Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
  • visibility 199
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL – Setiap tahun, publik merayakan Hari Kartini dengan lomba kebaya dan seremoni. Tapi jujur saja—kita lebih sibuk merayakan simbol daripada memahami gagasan Raden Ajeng Kartini. Padahal, Kartini Islampemikiran Kartini dalam Islam, dan emansipasi perempuan menurut Islam menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari ini: kenapa ajaran yang memuliakan perempuan justru terasa hilang dalam praktik?

Ini bukan sekadar sejarah. Ini soal kejujuran.

Kartini Tidak Melawan Islam—Ia Menggugat Cara Kita Memahaminya

Kartini hidup dalam tekanan budaya feodal Jawa. Ia dipingit, dibatasi, dan diposisikan sebagai “kelas dua”. Namun ia tidak serta-merta menyalahkan agama. Lebih tajam lagi: ia justru mempertanyakan, apakah ajaran Islam benar mengajarkan ini, atau kita hanya membungkus tradisi dengan agama?

Pertanyaan ini masih relevan hari ini.

Sebab, dalam banyak kasus, masyarakat sering mencampuradukkan nilai agama dengan kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, perempuan kehilangan ruang—bukan karena Islam, tapi karena tafsir yang sempit.

Padahal, sejak awal, Nabi Muhammad membawa perubahan radikal. Ia menghapus praktik jahiliyah yang merendahkan perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia utuh.

Sejarah Islam Sudah Membuktikan: Perempuan Tidak Pernah Kecil

Jika kita jujur membaca sejarah, perempuan dalam Islam justru tampil kuat dan berpengaruh.

  • Aisyah binti Abu Bakar bukan hanya istri Nabi, tapi juga rujukan ilmu

  • Khadijah binti Khuwailid adalah pebisnis sukses yang mandiri

  • Fatimah az-Zahra menjadi simbol kekuatan moral dan spiritual

Lebih tajam lagi: kita sering melupakan fakta ini. Kita justru membangun narasi sebaliknya, yakni menempatkan perempuan selalu di belakang.

Di titik ini, Kartini menemukan relevansinya. Ia seperti mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi tertutup oleh kebiasaan sosial.

Kartini dan “Iqra”: Perlawanan Melalui Ilmu

Kartini percaya satu hal: kebodohan adalah akar ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk belajar.

Ini bukan gagasan Barat. Ini inti ajaran Islam.

Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah perintah membaca. Artinya, Islam meletakkan ilmu sebagai fondasi. Lebih tajam lagi: tanpa ilmu, orang lain mudah mengendalikan manusia. Tanpa ilmu, masyarakat mudah meminggirkan perempuan.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang harapan, kegelisahan, dan pencarian makna. Ia tidak sekadar ingin bebas, tapi ingin tercerahkan.

Dan di sinilah letak kekuatan Kartini: ia melawan bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran.

Realita Hari Ini: Kita Merayakan, Tapi Tidak Melanjutkan

Sekarang, mari lihat kondisi hari ini.

Perempuan memang punya lebih banyak akses. Namun:

  • Ketimpangan pendidikan masih terjadi di banyak daerah

  • Diskriminasi di dunia kerja belum sepenuhnya hilang

  • Stereotip “perempuan harus begini” masih kuat

Di saat yang sama, Hari Kartini berubah menjadi rutinitas tahunan. Ada lomba, ada seremoni, lalu selesai.

Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang Kartini inginkan?

Jika Kartini hanya berhenti di panggung perayaan, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama—mengabaikan substansi, memuja simbol.

Yang Dilupakan Itu Bukan Kartini, Tapi Nilainya

Masalahnya bukan pada kurangnya peringatan. Masalahnya ada pada cara kita memahami perjuangan.

Kartini tidak pernah meminta dipuja. Ia ingin perubahan.

Jika hari ini masih ada perempuan yang sulit mengakses pendidikan, maka perjuangan itu belum selesai. Jika masih ada tafsir sempit yang membatasi peran perempuan, maka masyarakat belum benar-benar memahami pesan Kartini.

Lebih tajam lagi: jika tradisi masih digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan, maka kita perlu mengoreksi cara kita membaca Islam—bukan ajarannya.

Kartini Adalah Alarm, Bukan Monumen

Kartini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah alarm yang terus berbunyi.

Ia mengingatkan bahwa Islam sudah membawa nilai keadilan sejak awal. Namun, nilai itu bisa hilang jika manusia berhenti berpikir.

Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah adil? Apakah kita sudah memberi ruang yang sama? Atau kita masih nyaman dengan ketimpangan yang dibungkus tradisi?

Kartini telah menyalakan cahaya. Pertanyaannya, kita mau melanjutkan—atau cukup menikmati terang tanpa bergerak? (Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pariwisata dan Kreativitas Jadi Ruh Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24

    Pariwisata dan Kreativitas Jadi Ruh Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24

    • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Pariwisata dan kreativitas jadi pusat perhatian di Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24 bersama Disporabudpar. albadarpost.com, WARTA MITRA. Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24 tahun ini menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya, khususnya Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar). Dengan mengusung semangat “Tasik Kreatif, Tasik Berdaya”, perayaan tahun ini bukan hanya seremonial belaka, melainkan juga […]

  • lingkungan kerja tidak sehat

    7 Tanda Lingkungan Kerja Sudah Tidak Sehat, Jangan Abaikan Sebelum Terlambat

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa cepat lelah, sulit fokus, dan kehilangan semangat setiap kali masuk kantor? Bisa jadi Anda sedang berada di lingkungan kerja tidak sehat. Kondisi ini sering muncul perlahan. Namun, jika dibiarkan, suasana kerja toxic, kantor yang tidak kondusif, dan hubungan kerja yang buruk dapat merusak kesehatan mental, produktivitas, bahkan karier. Banyak orang […]

  • lonjakan kendaraan Bandung

    Arus Nataru Padati Bandung, One Way Disiapkan

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Lonjakan kendaraan Bandung saat Natal capai 524 ribu unit. Polisi siapkan one way dan pemantauan jalur wisata. albadarpost.com, FOKUS – Arus kendaraan menuju Kota Bandung melonjak tajam pada perayaan Natal 2025. Kepolisian mencatat lebih dari setengah juta kendaraan masuk dalam satu malam. Lonjakan ini berdampak langsung pada kepadatan jalan, terutama di jalur wisata dan pusat […]

  • Kepala Kemenag Tasikmalaya

    Jabatan Bukan Anugerah, Pesan Tegas Kepala Kemenag Tasikmalaya

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 55
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kepala Kemenag Tasikmalaya, H. Asep Lukman Hakim, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa jabatan bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pesan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi jajaran Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Senin (24/8/2026). Berdasarkan materi yang dirilis Humas Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, H. Asep secara khusus mengingatkan […]

  • Istigosah dan doa bersama peringatan 44 tahun letusan Gunung Galunggung 1982 di Cipanas Galunggung Tasikmalaya

    44 Tahun Letusan Galunggung: Doa Bersama Menggetarkan Hati Warga Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 207
    • 0Komentar

    albadarapost.com, BERITA DAERAH – Letusan Gunung Galunggung 1982 kembali dikenang melalui kegiatan istigosah dan doa bersama yang berlangsung penuh khidmat. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat akan dahsyatnya bencana sekaligus hikmah besar yang ditinggalkannya bagi masyarakat Tasikmalaya. Bertempat di kawasan Cipanas Galunggung pada 5 April 2026, kegiatan ini menandai dimulainya rangkaian acara Memory of Galunggung. Pemerintah […]

  • Ilustrasi umat Muslim membaca niat puasa Ramadhan pada malam hari sebelum fajar sesuai pendapat 4 madzhab.

    Niat Puasa Ramadhan Harus Tiap Malam? Ini Penjelasan 4 Madzhab

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 225
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak Muslim masih bertanya tentang niat puasa Ramadhan: apakah wajib setiap malam atau cukup sekali di awal bulan? Persoalan waktu niat puasa Ramadhan ini sebenarnya sudah dijelaskan secara rinci oleh ulama empat madzhab. Karena itu, memahami perbedaan pendapat mereka akan membuat ibadah lebih tenang dan terhindar dari keraguan. Pada dasarnya, ulama 4 […]

expand_less