Syeikh Athaillah: Kesalahan Terbesar Manusia Saat Mencari Allah
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang duduk sendiri di meja kerja malam hari dengan buku-buku berserakan serta tatapan kosong.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Banyak orang mengira iman baru akan tumbuh setelah semua pertanyaan tentang Tuhan berhasil dijawab. Mereka sibuk mengumpulkan bukti, membaca teori, mengamati alam semesta, bahkan mengikuti perdebatan panjang tentang keberadaan Sang Pencipta. Namun, Al-Hikam Syeikh Athaillah justru membalik cara berpikir itu. Menurut ulama besar dalam dunia tasawuf ini, persoalan terbesar manusia bukan kekurangan bukti tentang Allah, melainkan salah memulai perjalanan untuk mengenal-Nya. Di sinilah hikmah Al-Hikam menghadirkan sudut pandang yang tetap relevan, bahkan di tengah banjir informasi dan kecerdasan buatan.
Ketika Akal Dijadikan Tujuan, Bukan Jalan
Bayangkan seorang anak kecil yang menangis di kamar. Ia tidak pernah meminta bukti bahwa ibunya masih ada. Ia yakin sang ibu mendengar, lalu memanggilnya dengan penuh percaya.
Anehnya, ketika dewasa, manusia justru sering meminta bukti bahwa Allah dekat.
Syeikh Ibnu Athaillah mengkritik cara berpikir tersebut melalui salah satu hikmah paling terkenal dalam Kitab Al-Hikam.
شتّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ
“Sangat berbeda antara orang yang menjadikan Allah sebagai petunjuk untuk memahami segala sesuatu dengan orang yang menjadikan segala sesuatu sebagai petunjuk untuk mengenal Allah.”
Beliau kemudian melanjutkan dengan kalimat yang sangat menggugah.
فَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ
“Kapankah Allah itu ghaib sehingga harus dicari dengan dalil? Dan kapankah Dia jauh sehingga bekas-bekas ciptaan harus mengantarkan kepada-Nya?”
Hikmah ini tidak mengajak manusia meninggalkan akal. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa akal adalah kendaraan, bukan tujuan akhir. Akal mengantarkan manusia untuk mengenal Allah, tetapi tidak mampu menggantikan kehadiran iman.
Dua Cara Memandang Alam, Dua Akhir yang Berbeda
Menurut Syeikh Athaillah, terdapat dua cara memandang alam.
Pertama, seseorang menghadirkan keyakinan kepada Allah lebih dahulu. Maksudnya, ia memulai dengan kesadaran bahwa Allah Maha Ada, Maha Dekat, dan Maha Mengatur. Setelah itu, seluruh alam menjadi tanda yang memperkuat keyakinannya.
Kedua, seseorang baru mencoba mengenal Allah setelah mengamati alam. Ia bergantung sepenuhnya pada bukti-bukti empiris. Ketika bukti terasa cukup, ia yakin. Namun, ketika hidup menghadirkan musibah yang sulit dipahami, keyakinannya mudah terguncang.
Di sinilah letak perbedaannya. Yang pertama berangkat dari makrifat, sedangkan yang kedua berhenti pada logika.
Perlu dipahami, istilah “melihat Allah lebih dahulu” dalam tradisi tasawuf bukan berarti melihat Allah dengan mata di dunia. Maksudnya ialah mendahulukan kesadaran akan keagungan dan kekuasaan Allah dalam memandang seluruh realitas.
Satir untuk Zaman Digital: Informasi Melimpah, Orientasi Menghilang
Hari ini, manusia mampu mengetahui kondisi cuaca di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik. Teknologi kecerdasan buatan dapat menjawab ribuan pertanyaan dalam waktu singkat. Media sosial pun menghadirkan jutaan informasi setiap hari.
Namun, ada pertanyaan yang tetap sulit dijawab oleh teknologi.
Apakah hati kita semakin dekat kepada Allah?
Ironinya, banyak orang mengetahui isi dunia, tetapi asing terhadap isi hatinya sendiri. Mereka mengikuti setiap tren yang muncul, tetapi sering menunda panggilan salat. Mereka menghafal jadwal peluncuran gawai terbaru, tetapi lupa memperbarui rasa syukur.
Satir Syeikh Athaillah terasa begitu hidup di era digital. Beliau seakan mengingatkan bahwa kemajuan teknologi akan kehilangan arah apabila tidak disertai kesadaran tentang tujuan hidup.
Ilmu yang tidak melahirkan syukur hanya menambah informasi. Ilmu yang mengantarkan kepada Allah akan melahirkan kebijaksanaan.
Al-Qur’an Menjelaskan Jalan Mengenal Allah
Pandangan Syeikh Athaillah sejalan dengan firman Allah SWT:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Kemudian Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Selain itu, Allah juga berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ… لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Dan:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ…
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…” (QS. Fussilat: 53)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa alam adalah tanda kebesaran Allah. Namun, tanda bukan tujuan akhir. Tanda mengarahkan manusia untuk mengenal Sang Pencipta, bukan berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan.
Hikmah Al-Hikam yang Tetap Relevan Sepanjang Zaman
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan informasi, manusia sering mengira bahwa semua persoalan dapat diselesaikan dengan data. Padahal, ada wilayah yang hanya bisa diterangi oleh hati yang hidup.
Syeikh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa makrifat bukan lawan ilmu. Makrifat justru menyempurnakan ilmu. Ketika akal, hati, dan wahyu berjalan bersama, manusia tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga bijaksana.
Maka, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa syukurnya, semakin dalam tawadunya, dan semakin kuat keyakinannya kepada Allah.
Barangkali kita tidak kekurangan bukti tentang Allah. Kita hanya terlalu sibuk memandangi jejak-jejak-Nya hingga lupa menoleh kepada Pemilik Jejak. Ketika hati mengenal Allah lebih dahulu, alam semesta tidak lagi sekadar objek yang diamati, melainkan ayat-ayat yang terus mengajak manusia pulang kepada-Nya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar