Hadis Nabi tentang Sibuk Dunia, Tapi Hati Tidak Pernah Tenang
- account_circle redaktur
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi duduk sendirian di tengah kesibukan kota.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam masih sibuk memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Banyak orang hari ini terlihat produktif, aktif, bahkan sukses di mata orang lain. Namun diam-diam, hati terasa lelah dan sulit tenang. Dalam Islam, keadaan seperti itu ternyata pernah disinggung Rasulullah SAW melalui hadis tentang sibuk dunia dan hilangnya ketentraman hati.
Hadis Nabi tentang orang yang terlalu mengejar dunia ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Apalagi di era media sosial, ketika manusia mudah membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain hampir setiap hari.
Semua terlihat harus cepat.
Harus berhasil.
Harus terlihat baik-baik saja.
Padahal belum tentu hati ikut tenang.
Rasulullah Pernah Mengingatkan tentang Dunia yang Memenuhi Pikiran
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.”
(HR. Ibnu Majah)
Sebaliknya, Rasulullah melanjutkan:
“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat utamanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini sering membuat banyak orang berhenti sejenak.
Karena kenyataannya memang begitu.
Ada orang yang punya banyak hal, tetapi tetap gelisah. Ada pula yang hidup sederhana, namun wajahnya terlihat lebih tenang.
Sibuk Tidak Selalu Salah, Tetapi Hati Tetap Perlu Dijaga
Islam tidak melarang manusia bekerja keras. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang aktif, disiplin, dan bertanggung jawab.
Namun masalah mulai muncul ketika dunia memenuhi seluruh isi kepala manusia.
Sedikit demi sedikit.
Awalnya hanya ingin hidup lebih baik. Lalu mulai sulit berhenti bekerja. Setelah itu, hati terus gelisah kalau tidak membuka ponsel atau memikirkan target berikutnya.
Bahkan saat berkumpul bersama keluarga, pikiran masih sibuk mengejar hal lain.
Di titik itu, tubuh mungkin sedang beristirahat.
Tetapi hati tidak pernah benar-benar tenang.
Ketika Dunia Menjadi Ukuran Segalanya
Hari ini, ukuran bahagia sering berubah menjadi angka.
Gaji.
Followers.
Jabatan.
Pencapaian.
Dan tanpa sadar, banyak orang mulai mengukur harga dirinya dari hal-hal tersebut.
Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini sederhana. Namun maknanya dalam sekali.
Sebab manusia modern sering mencari ketenangan di tempat yang salah. Ada yang mengejarnya lewat hiburan tanpa henti. Ada yang mencoba menenangkan diri dengan terus bekerja sampai lupa istirahat.
Tetapi rasa kosong itu tetap muncul.
Kadang justru saat malam mulai sunyi.
Banyak Orang Terlihat Bahagia, Padahal Diam-Diam Lelah
Ada fenomena yang cukup terasa hari ini.
Seseorang bisa terlihat sangat ceria di media sosial, tetapi diam-diam mengalami kelelahan mental. Ada yang tampak sukses, namun sulit tidur karena pikirannya tidak pernah berhenti bekerja.
Sebagian bahkan merasa bersalah ketika sedang santai.
Seolah hidup harus terus berlari.
Dan mungkin inilah yang dimaksud Rasulullah ketika dunia menjadi tujuan utama. Hati perlahan kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar hal yang tidak pernah benar-benar selesai.
Target selesai satu.
Muncul target berikutnya.
Begitu terus.
Rasulullah Mengajarkan Keseimbangan Hidup
Menariknya, Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam justru mendorong manusia bekerja, mencari rezeki halal, dan hidup bermanfaat.
Tetapi ada satu hal penting yang harus dijaga.
Hati jangan sampai diperbudak dunia.
Karena ketika hati terlalu bergantung pada urusan dunia, ketenangan menjadi mahal. Pikiran mudah panik. Hidup terasa sempit meski rezeki bertambah.
Sebaliknya, orang yang hatinya dekat dengan Allah biasanya lebih mampu menghadapi tekanan hidup.
Bukan karena masalahnya sedikit.
Tetapi karena hatinya tidak menggantung sepenuhnya pada dunia.
Saat Hati Mulai Lelah, Manusia Biasanya Baru Sadar
Kadang manusia baru menyadari pentingnya ketenangan setelah terlalu lama lelah.
Ada orang yang masih menatap layar laptop hingga larut malam, sementara secangkir kopi di sampingnya sudah dingin sejak tadi.
Ada yang baru sadar ketika tubuh mulai sakit. Dan ada yang tersadar setelah kehilangan waktu bersama keluarga. Ada juga yang tiba-tiba merasa kosong meski semua target tercapai.
Di momen seperti itu, sebagian orang mulai kembali mencari makna hidup.
Mereka mulai mengurangi kebisingan.
Mulai menikmati waktu tanpa layar.
Mulai kembali berdoa dengan lebih tenang.
Dan mungkin, di situlah hati perlahan menemukan jalannya pulang.
Dunia memang penting untuk dijalani. Tetapi Rasulullah mengingatkan satu hal yang sering dilupakan manusia modern: ketika dunia memenuhi seluruh isi kepala, hati perlahan kehilangan ruang untuk merasa tenang. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar