Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • visibility 82
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Ketika azan maghrib berkumandang di banyak tempat, sebagian orang sudah duduk bersama keluarga di meja makan. Namun bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Singapura, momen berbuka puasa sering datang di tengah pekerjaan yang belum selesai.

Itulah yang dialami Astuti, pekerja migran asal Cilacap, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua puluh tahun bekerja di Singapura, ia menjalani puasa sebagai pekerja migran Singapura dengan berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Dalam banyak cerita puasa pekerja migran di Singapura, kisah Astuti menjadi gambaran nyata bagaimana Ramadan dijalani jauh dari rumah, keluarga, dan suasana kampung halaman.

Maghrib Masih Kerja, Pernah Berbuka dengan Air Taman

Astuti mengingat beberapa momen ketika waktu berbuka tiba, tetapi pekerjaannya belum selesai.

Ya sampai saya sering maghrib masih kerja atau di luar bersama majikan. Pernah juga saya membatalkan puasa dengan minum air taman,” kata Astuti kepada redaksi albadarpost.com melalui pesan WhatsApp.

Peristiwa itu terjadi saat ia menemani majikan beraktivitas di luar rumah. Ketika rasa haus tidak tertahankan, ia akhirnya meminum air dari keran taman.

Bagi sebagian orang, situasi tersebut mungkin terdengar berat. Namun bagi Astuti, pengalaman itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup sebagai pekerja migran.

Tidur Hanya Dua Jam, Lalu Sahur dan Bekerja Lagi

Tantangan puasa di negeri orang tidak berhenti pada waktu berbuka yang tidak menentu. Astuti juga harus menjalani jadwal kerja yang panjang setiap hari.

Ia bercerita bahwa pekerjaannya sering selesai sangat larut malam.

Kadang selesai kerja itu jam 11 malam. Setelah mandi salat baru bisa tidur jam 1 dini hari dan jam 3 nya harus bangun sahur. Setelah salat subuh harus mulai kerja lagi,” ujarnya.

Dengan waktu istirahat yang sangat terbatas, Astuti tetap menjalani puasa seperti biasa. Ia mengaku tubuhnya akhirnya terbiasa setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut.

Puluhan Kali Lebaran Tanpa Pulang Kampung

Tidak hanya Ramadan yang ia jalani jauh dari keluarga. Astuti juga harus melewati banyak Hari Raya Idul Fitri di Singapura.

Selama dua dekade bekerja di sana, ia telah merayakan Lebaran berkali-kali tanpa pulang ke kampung halaman.

Dan saya sudah terbiasa puluhan kali lebaran di sini,” katanya.

Momen Lebaran sering menjadi saat yang paling menguji perasaan para pekerja migran. Ketika keluarga berkumpul di rumah, mereka justru berada jauh di negeri orang.

Rindu Keluarga yang Selalu Datang

Meski sudah terbiasa, Astuti mengaku rasa rindu tetap muncul terlebih tiap Ramadan. Ia sering membayangkan suasana sahur dan berbuka bersama keluarga di rumah.

Namun ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada.

Pasti kangen keluarga, tapi ini lah takdir Tuhan yang harus saya jalani,” ujarnya.

Bagi Astuti, bekerja di Singapura adalah jalan hidup yang ia tempuh demi membantu keluarga di kampung halaman.

Ramadan Para Perantau

Cerita Astuti sebenarnya hanya satu dari banyak kisah puasa pekerja migran di Singapura. Banyak pekerja migran Indonesia menjalani Ramadan dengan tantangan yang hampir serupa.

Sebagian harus bekerja hingga malam. Sebagian lagi menjalani puasa dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.

Namun di balik semua itu, mereka tetap bertahan karena memiliki harapan untuk masa depan keluarga.

Kebersamaan yang Menguatkan

Walaupun jauh dari keluarga, para pekerja migran sering menemukan kebersamaan baru di negeri orang. Mereka berbagi makanan saat berbuka dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Kadang mereka juga mengadakan buka puasa bersama pada hari libur. Momen sederhana itu sering membuat Ramadan terasa lebih hangat.

Kebersamaan tersebut menjadi cara untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menambah semangat menjalani kehidupan di perantauan.


Cerita puasa pekerja migran di Singapura memperlihatkan sisi lain dari kehidupan para perantau. Kisah Astuti menunjukkan bahwa Ramadan di negeri orang sering dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan kerinduan.

Namun di balik semua itu, para pekerja migran tetap menjalani puasa dengan kesabaran dan keteguhan hati.

Bagi mereka, setiap hari kerja dan setiap Ramadan yang dijalani jauh dari rumah merupakan bagian dari perjuangan untuk masa depan keluarga. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi praktik gratifikasi dalam pengadaan pemerintah berupa pemberian uang dan fasilitas kepada pejabat negara.

    Gratifikasi Pengadaan: Ancaman 20 Tahun Penjara

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 92
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Gratifikasi pengadaan pemerintah menjadi sorotan serius karena praktik ini berkaitan langsung dengan potensi suap tender dan korupsi pengadaan barang dan jasa. Gratifikasi dalam proyek pemerintah mencakup pemberian uang, barang, diskon, komisi, hingga fasilitas kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang berkaitan dengan jabatan. Karena itu, setiap bentuk gratifikasi pengadaan yang terhubung […]

  • serangan AS Venezuela

    AS Umumkan Operasi Militer di Venezuela

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Presiden AS mengklaim operasi militer di Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro, memicu ketegangan kawasan. albadarpost.com, BERITA DUNIA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan berskala besar ke ibu kota Venezuela, Caracas. Klaim ini disertai pernyataan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negaranya. Jika benar, […]

  • Tasik Open 2026

    Karateka dari Yogya hingga Bandung Ramaikan Tasik Open 2026

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 52
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Ajang Tasik Open 2026 langsung mencuri perhatian publik olahraga bela diri di Priangan Timur. Sebanyak 396 peserta karate dari berbagai daerah memadati GOR Sukapura pada Sabtu (16/5/2026) untuk bertanding dalam turnamen yang baru pertama kali digelar tersebut. Tasik Open 2026 bukan hanya menghadirkan persaingan di atas matras. Turnamen ini juga menjadi […]

  • Ilustrasi Joko Widodo dan dinamika hubungan politik dengan PDI Perjuangan menjelang kontestasi politik 2029.

    Di Balik Sindiran Djarot, Ada Pertarungan Besar Menuju 2029

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Hubungan Jokowi PDIP kembali menjadi sorotan setelah rencana safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke sejumlah daerah memicu respons dari Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat. Di tengah dinamika politik nasional, perdebatan ini tidak lagi sekadar soal kunjungan ke daerah. Banyak pihak melihatnya sebagai bagian dari pertarungan pengaruh politik […]

  • Final PSG vs Arsenal

    Final PSG vs Arsenal: Bukan Cuma Dembélé dan Saka, Rice dan Vitinha Bisa Tentukan Juara

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 41
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Ketika publik membicarakan Final PSG vs Arsenal, perhatian hampir otomatis tertuju pada para pencetak gol. Namun partai puncak yang berlangsung pada 30 Mei 2026 ini menyimpan cerita yang lebih menarik. Di balik gemerlap trofi dan sorotan kamera, terdapat dua duel yang berpotensi menentukan arah pertandingan: Dembélé vs Saka di lini depan […]

  • MUI imbau masyarakat menunggu sidang isbat 1 Syawal

    MUI: Lebaran 2026 Berpotensi Tak Serentak, Tunggu Sidang Isbat 1 Syawal

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Isu Lebaran 2026 berbeda mulai menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam agar tidak terburu-buru menentukan hari raya. Menurut MUI, potensi Lebaran 2026 berbeda bisa terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah. Oleh karena itu, masyarakat diminta menunggu hasil sidang isbat pemerintah untuk memastikan tanggal resmi […]

expand_less