Bukan Sekadar Gedung, KDMP Tasikmalaya Siapkan Armada Logistik untuk Desa
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Armada truk Fuso dan kendaraan operasional Koperasi Merah Putih yang disiapkan untuk mendukung distribusi ekonomi desa di Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Koperasi Merah Putih di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya ternyata tidak hanya membangun gedung koperasi. Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) juga menyiapkan armada logistik berupa truk Fuso, jeep bak terbuka 4×4, hingga motor roda tiga untuk mendukung distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat rantai pasok berbasis desa agar koperasi tidak hanya berdiri secara administratif, tetapi benar-benar mampu menjalankan fungsi ekonomi secara mandiri.
Hingga akhir Mei 2026, pembangunan KDMP terus berjalan. Dari target 302 koperasi di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, sekitar 80 koperasi telah rampung dibangun dan menjadi prioritas penerima sarana operasional.
Di Balik Gedung Koperasi, Ada Sistem Logistik yang Sedang Dibangun
Di halaman Makodim 0612/Tasikmalaya, puluhan kendaraan operasional terlihat berjejer rapi. Warna kendaraan yang masih baru tampak kontras dengan lapangan upacara yang sehari-hari lebih identik dengan aktivitas militer.
Beberapa kepala desa terlihat berkeliling mengamati kendaraan yang baru tiba. Ada yang memeriksa bak angkut, ada pula yang melihat kapasitas kabin dan kondisi ban kendaraan. Pemandangan tersebut memberi gambaran bahwa program ini tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik koperasi, tetapi juga kesiapan operasional setelah koperasi mulai berjalan.
Komandan Kodim 0612/Tasikmalaya Letkol Czi M. Imvan Ibrahim menjelaskan bahwa kendaraan yang disiapkan akan menjadi inventaris koperasi dan digunakan untuk operasional jangka panjang.
Saat ini, sebanyak 57 unit truk Fuso telah didistribusikan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan 50 unit jeep bak terbuka 4×4, dengan 15 unit di antaranya telah tiba di Tasikmalaya.
Tidak berhenti di situ, koperasi juga akan memperoleh kendaraan pendukung berupa motor roda tiga untuk membantu mobilitas di tingkat desa.
Mengapa Harus Jeep 4×4?
Pemilihan kendaraan 4×4 bukan tanpa alasan.
Kabupaten Tasikmalaya memiliki banyak wilayah perbukitan, jalan menanjak, dan akses desa yang tidak selalu mudah dijangkau kendaraan biasa.
Karena itu, kendaraan operasional harus menyesuaikan kondisi geografis lapangan.
Bagi masyarakat perkotaan, jeep 4×4 mungkin identik dengan kendaraan petualangan. Namun bagi desa-desa yang berada di daerah perbukitan, kendaraan seperti ini justru menjadi alat kerja yang sangat penting.
Armada tersebut nantinya akan membantu mobilitas menuju lokasi koperasi, gudang distribusi, hingga wilayah-wilayah yang selama ini membutuhkan akses transportasi yang lebih kuat.

Kendaraan operasional Koperasi Merah Putih yang disiapkan untuk mendukung distribusi ekonomi desa di Tasikmalaya.
Truk Fuso untuk Beras, Pupuk, Air Bersih hingga Gas
Menariknya, 57 unit truk Fuso yang telah didistribusikan bukan digunakan untuk mengangkut material pembangunan.
Sebaliknya, kendaraan tersebut disiapkan untuk mendukung aktivitas ekonomi setelah koperasi beroperasi penuh.
Nantinya, armada tersebut akan mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat seperti beras, pupuk, air bersih, gas, dan kebutuhan pokok lainnya.
Dengan armada sendiri, koperasi dapat mengurangi ketergantungan terhadap jasa angkutan pihak ketiga.
Konsep ini sekaligus membuka peluang efisiensi biaya distribusi yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama ekonomi pedesaan.
Di sejumlah desa, keberadaan kendaraan operasional koperasi mulai menjadi bahan obrolan warga. Sebagian berharap armada tersebut dapat membantu distribusi hasil pertanian yang selama ini bergantung pada angkutan sewaan.
Tidak sedikit petani yang berharap biaya pengangkutan hasil panen dapat ditekan ketika koperasi mulai beroperasi penuh.
Gudang Besar dan Harapan Baru bagi Desa
Selain kendaraan, setiap KDMP juga dilengkapi gudang penyimpanan berukuran besar.
Gudang tersebut dibangun di bagian belakang bangunan koperasi dan menggunakan folding gate setinggi 4 meter dengan lebar sekitar 6 meter.
Ukuran tersebut memungkinkan kendaraan besar seperti truk Fuso masuk langsung ke area penyimpanan.
Keberadaan gudang dan armada logistik menunjukkan bahwa koperasi yang dibangun bukan sekadar tempat administrasi. Sebaliknya, pemerintah sedang menyiapkan sistem distribusi yang lebih terintegrasi dari tingkat desa.
Program KDMP sendiri merupakan salah satu program prioritas ekonomi kerakyatan yang mendapat dukungan pemerintah pusat dan saat ini terus dikembangkan di berbagai daerah, termasuk Tasikmalaya.
Mampukah Menjadi Penggerak Ekonomi Baru?
Jika seluruh sistem ini berjalan sesuai rencana, dampaknya tidak hanya dirasakan koperasi.
Petani dapat memperoleh akses distribusi yang lebih cepat.
Pelaku UMKM berpeluang menekan biaya pengiriman.
Masyarakat juga berpotensi memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih efisien.
Pertanyaannya kemudian menarik untuk diajukan.
Jika koperasi desa memiliki armada sendiri, seberapa besar biaya distribusi yang selama ini membebani petani dapat dikurangi?
Dan yang tidak kalah penting, mampukah model koperasi berbasis logistik ini menjadi penggerak ekonomi baru di pedesaan Tasikmalaya?
Jawabannya mungkin baru terlihat dalam beberapa tahun ke depan. Namun fondasinya mulai dibangun hari ini.
Tentu tidak semua tantangan akan selesai hanya dengan hadirnya kendaraan baru. Jalan rusak, cuaca, serta kondisi geografis tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi di banyak wilayah.
Namun setidaknya, salah satu langkah awal untuk memperkuat rantai distribusi desa mulai terlihat lebih nyata.
Truk, jeep, dan gudang hanyalah alat.
Nilai sesungguhnya baru akan terlihat ketika hasil panen lebih cepat sampai ke pasar, pupuk tiba tepat waktu, dan warga desa benar-benar merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah koperasi tidak diukur dari banyaknya kendaraan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu dirasakan masyarakat yang dilayaninya. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar