolaan sumber daya alam lintas sektor.

Secara normatif, reklamasi adalah kewajiban. Secara praktik, ia sering menjadi catatan akhir yang terabaikan. Ketika aparat kepolisian di Sumedang turun langsung melakukan penanaman pohon di bekas tambang, hal ini patut diapresiasi. Namun dari sudut pandang kebijakan, langkah tersebut juga mengandung ironi: pemulihan lingkungan justru ditambal oleh aksi sektoral, bukan sistem pengawasan yang kuat sejak awal.

Jika negara hadir setelah kerusakan terjadi, maka biaya pemulihan akan selalu lebih mahal daripada pencegahan. Dalam audit kebijakan lingkungan, ini adalah indikator inefisiensi tata kelola.


Rehabilitasi sebagai Kebijakan Reaktif

Ajakan penghijauan di musim hujan adalah langkah rasional. Namun dalam kerangka analisis kebijakan, rehabilitasi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban. Rehabilitasi adalah respons, bukan solusi struktural.

Pertanyaan kuncinya: mengapa lahan terus rusak lebih cepat daripada kemampuan negara memulihkannya? Selama tata kelola kehutanan Jabar masih berfokus pada penanaman ulang tanpa membenahi akar kebijakan—izin, pengawasan, sanksi, dan integrasi tata ruang—maka rehabilitasi berpotensi menjadi ritual tahunan yang berulang.

Tanpa audit menyeluruh terhadap izin alih fungsi lahan, pertambangan, dan pemanfaatan kawasan hutan, program rehabilitasi hanya akan mengejar ketertinggalan.


Perbandingan Praktik dan Pelajaran Kebijakan

Beberapa daerah di Indonesia mulai mengintegrasikan kebijakan kehutanan dengan mitigasi bencana dan perencanaan ekonomi lokal. Rehabilitasi dikaitkan dengan skema insentif, perlindungan daerah tangkapan air, dan pembatasan tegas izin di kawasan rawan.

Di Jawa Barat, pendekatan seperti ini masih bersifat parsial. Ketika satu sisi pemerintah mendorong penghijauan, sisi lain kebijakan tata ruang dan perizinan belum sepenuhnya sinkron. Celah inilah yang membuat kerusakan hutan Jabar terus berulang meski program lingkungan silih berganti.

Baca juga: Pemerintah Hapus Biaya Balik Nama Mobil Bekas

Audit tata kelola kehutanan seharusnya tidak berhenti pada data luasan lahan rusak, tetapi masuk ke pertanyaan lebih mendasar: siapa yang memberi izin, siapa yang mengawasi, dan siapa yang bertanggung jawab ketika fungsi hutan hilang.


Tata Kelola Harus Diperbaiki, Bukan Ditambal

Redaksi berpandangan bahwa persoalan kehutanan Jawa Barat bukan semata masalah ekologis, melainkan masalah tata kelola publik. Ketika kerusakan mencapai ratusan ribu hektare, maka yang dibutuhkan bukan sekadar gerakan tanam pohon, tetapi koreksi kebijakan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu membuka audit terbuka atas tata kelola kehutanan Jabar: mulai dari konsistensi tata ruang, kepatuhan reklamasi tambang, hingga efektivitas pengawasan lintas sektor. Tanpa itu, risiko lingkungan akan terus dipindahkan ke pundak warga dalam bentuk bencana dan kerugian sosial.

Hutan yang rusak tidak pernah runtuh dalam satu malam. Ia terkikis oleh keputusan kecil yang dibiarkan terlalu lama. Jika tata kelola kehutanan Jabar tidak segera dibenahi dari hulunya, maka rehabilitasi hanya akan menjadi jeda singkat sebelum kerusakan berikutnya datang. (Red/Asep Chandra)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • JAZIRAH CCE 2026

    Herdiat: JAZIRAH x CCE 2026 Pecahkan Sejarah Ekonomi Syariah Priangan Timur

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Gelaran JAZIRAH x CCE 2026 menciptakan momentum baru bagi perkembangan ekonomi syariah di Priangan Timur. Tidak digelar di pusat kota, tidak pula berada di kawasan jalan tol, kegiatan yang berlangsung di kawasan Rest Area Situs Karangkamulyan justru memperlihatkan arah baru: ekonomi syariah mulai tumbuh dari ruang ekonomi rakyat. Bupati Ciamis Dr. […]

  • Ilustrasi keluarga dengan orang tua dan anak belajar menyelesaikan konflik secara sehat di rumah

    Saat Anak Diam Mengamati Pertengkaran Orang Tua

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 200
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Sering kali orang tua mengira anak tidak memperhatikan. Padahal, di sudut ruangan, anak justru menyerap semuanya—nada suara, raut wajah, hingga kata-kata yang terlontar saat orang tuanya bertengkar. Konflik dalam rumah tangga memang tidak terhindarkan. Namun, yang jarang disadari, cara mengelola pertengkaran di keluarga justru membentuk cara anak memahami emosi, hubungan, dan rasa […]

  • Ilustrasi konflik Timur Tengah dengan latar kilang minyak dan peta kawasan sebagai simbol dampak perang AS Israel Iran terhadap harga minyak global.

    Perang AS–Israel vs Iran: Dunia Terancam Krisis Energi

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Ketegangan Perang AS Israel Iran kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global. Konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini bukan hanya persoalan militer, tetapi juga menyentuh stabilitas geopolitik serta harga minyak dunia. Seiring eskalasi konflik Timur Tengah tersebut, pasar energi dan hubungan internasional ikut bergejolak. Situasi memanas setelah serangkaian serangan dan respons balasan […]

  • perbandingan sistem kuota haji

    Perbandingan Sistem Kuota Haji di Negara Lain, Indonesia Perlu Belajar?

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 146
    • 0Komentar

    “Perbandingan sistem kuota haji di negara lain: pelajari mekanisme alokasi Saudi, pembagian kuota, dan pelajaran penting bagi Indonesia.” albadarpost.com, CENDIKIA. Banyak negara muslim memiliki sistem pembagian kuota haji yang berbeda-beda berdasarkan populasi, aturan pemerintah, dan regulasi lokal. Perbandingan sistem kuota haji di negara lain mengungkap bagaimana praktik alokasi kuota yang adil, transparan, dan terkadang kontroversial […]

  • Ilustrasi seseorang berdoa setelah salat untuk mengusir kesialan dan energi negatif dalam hidupnya.

    Sering Sial dan Gelisah? Coba Amalkan Doa Pendek Ini Setiap Hari

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 367
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kadang seseorang bangun pagi dengan perasaan aneh. Pikiran terasa penuh, hati gelisah, pekerjaan berantakan, dan semuanya seperti tidak berjalan baik. Sebagian orang lalu menyebutnya kesialan. Sebagian lagi menganggap ada energi negatif yang mengganggu hidupnya. Dalam Islam, kondisi seperti itu sebenarnya bukan hal asing. Karena itulah banyak ulama menganjurkan membaca doa pengusir kesialan […]

  • Gaji Guru Rp5 Juta

    DPR Dorong Gaji Layak Guru Minimal Rp5 Juta

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kesejahteraan guru kembali menjadi perhatian nasional. Usulan gaji guru Rp5 juta yang didorong Komisi X DPR RI muncul setelah berbagai data menunjukkan bahwa penghasilan tenaga pendidik, terutama guru honorer, masih jauh dari kategori layak. Dikutip dari laman resmi DPR RI, usulan peningkatan kesejahteraan guru tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam […]

expand_less