Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL – Setiap tahun, publik merayakan Hari Kartini dengan lomba kebaya dan seremoni. Tapi jujur saja—kita lebih sibuk merayakan simbol daripada memahami gagasan Raden Ajeng Kartini. Padahal, Kartini Islampemikiran Kartini dalam Islam, dan emansipasi perempuan menurut Islam menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari ini: kenapa ajaran yang memuliakan perempuan justru terasa hilang dalam praktik?

Ini bukan sekadar sejarah. Ini soal kejujuran.

Kartini Tidak Melawan Islam—Ia Menggugat Cara Kita Memahaminya

Kartini hidup dalam tekanan budaya feodal Jawa. Ia dipingit, dibatasi, dan diposisikan sebagai “kelas dua”. Namun ia tidak serta-merta menyalahkan agama. Lebih tajam lagi: ia justru mempertanyakan, apakah ajaran Islam benar mengajarkan ini, atau kita hanya membungkus tradisi dengan agama?

Pertanyaan ini masih relevan hari ini.

Sebab, dalam banyak kasus, masyarakat sering mencampuradukkan nilai agama dengan kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, perempuan kehilangan ruang—bukan karena Islam, tapi karena tafsir yang sempit.

Padahal, sejak awal, Nabi Muhammad membawa perubahan radikal. Ia menghapus praktik jahiliyah yang merendahkan perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia utuh.

Sejarah Islam Sudah Membuktikan: Perempuan Tidak Pernah Kecil

Jika kita jujur membaca sejarah, perempuan dalam Islam justru tampil kuat dan berpengaruh.

  • Aisyah binti Abu Bakar bukan hanya istri Nabi, tapi juga rujukan ilmu

  • Khadijah binti Khuwailid adalah pebisnis sukses yang mandiri

  • Fatimah az-Zahra menjadi simbol kekuatan moral dan spiritual

Lebih tajam lagi: kita sering melupakan fakta ini. Kita justru membangun narasi sebaliknya, yakni menempatkan perempuan selalu di belakang.

Di titik ini, Kartini menemukan relevansinya. Ia seperti mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi tertutup oleh kebiasaan sosial.

Kartini dan “Iqra”: Perlawanan Melalui Ilmu

Kartini percaya satu hal: kebodohan adalah akar ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk belajar.

Ini bukan gagasan Barat. Ini inti ajaran Islam.

Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah perintah membaca. Artinya, Islam meletakkan ilmu sebagai fondasi. Lebih tajam lagi: tanpa ilmu, orang lain mudah mengendalikan manusia. Tanpa ilmu, masyarakat mudah meminggirkan perempuan.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang harapan, kegelisahan, dan pencarian makna. Ia tidak sekadar ingin bebas, tapi ingin tercerahkan.

Dan di sinilah letak kekuatan Kartini: ia melawan bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran.

Realita Hari Ini: Kita Merayakan, Tapi Tidak Melanjutkan

Sekarang, mari lihat kondisi hari ini.

Perempuan memang punya lebih banyak akses. Namun:

  • Ketimpangan pendidikan masih terjadi di banyak daerah

  • Diskriminasi di dunia kerja belum sepenuhnya hilang

  • Stereotip “perempuan harus begini” masih kuat

Di saat yang sama, Hari Kartini berubah menjadi rutinitas tahunan. Ada lomba, ada seremoni, lalu selesai.

Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang Kartini inginkan?

Jika Kartini hanya berhenti di panggung perayaan, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama—mengabaikan substansi, memuja simbol.

Yang Dilupakan Itu Bukan Kartini, Tapi Nilainya

Masalahnya bukan pada kurangnya peringatan. Masalahnya ada pada cara kita memahami perjuangan.

Kartini tidak pernah meminta dipuja. Ia ingin perubahan.

Jika hari ini masih ada perempuan yang sulit mengakses pendidikan, maka perjuangan itu belum selesai. Jika masih ada tafsir sempit yang membatasi peran perempuan, maka masyarakat belum benar-benar memahami pesan Kartini.

Lebih tajam lagi: jika tradisi masih digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan, maka kita perlu mengoreksi cara kita membaca Islam—bukan ajarannya.

Kartini Adalah Alarm, Bukan Monumen

Kartini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah alarm yang terus berbunyi.

Ia mengingatkan bahwa Islam sudah membawa nilai keadilan sejak awal. Namun, nilai itu bisa hilang jika manusia berhenti berpikir.

Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah adil? Apakah kita sudah memberi ruang yang sama? Atau kita masih nyaman dengan ketimpangan yang dibungkus tradisi?

Kartini telah menyalakan cahaya. Pertanyaannya, kita mau melanjutkan—atau cukup menikmati terang tanpa bergerak? (Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • produk UMKM laris

    Tak Disangka! Produk UMKM Ini Dulunya Diremehkan, Kini Omzetnya Meledak

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Banyak orang dulu meragukan masa depan produk UMKM laris di tengah dominasi brand besar. Namun situasi berubah cepat. Produk usaha kecil, bisnis lokal kreatif, dan produk rumahan inovatif justru mencuri perhatian pasar digital. Yang menarik, sebagian besar produk ini tidak lahir dari modal besar. Mereka muncul dari eksperimen sederhana, bahkan ide […]

  • Rumah Tidak Layak Huni

    Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza: TNI Tegaskan Kesiapsiagaan Menunggu Instruksi Presiden

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    TNI menegaskan kesiapan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza sambil menunggu keputusan Presiden Prabowo. albadarpost.com, HUMANIORA —Rencana pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza kembali mencuat ke ruang publik setelah Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto disebut telah menjalin komunikasi intensif mengenai upaya tersebut. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen […]

  • Talenta Digital

    Kemenekraf Dorong Talenta Digital Lewat BDD 2025 di Bandung

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Kemenekraf kembangkan talenta digital melalui BDD 2025 untuk memperkuat ekonomi kreatif nasional. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah menegaskan strategi baru dalam membangun sumber daya manusia ekonomi kreatif. Melalui Badan Ekraf Developer Day (BDD) 2025 di Bandung, Kementerian Ekonomi Kreatif menyiapkan 1.000 talenta digital yang diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan industri berbasis teknologi. Program ini dirancang untuk […]

  • Ilustrasi burung elang terbang tinggi lalu turun menyambar daging dan terjebak perangkap sebagai simbol manusia yang kehilangan bebas merdeka karena nafsu dunia.

    Bebas Merdeka atau Budak Duniawi?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 14
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk-pikuk ambisi, istilah Bebas Merdeka terdengar seperti slogan upacara. Padahal, menurut hikmah Syekh ‘Athoillah dalam Al-Hikam, Bebas Merdeka bukan sekadar bebas secara fisik, melainkan merdeka dari keinginan palsu dan harapan semu. Ironisnya, banyak orang merasa merdeka, tetapi justru menjadi budak ambisi. Mereka mengira sedang mengejar impian, padahal nafsu diam-diam mengejar […]

  • prostitusi online

    Imigrasi Jakarta Barat Tangkap Dua WNA Uzbekistan karena Prostitusi Online

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Imigrasi Jakarta Barat menangkap dua WNA Uzbekistan yang diduga terlibat prostitusi online di sebuah hotel. albadarpost.com, LENSA – Kantor Imigrasi Jakarta Barat menetapkan dua warga negara asing asal Uzbekistan sebagai pelaku dugaan prostitusi online setelah penangkapan dilakukan di sebuah hotel pada Rabu, 12 November 2025. Kasus ini penting karena memperlihatkan celah pengawasan izin tinggal yang […]

  • Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat

    Mengapa Manusia Sulit Lepas dari Dunia? Jawabannya Ada di Ali Imran 14

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 25
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mencari arti Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat setelah potongan ayat ini viral di media sosial. Frasa Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat atau “dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap hal-hal yang diinginkan” berasal dari Surah Ali Imran ayat 14. Ayat ini menjelaskan mengapa manusia sangat mencintai dunia, mulai dari wanita, anak, harta, kendaraan, hingga […]

expand_less