Program MBG Disorot: Ganggu Belajar, Guru Jadi “Karyawan” SPPG?
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Program makan bergizi gratis (MBG) yang digadang sebagai solusi peningkatan gizi siswa kini mulai menuai kritik dari lapangan. Sejumlah sekolah mengeluhkan implementasinya justru mengganggu proses belajar mengajar—bahkan membebani guru di luar tugas utamanya.
Sorotan ini mencuat setelah SMAN 1 Ciemas menyampaikan evaluasi pelaksanaan program tersebut. Pihak sekolah menilai, distribusi makanan di lingkungan sekolah belum tertata optimal dan berpotensi mengganggu fokus pembelajaran di kelas.
“Guru akhirnya ikut mengatur pembagian makanan. Waktu belajar jadi terpotong,” ujar salah satu tenaga pengajar yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah program sebesar ini benar-benar disiapkan dengan sistem yang matang?
Beban Baru di Balik Program Populer
Secara konsep, program makan bergizi gratis memang sulit ditolak. Asupan gizi yang cukup diyakini dapat meningkatkan konsentrasi dan performa siswa di kelas.
Namun di lapangan, pelaksanaannya tidak sesederhana itu.
Distribusi makanan membutuhkan koordinasi ketat—mulai dari penerimaan, pembagian, hingga pengawasan. Tanpa tenaga khusus, tugas-tugas ini sering kali “jatuh” ke guru dan pihak sekolah.
Di beberapa kasus, proses distribusi bahkan memakan waktu 30 hingga 60 menit, yang seharusnya digunakan untuk kegiatan belajar.
Akibatnya, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga merangkap sebagai pengatur logistik.
Kualitas Pembelajaran Jadi Taruhan
Ketika waktu belajar tergerus, dampaknya tidak bisa dianggap sepele.
Guru yang seharusnya fokus pada materi pelajaran, pembimbingan, dan evaluasi siswa kini harus membagi perhatian. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran.
“Kalau terus seperti ini, yang dikorbankan bukan hanya waktu, tapi juga kualitas belajar siswa,” kata seorang pengamat pendidikan.
Di sinilah dilema muncul. Program makan bergizi gratis penting untuk kesehatan siswa, tetapi jika pelaksanaannya mengganggu proses belajar, maka tujuan pendidikan bisa ikut terdampak.
Masalah Bukan di Program, Tapi Eksekusi
Sejumlah pihak menilai persoalan utama bukan terletak pada programnya, melainkan pada desain implementasinya.
Tanpa sistem distribusi yang jelas—termasuk tenaga khusus dan manajemen waktu—program berpotensi menjadi beban tambahan bagi sekolah.
Idealnya, guru tidak dilibatkan dalam urusan teknis seperti pembagian makanan. Tanpa pemisahan peran yang tegas, risiko terganggunya kegiatan belajar akan terus berulang.
Jangan Abaikan Suara Sekolah
Apa yang terjadi di SMAN 1 Ciemas bisa jadi hanya permukaan dari persoalan yang lebih luas.
Jika tidak segera dievaluasi, keluhan serupa berpotensi muncul di banyak sekolah lain—terutama yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Mendengar suara dari lapangan menjadi kunci agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar berjalan efektif tanpa efek samping.
Program makan bergizi gratis adalah langkah besar dengan tujuan yang tidak diragukan. Namun tanpa perencanaan teknis yang matang, program ini bisa menimbulkan masalah baru di ruang kelas.
Di tengah upaya meningkatkan gizi siswa, satu hal tidak boleh dilupakan: kualitas pembelajaran tetap harus jadi prioritas utama.
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar