Tak Lagi Cuma Sate, Daging Kurban Kini Diolah Jadi Burger hingga Korean BBQ
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi aneka olahan daging kurban modern seperti burger sapi, shawarma, kebab homemade, rice bowl sambal matah, dan Korean BBQ saat Idul Adha.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Idul Adha identik dengan sate, gulai, dan tongseng. Namun dalam beberapa tahun terakhir, olahan daging kurban mulai berubah mengikuti gaya hidup generasi muda. Kini, olahan daging kurban modern seperti burger sapi kurban, shawarma, rice bowl sambal matah, hingga Korean BBQ mulai ramai muncul di rumah-rumah, konten TikTok, sampai acara bakar-bakaran keluarga.
Fenomena ini bukan sekadar tren kuliner biasa. Banyak keluarga mulai mencari cara baru agar daging kurban terasa lebih praktis, kekinian, dan cocok untuk semua usia. Bahkan sebagian anak muda kini lebih antusias membuat kebab homemade dibanding menyiapkan tusukan sate tradisional.
Dan suasana dapur saat Idul Adha pun terasa berbeda.
Bunyi blender bumbu bercampur suara notifikasi resep TikTok. Ada yang sibuk memotong daging tipis-tipis ala yakiniku. Ada juga yang diam-diam sudah menyiapkan saus burger sejak malam takbiran.
Di beberapa rumah, kardus bekas pembagian daging kurban bahkan belum sempat dipindahkan ketika aroma bawang putih, lada hitam, dan mentega sudah mulai memenuhi dapur kecil mereka.
Dan daging segar memang susah ditolak.
Daging Kurban Kini Masuk Era Kuliner Modern
Perubahan pola konsumsi masyarakat ikut mendorong munculnya berbagai kreasi olahan daging kurban. Jika dulu sebagian besar daging langsung dimasak gulai atau sate, sekarang banyak keluarga mencoba menu yang lebih fleksibel dan mudah dibagikan.
Burger Daging Kurban
Burger menjadi salah satu menu paling populer. Daging sapi kurban digiling lalu dibentuk patty tebal dengan tambahan lada hitam dan bawang putih.
Hasilnya terasa lebih juicy karena banyak keluarga memakai daging segar yang baru dipotong beberapa jam sebelumnya.
Beberapa anak muda bahkan mulai membuat “smash burger kurban” dengan roti brioche dan saus racikan sendiri. Di media sosial, menu seperti ini sering mendapat respons tinggi karena tampilannya menarik dan mudah viral.
Ada juga yang salah memilih bagian daging untuk steak dan burger karena terlalu semangat mengikuti tutorial chef luar negeri di YouTube. Tetapi justru bagian itu yang kemudian jadi bahan cerita lucu saat makan bersama keluarga.
Kadang eksperimennya malah lebih ramai daripada makannya.
Steak Sapi Kurban
Sebagian keluarga kini memilih memasak steak sederhana di rumah. Daging sapi kurban dipotong tebal lalu dimasak medium dengan butter dan rosemary.
Menariknya, banyak orang baru sadar bahwa kualitas daging kurban segar ternyata cukup cocok untuk steak rumahan.
Kadang yang bikin ramai justru bukan makanannya. Tetapi proses masaknya. Asap tipis dari teflon panas, suara daging menyentuh mentega cair, lalu anggota keluarga mulai berdiri mengelilingi dapur sambil mencicipi satu potong kecil lebih dulu.
Sebagian orang bahkan akan membandingkan hasil steak kurban mereka di grup keluarga WhatsApp. Ada yang memotret tingkat kematangan daging dari jarak sangat dekat, lalu mengirimnya sambil menulis, “Medium rare gagal total.”
Korean BBQ dan Shawarma Mulai Jadi Favorit Anak Muda
Pengaruh budaya kuliner Korea dan Timur Tengah juga mulai terlihat saat Idul Adha.
Korean barbecue Kurban
Menu Korean BBQ menjadi pilihan karena mudah dibuat bersama-sama. Daging diiris tipis lalu dipanggang di atas grill portable sambil disantap dengan selada dan sambal.
Model makan seperti ini dianggap lebih santai dan terasa hangat untuk keluarga besar.
Di beberapa rumah, anak-anak bahkan lebih sibuk merekam proses memanggang daging untuk Instagram Story dibanding benar-benar makan di meja utama.
Dan itu memang terjadi sekarang.
Ada juga yang mendadak membeli grill portable sehari sebelum Idul Adha hanya karena tidak ingin kalah estetik dari unggahan teman-temannya di media sosial.
Shawarma ala Timur Tengah
Shawarma juga mulai populer karena cocok memakai irisan daging sapi maupun kambing kurban. Bumbu rempah khas Timur Tengah membuat aroma daging terasa lebih kuat namun tetap segar.
Biasanya shawarma disajikan bersama tortilla, mayones bawang, dan kentang goreng.
Sementara itu, Kebab homemade menjadi pilihan praktis untuk stok makanan beberapa hari setelah Idul Adha.
Rice Bowl Sambal Matah hingga Smoked Beef Makin Banyak Dicoba
Selain menu internasional, banyak keluarga mulai menggabungkan cita rasa lokal dengan konsep modern.
Rice bowl Sambal Matah
Rice bowl sambal matah mulai populer karena sederhana namun terasa segar. Daging sapi kurban dipotong kecil lalu dimasak lada hitam atau teriyaki sebelum disajikan dengan sambal matah khas Bali.
Menu ini cukup disukai karena tidak terlalu berat seperti gulai santan.
Smoked beef dari Daging Kurban
Sebagian pecinta kuliner mulai mencoba membuat smoked beef sendiri di rumah memakai alat sederhana. Daging diasapi perlahan selama beberapa jam agar aroma kayunya lebih terasa.
Menariknya, ada yang rela begadang semalaman hanya untuk menjaga bara asap tetap stabil. Kadang sambil ngopi. Kadang sambil membuka YouTube tutorial yang dipercepat 2x.
Dan malam Idul Adha memang sering jadi panjang.
Idul Adha Kini Bukan Hanya Tentang Tradisi, Tetapi Juga Kreativitas
Perubahan tren olahan daging kurban menunjukkan bahwa tradisi terus bergerak mengikuti zaman. Generasi muda tetap menjaga semangat berbagi dan kebersamaan, tetapi mereka menghadirkannya dengan cara yang lebih kreatif dan dekat dengan keseharian saat ini.
Sate dan gulai mungkin tetap menjadi legenda meja makan Idul Adha. Namun burger kurban, Korean BBQ, hingga shawarma tampaknya mulai mengambil tempat di hati generasi baru.
Dan mungkin beberapa tahun lagi, aroma bakaran Idul Adha bukan cuma identik dengan arang sate.
Tetapi juga dengan suara grill listrik, kamera ponsel yang merekam asap tipis, dan anak muda yang berkata:
“Sebentar, jangan dimakan dulu. Foto dulu buat upload.”
Tradisi tidak hilang saat berubah bentuk. Kadang ia justru hidup lebih lama ketika berhasil masuk ke meja makan generasi berikutnya. (ARR)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar