Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • visibility 147
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Ketika azan maghrib berkumandang di banyak tempat, sebagian orang sudah duduk bersama keluarga di meja makan. Namun bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Singapura, momen berbuka puasa sering datang di tengah pekerjaan yang belum selesai.

Itulah yang dialami Astuti, pekerja migran asal Cilacap, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua puluh tahun bekerja di Singapura, ia menjalani puasa sebagai pekerja migran Singapura dengan berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Dalam banyak cerita puasa pekerja migran di Singapura, kisah Astuti menjadi gambaran nyata bagaimana Ramadan dijalani jauh dari rumah, keluarga, dan suasana kampung halaman.

Maghrib Masih Kerja, Pernah Berbuka dengan Air Taman

Astuti mengingat beberapa momen ketika waktu berbuka tiba, tetapi pekerjaannya belum selesai.

Ya sampai saya sering maghrib masih kerja atau di luar bersama majikan. Pernah juga saya membatalkan puasa dengan minum air taman,” kata Astuti kepada redaksi albadarpost.com melalui pesan WhatsApp.

Peristiwa itu terjadi saat ia menemani majikan beraktivitas di luar rumah. Ketika rasa haus tidak tertahankan, ia akhirnya meminum air dari keran taman.

Bagi sebagian orang, situasi tersebut mungkin terdengar berat. Namun bagi Astuti, pengalaman itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup sebagai pekerja migran.

Tidur Hanya Dua Jam, Lalu Sahur dan Bekerja Lagi

Tantangan puasa di negeri orang tidak berhenti pada waktu berbuka yang tidak menentu. Astuti juga harus menjalani jadwal kerja yang panjang setiap hari.

Ia bercerita bahwa pekerjaannya sering selesai sangat larut malam.

Kadang selesai kerja itu jam 11 malam. Setelah mandi salat baru bisa tidur jam 1 dini hari dan jam 3 nya harus bangun sahur. Setelah salat subuh harus mulai kerja lagi,” ujarnya.

Dengan waktu istirahat yang sangat terbatas, Astuti tetap menjalani puasa seperti biasa. Ia mengaku tubuhnya akhirnya terbiasa setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut.

Puluhan Kali Lebaran Tanpa Pulang Kampung

Tidak hanya Ramadan yang ia jalani jauh dari keluarga. Astuti juga harus melewati banyak Hari Raya Idul Fitri di Singapura.

Selama dua dekade bekerja di sana, ia telah merayakan Lebaran berkali-kali tanpa pulang ke kampung halaman.

Dan saya sudah terbiasa puluhan kali lebaran di sini,” katanya.

Momen Lebaran sering menjadi saat yang paling menguji perasaan para pekerja migran. Ketika keluarga berkumpul di rumah, mereka justru berada jauh di negeri orang.

Rindu Keluarga yang Selalu Datang

Meski sudah terbiasa, Astuti mengaku rasa rindu tetap muncul terlebih tiap Ramadan. Ia sering membayangkan suasana sahur dan berbuka bersama keluarga di rumah.

Namun ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada.

Pasti kangen keluarga, tapi ini lah takdir Tuhan yang harus saya jalani,” ujarnya.

Bagi Astuti, bekerja di Singapura adalah jalan hidup yang ia tempuh demi membantu keluarga di kampung halaman.

Ramadan Para Perantau

Cerita Astuti sebenarnya hanya satu dari banyak kisah puasa pekerja migran di Singapura. Banyak pekerja migran Indonesia menjalani Ramadan dengan tantangan yang hampir serupa.

Sebagian harus bekerja hingga malam. Sebagian lagi menjalani puasa dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.

Namun di balik semua itu, mereka tetap bertahan karena memiliki harapan untuk masa depan keluarga.

Kebersamaan yang Menguatkan

Walaupun jauh dari keluarga, para pekerja migran sering menemukan kebersamaan baru di negeri orang. Mereka berbagi makanan saat berbuka dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Kadang mereka juga mengadakan buka puasa bersama pada hari libur. Momen sederhana itu sering membuat Ramadan terasa lebih hangat.

Kebersamaan tersebut menjadi cara untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menambah semangat menjalani kehidupan di perantauan.


Cerita puasa pekerja migran di Singapura memperlihatkan sisi lain dari kehidupan para perantau. Kisah Astuti menunjukkan bahwa Ramadan di negeri orang sering dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan kerinduan.

Namun di balik semua itu, para pekerja migran tetap menjalani puasa dengan kesabaran dan keteguhan hati.

Bagi mereka, setiap hari kerja dan setiap Ramadan yang dijalani jauh dari rumah merupakan bagian dari perjuangan untuk masa depan keluarga. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sajian ikan asin sambal hijau dengan cabai hijau segar yang disukai tamu asing di restoran Indonesia.

    Ikan Asin Sambal Hijau Jadi Favorit Tamu Asing, Chef Bongkar Rahasianya

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 151
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Di tengah banyaknya sajian mewah restoran modern, Ikan Asin Sambal Hijau justru muncul sebagai menu yang mencuri perhatian tamu asing. Banyak yang awalnya ragu mencoba karena aroma khas ikan asin cukup kuat. Namun, setelah mencicipi, tidak sedikit yang akhirnya ketagihan. Fenomena itu mulai terlihat di beberapa restoran Nusantara yang sering menerima wisatawan […]

  • Sukarno Cup Banjar

    Lapangan Torak Banjar Bergemuruh Sambut Sukarno Cup 2026

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 56
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sukarno Cup Banjar 2026, atau Turnamen Bola Voli Putra dalam rangka Bulan Bung Karno, menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan olahraga. Ajang bola voli Banjar, yang diikuti tim-tim dari Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu menjadi panggung persaudaraan, pembinaan atlet muda, sekaligus ruang untuk menumbuhkan semangat sportivitas dan […]

  • Audit K3 Proyek Daerah

    Dua Nyawa Melayang, Audit K3 Banjar Jangan Ditunda

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    albadarpost.com, EDITORIAL – Tragedi robohnya tower saat proses pembongkaran di lingkungan Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kota Banjar yang merenggut dua nyawa pekerja bukan sekadar kabar duka. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan audit K3 proyek daerah secara menyeluruh. Di tengah penyelidikan polisi, pemerintah perlu mengevaluasi sistem keselamatan kerja pada seluruh proyek […]

  • Alam adalah kegelapan

    Alam Adalah Kegelapan, Mengapa Hati Tetap Buta?

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 94
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Alam adalah kegelapan. Kalimat ini mungkin terdengar mengejutkan. Bukankah setiap hari mata menyaksikan cahaya matahari, gemerlap kota, serta keindahan pegunungan dan lautan? Namun, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari melalui Kitab Al-Hikam justru mengajak manusia melihat lebih dalam. Menurut beliau, hakikat alam tidak memiliki cahaya dari dirinya sendiri. Seluruh keberadaan memperoleh makna dan kehidupan […]

  • Pertemuan Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya dengan pengelola lapangan padel bahas izin PBG dan SLF

    Izin Lapangan Padel Tasikmalaya Disepakati, Operasional Tetap Jalan

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polemik izin lapangan padel Tasikmalaya akhirnya menemukan jalan keluar. Isu perizinan padel atau legalitas operasional lapangan padel yang sempat memicu sidak kini mulai mereda. Pemerintah daerah dan pengelola sepakat menjaga stabilitas usaha sekaligus memastikan seluruh proses izin padel Tasikmalaya berjalan sesuai aturan. Pertemuan yang digelar Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya pada […]

  • TNI di Pesantren

    TNI Panjat Kubah Masjid, Santri Terharu

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 114
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – TNI di pesantren menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga Kota Tasikmalaya menjelang Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Namun kali ini, prajurit Yonif TP 939 Macan Putih tidak datang membawa perlengkapan tempur. Sebaliknya, mereka hadir dengan kuas, cat, sapu, dan semangat gotong royong untuk mempercantik lingkungan Pondok Pesantren Sulalatul Huda di Kecamatan Cihideung. […]

expand_less