Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • visibility 51
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Ketika azan maghrib berkumandang di banyak tempat, sebagian orang sudah duduk bersama keluarga di meja makan. Namun bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Singapura, momen berbuka puasa sering datang di tengah pekerjaan yang belum selesai.

Itulah yang dialami Astuti, pekerja migran asal Cilacap, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua puluh tahun bekerja di Singapura, ia menjalani puasa sebagai pekerja migran Singapura dengan berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Dalam banyak cerita puasa pekerja migran di Singapura, kisah Astuti menjadi gambaran nyata bagaimana Ramadan dijalani jauh dari rumah, keluarga, dan suasana kampung halaman.

Maghrib Masih Kerja, Pernah Berbuka dengan Air Taman

Astuti mengingat beberapa momen ketika waktu berbuka tiba, tetapi pekerjaannya belum selesai.

Ya sampai saya sering maghrib masih kerja atau di luar bersama majikan. Pernah juga saya membatalkan puasa dengan minum air taman,” kata Astuti kepada redaksi albadarpost.com melalui pesan WhatsApp.

Peristiwa itu terjadi saat ia menemani majikan beraktivitas di luar rumah. Ketika rasa haus tidak tertahankan, ia akhirnya meminum air dari keran taman.

Bagi sebagian orang, situasi tersebut mungkin terdengar berat. Namun bagi Astuti, pengalaman itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup sebagai pekerja migran.

Tidur Hanya Dua Jam, Lalu Sahur dan Bekerja Lagi

Tantangan puasa di negeri orang tidak berhenti pada waktu berbuka yang tidak menentu. Astuti juga harus menjalani jadwal kerja yang panjang setiap hari.

Ia bercerita bahwa pekerjaannya sering selesai sangat larut malam.

Kadang selesai kerja itu jam 11 malam. Setelah mandi salat baru bisa tidur jam 1 dini hari dan jam 3 nya harus bangun sahur. Setelah salat subuh harus mulai kerja lagi,” ujarnya.

Dengan waktu istirahat yang sangat terbatas, Astuti tetap menjalani puasa seperti biasa. Ia mengaku tubuhnya akhirnya terbiasa setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut.

Puluhan Kali Lebaran Tanpa Pulang Kampung

Tidak hanya Ramadan yang ia jalani jauh dari keluarga. Astuti juga harus melewati banyak Hari Raya Idul Fitri di Singapura.

Selama dua dekade bekerja di sana, ia telah merayakan Lebaran berkali-kali tanpa pulang ke kampung halaman.

Dan saya sudah terbiasa puluhan kali lebaran di sini,” katanya.

Momen Lebaran sering menjadi saat yang paling menguji perasaan para pekerja migran. Ketika keluarga berkumpul di rumah, mereka justru berada jauh di negeri orang.

Rindu Keluarga yang Selalu Datang

Meski sudah terbiasa, Astuti mengaku rasa rindu tetap muncul terlebih tiap Ramadan. Ia sering membayangkan suasana sahur dan berbuka bersama keluarga di rumah.

Namun ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada.

Pasti kangen keluarga, tapi ini lah takdir Tuhan yang harus saya jalani,” ujarnya.

Bagi Astuti, bekerja di Singapura adalah jalan hidup yang ia tempuh demi membantu keluarga di kampung halaman.

Ramadan Para Perantau

Cerita Astuti sebenarnya hanya satu dari banyak kisah puasa pekerja migran di Singapura. Banyak pekerja migran Indonesia menjalani Ramadan dengan tantangan yang hampir serupa.

Sebagian harus bekerja hingga malam. Sebagian lagi menjalani puasa dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.

Namun di balik semua itu, mereka tetap bertahan karena memiliki harapan untuk masa depan keluarga.

Kebersamaan yang Menguatkan

Walaupun jauh dari keluarga, para pekerja migran sering menemukan kebersamaan baru di negeri orang. Mereka berbagi makanan saat berbuka dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Kadang mereka juga mengadakan buka puasa bersama pada hari libur. Momen sederhana itu sering membuat Ramadan terasa lebih hangat.

Kebersamaan tersebut menjadi cara untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menambah semangat menjalani kehidupan di perantauan.


Cerita puasa pekerja migran di Singapura memperlihatkan sisi lain dari kehidupan para perantau. Kisah Astuti menunjukkan bahwa Ramadan di negeri orang sering dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan kerinduan.

Namun di balik semua itu, para pekerja migran tetap menjalani puasa dengan kesabaran dan keteguhan hati.

Bagi mereka, setiap hari kerja dan setiap Ramadan yang dijalani jauh dari rumah merupakan bagian dari perjuangan untuk masa depan keluarga. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inspirasi

    Perjalanan Inspiratif Perempuan Sederhana Menjadi CEO Teknologi

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kesuksesan dalam dunia bisnis kerap dikaitkan dengan pendidikan tinggi dan modal besar. Namun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Seorang pengusaha wanita asal China membuktikan bahwa kerja keras dan kemauan belajar mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Tokoh tersebut adalah Zhou Qunfei, pendiri dan CEO Lens Technology. Perusahaan yang ia bangun kini menjadi pemasok […]

  • Foto aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Cikurubuk dengan latar bangunan kios tradisional, simbol ekonomi kerakyatan.

    Strategi Pemkot dalam Upaya Revitalisasi Pasar Cikurubuk

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 52
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pasar tradisional merupakan ruang vital dalam struktur ekonomi kerakyatan Indonesia. Ketika masyarakat berbelanja di pasar, roda ekonomi lokal bergerak, keterlibatan UMKM meningkat, dan jalinan sosial antarwarga semakin kuat. Di Kota Tasikmalaya, Pasar Cikurubuk merupakan salah satu pusat perdagangan lokal yang telah membentuk kehidupan ekonomi warga selama puluhan tahun. Namun dalam beberapa waktu […]

  • Ilustrasi reflektif umat Islam dalam memahami makna Kuntum Khaira Ummah sebagai umat terbaik dalam Al-Qur’an.

    Kuntum Khaira Ummah: Umat Terbaik atau Sekadar Klaim?

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 33
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Kuntum Khaira Ummah kembali jadi pengingat. Istilah yang berarti umat terbaik dalam Islam ini sering dikutip dalam ceramah, status media sosial, hingga forum diskusi. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara jujur: apakah kuntum khaira ummah masih kita jalankan, atau hanya kita banggakan? Surah Ali ‘Imran ayat 110 memberi […]

  • Ilustrasi pasukan militer Israel dengan latar konflik Timur Tengah terkait data warga Asia Tenggara yang bertugas di IDF.

    Warga Asia Tenggara Masuk Tentara Israel, Ancaman Kawasan?

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 47
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA — Fenomena Warga Asia Tenggara di Tentara Israel mulai memantik perhatian publik dan analis keamanan regional. Data terbaru menunjukkan ratusan warga dari kawasan ASEAN tercatat berkhidmat di militer Israel. Kehadiran diaspora Asia Tenggara di angkatan bersenjata Israel, termasuk warga negara ganda di Pasukan Pertahanan Israel, dinilai berpotensi menimbulkan implikasi geopolitik baru, terutama […]

  • Suasana Balai Kota Tasikmalaya dengan spanduk kritik sebagai simbol kekecewaan publik terhadap komunikasi kepemimpinan wali kota.

    Kritik Wali Kota Tasikmalaya dan Ujian Komunikasi Publik

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan yang tertulis, tetapi juga dari cara seorang pemimpin hadir dan merespons warganya. Di Tasikmalaya, kritik wali kota Tasikmalaya kembali mengemuka, kali ini melalui sebuah spanduk yang terpasang di area Balai Kota. Spanduk itu sederhana, namun pesannya tajam: “Wapres Datang Wali Kota Terdepan. Giliran Masyarakat Datang […]

  • Ilustrasi transaksi belanja dengan cashback dan diskon besar ditinjau dari hukum Islam dan fikih muamalah

    Cashback Halal atau Haram? Ini Jawaban Fikihnya

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 92
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pertanyaan tentang hukum cashback semakin sering muncul seiring maraknya promo digital. Banyak Muslim bertanya, apakah cashback dalam Islam itu halal, atau justru mendekati riba dan gharar. Isu diskon besar menurut Islam pun ikut menjadi sorotan, terutama saat promo masif di e-commerce dan layanan digital. Karena itu, rubrik fikih kontemporer ini hadir […]

expand_less