DLH Kota Bandung Laporkan Sampah Tahun Baru

DLH Bandung mencatat 63 ton sampah malam Tahun Baru 2026, didominasi plastik, dengan kesadaran warga mulai meningkat.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Perayaan malam Tahun Baru 2026 di Kota Bandung kembali menyisakan persoalan klasik perkotaan: sampah. Namun, di tengah lonjakan aktivitas warga dan wisatawan di sejumlah titik favorit kota, volume sampah yang dihasilkan tercatat relatif stabil, bahkan sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menjadi indikator penting dalam membaca perubahan perilaku publik terhadap kebersihan ruang kota.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat total timbulan sampah pada perayaan pergantian malam Tahun Baru 2025 ke 2026 mencapai 63,76 ton atau setara 117 meter kubik. Angka ini berasal dari enam wilayah utama konsentrasi massa, seperti Alun-alun Bandung, kawasan Jalan Asia Afrika, Braga, hingga Jalan Diponegoro. Tahun sebelumnya, timbulan sampah tercatat sebesar 64 ton.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menyebut perbedaan jumlah tersebut memang tidak signifikan, tetapi menunjukkan tren positif. “Kalau dibandingkan tahun lalu, justru ada sedikit penurunan. Ini menandakan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat,” ujar Darto saat dihubungi, Kamis (1/1/2026).
Sampah Plastik Masih Mendominasi
Dari keseluruhan sampah Tahun Baru Bandung yang terkumpul, jenis sampah anorganik masih mendominasi. DLH mencatat sebagian besar sampah berupa plastik, kertas, kardus pembungkus makanan, serta styrofoam. Sementara itu, sampah organik berupa sisa makanan jumlahnya relatif kecil.
Baca juga: Pemkab Karawang Rotasi Ratusan ASN
Menurut Darto, pola konsumsi masyarakat pada malam pergantian tahun masih sangat bergantung pada makanan cepat saji dan jajanan jalanan. “Sebagian besar itu sampah plastik dan bungkus makanan. Food waste atau sisa makanan justru tidak terlalu banyak,” katanya.
Selain plastik, DLH juga menemukan tingginya volume sampah tusukan makanan, seperti tusuk cilok, sate, cilor, dan telur gulung. Jenis sampah ini menjadi perhatian khusus karena berpotensi membahayakan petugas kebersihan.
Jalan Diponegoro Jadi Titik Rawan
Salah satu titik dengan karakter sampah paling spesifik adalah Jalan Diponegoro. Dari sekitar 1,6 meter kubik sampah yang terkumpul di kawasan ini, mayoritas berupa tusukan bambu bekas jajanan. “Sampah tusukan cilok mendominasi. Ini perlu ekstra kehati-hatian karena runcing dan berisiko melukai petugas,” ujar Darto.
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kebersihan tidak hanya soal volume, tetapi juga jenis sampah yang dihasilkan. Penanganan sampah tajam membutuhkan perlakuan khusus, mulai dari alat pelindung hingga proses pemilahan yang lebih aman.
Respons Cepat dan Kerja Malam Petugas
DLH memastikan pengangkutan sampah dilakukan segera setelah perayaan berakhir. Proses pembersihan dimulai sekitar satu jam setelah pergantian tahun, yakni sejak pukul 01.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Seluruh sampah kemudian langsung diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti mulai pukul 05.00 WIB.
Baca juga: Arah Baru Menteri Kebudayaan Thailand
Langkah cepat ini ditujukan untuk memastikan aktivitas kota kembali normal pada pagi hari. Jalan-jalan utama dan kawasan publik dibersihkan sebelum arus kendaraan dan aktivitas warga kembali meningkat.
Indikasi Perubahan Perilaku Publik
Meski jumlah sampah tergolong besar, DLH menilai kondisi di beberapa titik menunjukkan perkembangan positif. Kawasan Jalan Asia Afrika, misalnya, tetap padat oleh pengunjung, namun tidak menghasilkan lonjakan sampah yang signifikan.
“Asia Afrika itu sangat padat, tapi sampahnya relatif terkendali. Artinya, kesadaran masyarakat mulai terbentuk,” kata Darto. Ia mengapresiasi warga dan wisatawan yang menjaga ketertiban dan kebersihan selama perayaan berlangsung.
Catatan untuk Tata Kelola Kota
Fenomena sampah Tahun Baru Bandung kembali menegaskan pentingnya pengelolaan ruang publik dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Penurunan tipis volume sampah menjadi sinyal awal bahwa perubahan perilaku memungkinkan, tetapi belum cukup untuk mengatasi persoalan struktural pengelolaan sampah perkotaan.
Ke depan, tantangan tidak hanya pada penanganan pascakegiatan, tetapi juga pada upaya pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk pembatasan plastik sekali pakai dan pengelolaan pedagang kaki lima di kawasan keramaian.
Volume sampah Tahun Baru Bandung 2026 stabil di 63 ton, memberi sinyal awal tumbuhnya kesadaran warga menjaga ruang kota. (Red/Asep Chandra)




