Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Ibnu Athaillah: Cari Aibmu, Bukan Keajaiban

Ibnu Athaillah: Cari Aibmu, Bukan Keajaiban

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 220
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Di media sosial, sebuah video tentang seseorang yang disebut memiliki karamah dapat menyebar dalam hitungan jam. Ribuan orang membagikannya. Kolom komentar pun penuh dengan kekaguman. Namun, pada waktu yang sama, kisah seorang ayah yang puluhan tahun tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah hampir tak pernah menjadi perbincangan.

Fenomena itu bukan sekadar soal algoritma. Ia juga memperlihatkan kecenderungan hati manusia. Kita lebih mudah terpikat oleh sesuatu yang luar biasa daripada menghargai istiqamah, padahal istiqamah, muhasabah, dan membersihkan aib diri justru menjadi pesan utama dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari.

Seolah-olah keajaiban lebih penting daripada perubahan diri.

Padahal belum tentu demikian.

Ibnu Athaillah menulis sebuah hikmah yang terasa sangat relevan, bahkan setelah berabad-abad berlalu.

تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بُطِنَ فِيكَ مِنَ الْعُيُوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوبِ

“Keinginanmu untuk mengetahui aib yang tersembunyi dalam dirimu lebih baik daripada keinginanmu mengetahui perkara gaib yang Allah sembunyikan darimu.”

Kalimat itu sederhana. Namun, jika direnungkan, ia seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.

Kita Sibuk Mengintip Langit, Tetapi Lupa Melihat Hati

Bayangkan sebuah pengajian.

Begitu pembahasan menyentuh soal karamah para wali, ruangan mendadak sunyi. Semua menyimak.

Namun, ketika tema bergeser menjadi pentingnya mengendalikan amarah, menjaga lisan, atau mengakui kesalahan sendiri, sebagian mulai kehilangan perhatian.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di satu tempat. Di era digital, pola yang sama berulang setiap hari. Konten sensasional lebih mudah menarik perhatian dibandingkan ajakan memperbaiki akhlak.

Di sinilah satir Al-Hikam bekerja.

Ibnu Athaillah tidak melarang seseorang mengetahui kisah para wali. Akan tetapi, beliau mengingatkan agar pencarian terbesar seorang hamba bukanlah membuka tabir yang Allah tutup, melainkan membuka tabir kesalahan yang selama ini ditutupi oleh ego.

Sebab musuh terbesar sering kali bukan kebodohan.

Melainkan merasa sudah baik.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ayat ini seakan mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari kerendahan hati, bukan dari rasa bangga terhadap diri sendiri.

Istiqamah Memang Tidak Viral, Tetapi Selalu Bernilai di Hadapan Allah

Keajaiban memang mengundang decak kagum.

Namun, istiqamah justru sering berjalan dalam diam.

Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang menolak suap.

Tidak ada berita besar ketika seorang ibu bangun setiap malam untuk salat tahajud.

Dan tidak ada kamera yang merekam seorang pedagang memilih jujur saat pembelinya lengah.

Padahal, mungkin di situlah kemuliaan yang sesungguhnya.

Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat yang sangat singkat, tetapi menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin.

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)

Perhatikan, Nabi tidak mengatakan, “Carilah karamah.”

Beliau juga tidak mengajarkan umatnya mengejar pengalaman spiritual yang luar biasa.

Beliau hanya memerintahkan satu hal: istiqamah.

Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa karamah bukan tujuan. Ia hanyalah karunia yang Allah berikan kepada hamba tertentu sesuai kehendak-Nya.

Sebaliknya, istiqamah adalah tugas setiap muslim.

Muhasabah Lebih Berat daripada Mencari Sensasi Spiritual

Ada sebuah kebiasaan yang sering luput kita sadari.

Kita cepat melihat kesalahan orang lain.

Kita hafal kelemahan tetangga.

Dan kita rajin mengomentari pemimpin.

Serta kita mudah mengkritik ulama.

Namun ketika ditanya, “Apa tiga kekurangan terbesar dalam dirimu?”

Jawabannya sering berhenti di tenggorokan.

Padahal Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Muhasabah memang tidak menyenangkan.

Ia memaksa seseorang berdialog dengan dirinya sendiri.

Tidak ada penonton.

Tidak ada tepuk tangan.

Dan tidak ada pujian.

Yang ada hanyalah pengakuan jujur bahwa masih banyak yang harus diperbaiki.

Justru karena itulah muhasabah menjadi jalan menuju keikhlasan.

Al-Hikam Mengajarkan Jalan yang Berlawanan dengan Arus Zaman

Hari ini dunia mengajarkan pencitraan.

Tasawuf mengajarkan penyucian.

Dunia mendorong manusia tampil sempurna.

Al-Hikam mengajak manusia berani mengakui kekurangan.

Dunia menawarkan popularitas.

Allah menawarkan kedekatan.

Mungkin karena itu, istiqamah terasa berat. Ia tidak menghasilkan sensasi. Ia juga tidak selalu mendapat pujian.

Namun Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang mampu bertahan di jalan-Nya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Ayat ini tidak berbicara tentang kemampuan luar biasa.

Ayat ini berbicara tentang hati yang tetap setia kepada Allah dalam sehat maupun sakit, lapang maupun sempit, dipuji ataupun dilupakan.

Barangkali itulah keajaiban terbesar yang sering tidak kita sadari.

Keajaiban mungkin membuat seseorang dikenal manusia. Namun istiqamah membuat seorang hamba dikenal di langit. Maka, berhentilah sibuk mencari sesuatu yang Allah sembunyikan, sementara aib yang Allah minta kita perbaiki masih kita abaikan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Supeltas Puncak

    Perspektif Kebijakan Supeltas Puncak, Batas Tipis Negara–Warga

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Perspektif kebijakan Supeltas Puncak, membaca dampak penataan lalu lintas bagi warga dan tata kelola ruang publik. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Kemacetan di jalur Puncak setiap musim libur bukan sekadar persoalan teknis lalu lintas. Ia adalah persoalan tata kelola publik. Ketika Polres Bogor merekrut Supeltas—sukarelawan pengatur lalu lintas—negara sesungguhnya sedang menjalankan fungsi administratif di ruang abu-abu: memperluas […]

  • kerja sama pertahanan Indonesia AS

    Diam-diam Indonesia Naik Level, AS Buka Akses Teknologi Militer Canggih

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 207
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kerja sama pertahanan Indonesia AS tiba-tiba jadi sorotan. Bukan tanpa alasan. Lewat kesepakatan baru bernama Major Defense Cooperation Partnership (MDCP), arah hubungan militer Indonesia–Amerika Serikat berubah drastis—lebih dalam, lebih strategis, dan jauh dari sekadar simbolik. Kerja sama militer Indonesia–AS ini, atau yang juga disebut kemitraan strategis pertahanan RI, kini menyentuh hal […]

  • sampah Tahun Baru Bandung

    DLH Kota Bandung Laporkan Sampah Tahun Baru

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 206
    • 0Komentar

    DLH Bandung mencatat 63 ton sampah malam Tahun Baru 2026, didominasi plastik, dengan kesadaran warga mulai meningkat. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Perayaan malam Tahun Baru 2026 di Kota Bandung kembali menyisakan persoalan klasik perkotaan: sampah. Namun, di tengah lonjakan aktivitas warga dan wisatawan di sejumlah titik favorit kota, volume sampah yang dihasilkan tercatat relatif stabil, […]

  • Kasus Penipuan Tanah Banjar

    Lansia 70 Tahun Tolak Akui Dakwaan di PN Banjar

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus Penipuan Tanah Banjar memasuki babak baru setelah sidang perdana dugaan penipuan jual beli tanah dan bangunan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kota Banjar. Dalam persidangan, majelis hakim menawarkan mekanisme Keadilan Restoratif (MKR) atau Pengakuan Bersalah (PB) sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 1 […]

  • Makan Gratis Tasikmalaya

    Kaget! Ini Jawaban Pemilik Cahaya Minang Saat Ditanya Soal Rugi

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 276
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Tepat ketika jarum jam mendekati pukul 12.00 WIB, suasana di Rumah Makan Cahaya Minang, Jalan Cigeureung, Kota Tasikmalaya, berubah berbeda dari hari biasanya. Aroma masakan khas Minang masih mengepul dari dapur. Namun, siang itu bukan suara kasir yang paling sering terdengar, melainkan ucapan, “Silakan makan.” Program makan gratis Tasikmalaya yang digelar rumah […]

  • Jalur Gentong

    Polres Tasikmalaya Kota Perketat Jalur Gentong Saat Nataru

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Polres Tasikmalaya Kota memperkuat pengamanan Jalur Gentong untuk mencegah macet dan kecelakaan Nataru. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kepolisian Resor Tasikmalaya Kota memperketat pengamanan Jalur Gentong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, selama libur Natal dan Tahun Baru 2025. Langkah ini diambil karena Jalur Gentong merupakan jalur nasional penghubung Tasikmalaya–Garut yang rawan kemacetan dan kecelakaan, terutama saat lonjakan […]

expand_less