Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Raden Ajeng Kartini. (Foto: Wikipedia)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, EDITORIAL – Setiap tahun, publik merayakan Hari Kartini dengan lomba kebaya dan seremoni. Tapi jujur saja—kita lebih sibuk merayakan simbol daripada memahami gagasan Raden Ajeng Kartini. Padahal, Kartini Islam, pemikiran Kartini dalam Islam, dan emansipasi perempuan menurut Islam menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari ini: kenapa ajaran yang memuliakan perempuan justru terasa hilang dalam praktik?
Ini bukan sekadar sejarah. Ini soal kejujuran.
Kartini Tidak Melawan Islam—Ia Menggugat Cara Kita Memahaminya
Kartini hidup dalam tekanan budaya feodal Jawa. Ia dipingit, dibatasi, dan diposisikan sebagai “kelas dua”. Namun ia tidak serta-merta menyalahkan agama. Lebih tajam lagi: ia justru mempertanyakan, apakah ajaran Islam benar mengajarkan ini, atau kita hanya membungkus tradisi dengan agama?
Pertanyaan ini masih relevan hari ini.
Sebab, dalam banyak kasus, masyarakat sering mencampuradukkan nilai agama dengan kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, perempuan kehilangan ruang—bukan karena Islam, tapi karena tafsir yang sempit.
Padahal, sejak awal, Nabi Muhammad membawa perubahan radikal. Ia menghapus praktik jahiliyah yang merendahkan perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia utuh.
Sejarah Islam Sudah Membuktikan: Perempuan Tidak Pernah Kecil
Jika kita jujur membaca sejarah, perempuan dalam Islam justru tampil kuat dan berpengaruh.
-
Aisyah binti Abu Bakar bukan hanya istri Nabi, tapi juga rujukan ilmu
-
Khadijah binti Khuwailid adalah pebisnis sukses yang mandiri
-
Fatimah az-Zahra menjadi simbol kekuatan moral dan spiritual
Lebih tajam lagi: kita sering melupakan fakta ini. Kita justru membangun narasi sebaliknya, yakni menempatkan perempuan selalu di belakang.
Di titik ini, Kartini menemukan relevansinya. Ia seperti mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi tertutup oleh kebiasaan sosial.
Kartini dan “Iqra”: Perlawanan Melalui Ilmu
Kartini percaya satu hal: kebodohan adalah akar ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk belajar.
Ini bukan gagasan Barat. Ini inti ajaran Islam.
Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah perintah membaca. Artinya, Islam meletakkan ilmu sebagai fondasi. Lebih tajam lagi: tanpa ilmu, orang lain mudah mengendalikan manusia. Tanpa ilmu, masyarakat mudah meminggirkan perempuan.
Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang harapan, kegelisahan, dan pencarian makna. Ia tidak sekadar ingin bebas, tapi ingin tercerahkan.
Dan di sinilah letak kekuatan Kartini: ia melawan bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran.
Realita Hari Ini: Kita Merayakan, Tapi Tidak Melanjutkan
Sekarang, mari lihat kondisi hari ini.
Perempuan memang punya lebih banyak akses. Namun:
-
Ketimpangan pendidikan masih terjadi di banyak daerah
-
Diskriminasi di dunia kerja belum sepenuhnya hilang
-
Stereotip “perempuan harus begini” masih kuat
Di saat yang sama, Hari Kartini berubah menjadi rutinitas tahunan. Ada lomba, ada seremoni, lalu selesai.
Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang Kartini inginkan?
Jika Kartini hanya berhenti di panggung perayaan, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama—mengabaikan substansi, memuja simbol.
Yang Dilupakan Itu Bukan Kartini, Tapi Nilainya
Masalahnya bukan pada kurangnya peringatan. Masalahnya ada pada cara kita memahami perjuangan.
Kartini tidak pernah meminta dipuja. Ia ingin perubahan.
Jika hari ini masih ada perempuan yang sulit mengakses pendidikan, maka perjuangan itu belum selesai. Jika masih ada tafsir sempit yang membatasi peran perempuan, maka masyarakat belum benar-benar memahami pesan Kartini.
Lebih tajam lagi: jika tradisi masih digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan, maka kita perlu mengoreksi cara kita membaca Islam—bukan ajarannya.
Kartini Adalah Alarm, Bukan Monumen
Kartini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah alarm yang terus berbunyi.
Ia mengingatkan bahwa Islam sudah membawa nilai keadilan sejak awal. Namun, nilai itu bisa hilang jika manusia berhenti berpikir.
Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah adil? Apakah kita sudah memberi ruang yang sama? Atau kita masih nyaman dengan ketimpangan yang dibungkus tradisi?
Kartini telah menyalakan cahaya. Pertanyaannya, kita mau melanjutkan—atau cukup menikmati terang tanpa bergerak? (Redaksi)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar