Usai Warga Meninggal, Pemkot Tasikmalaya Petakan Titik Rawan
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 46
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, bersama unsur Forkopimda mengunjungi rumah duka korban aksi kekerasan yang terjadi di jalan raya, Kamis (3/9/2026).(Dok. Pemkot Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Keamanan Tasikmalaya kembali menjadi perhatian setelah aksi kekerasan di jalan raya menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama unsur Forkopimda kini menyiapkan sejumlah langkah pencegahan, termasuk pemetaan titik rawan, penguatan penerangan, dan patroli gabungan.
Langkah tersebut mengemuka saat Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, S.T., M.BA., bersama unsur Forkopimda mengunjungi rumah duka korban pada Kamis, 3 September 2026.
Kunjungan itu menjadi bentuk belasungkawa sekaligus momentum evaluasi. Pemkot Tasikmalaya menilai keamanan dan ketertiban masyarakat perlu terus diperkuat agar kejadian serupa tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Belasungkawa Berlanjut ke Evaluasi Keamanan
Viman menyampaikan duka cita kepada keluarga korban. Ia juga mendoakan agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Menurut Viman, apa pun pemberitaan yang muncul mengenai peristiwa tersebut, korban tetap merupakan bagian dari warga Kota Tasikmalaya yang perlu dijaga bersama.
Pernyataan itu menempatkan persoalan keamanan bukan sekadar sebagai isu penegakan hukum. Ada pula tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang publik yang lebih aman bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah dan Forkopimda akan memperkuat koordinasi dalam menjaga ketertiban serta keamanan.
Bagi Pemkot, evaluasi tersebut menjadi penting agar respons terhadap persoalan keamanan tidak berhenti ketika perhatian publik mulai mereda.
Titik Rawan Akan Dipetakan
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemetaan terhadap titik-titik yang dinilai rawan aksi kekerasan.
Dalam rencana tersebut, Polres Tasikmalaya Kota, Kodim, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan akan terlibat dalam penguatan pengamanan sesuai peran masing-masing.
Selain pemetaan, Pemkot Tasikmalaya menyebut penguatan penerangan sebagai bagian dari intervensi pada lokasi rawan.
Patroli gabungan juga akan dilaksanakan secara berkala.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendekatan keamanan tidak hanya mengandalkan tindakan setelah kejadian. Pemerintah juga mulai mengarahkan perhatian pada kondisi lingkungan dan lokasi yang berpotensi membutuhkan pengawasan lebih.
Namun, rencana tersebut tetap membutuhkan pelaksanaan yang konsisten.
Pemetaan titik rawan harus mampu menjadi dasar menentukan prioritas pengamanan. Begitu pula penerangan dan patroli. Keduanya akan lebih berarti apabila benar-benar diarahkan pada kebutuhan di lapangan.
Masyarakat Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton
Wali Kota Tasikmalaya juga mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga keamanan lingkungan.
Menurutnya, pencegahan aksi kekerasan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan Forkopimda. Warga juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan agar tetap aman, tertib, dan nyaman.
Ajakan tersebut menjadi penting karena pengawasan keamanan tidak mungkin sepenuhnya bertumpu pada pemerintah.
Kepedulian warga terhadap kondisi sekitar, komunikasi dengan pihak terkait ketika menemukan potensi gangguan, serta sikap tidak membiarkan kekerasan menjadi hal biasa merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Di sisi lain, kolaborasi masyarakat dengan pemerintah membutuhkan kejelasan respons. Ketika ada persoalan keamanan, warga perlu mengetahui ke mana harus menyampaikan informasi dan bagaimana tindak lanjut dilakukan.
Dengan pola tersebut, keamanan Tasikmalaya dapat dibangun sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya agenda ketika terjadi peristiwa.
Mengukur Keamanan dari Perubahan di Lapangan
Pemetaan titik rawan, penerangan, dan patroli gabungan merupakan langkah yang disebut Pemkot Tasikmalaya sebagai bagian dari pencegahan.
Akan tetapi, ukuran keberhasilannya bukan sekadar banyaknya kegiatan yang dilakukan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah lokasi rawan benar-benar teridentifikasi, apakah penerangan diperbaiki pada titik yang membutuhkan, serta apakah patroli berlangsung secara konsisten.
Masyarakat pada akhirnya akan merasakan kebijakan keamanan melalui kondisi nyata di lingkungan mereka.
Di sinilah tantangan pemerintah berikutnya. Kebijakan tidak cukup berhenti pada pernyataan atau rencana. Pelaksanaan dan evaluasi harus berjalan beriringan.
Terlebih, keamanan publik merupakan kebutuhan dasar. Warga membutuhkan kepastian bahwa ruang yang mereka gunakan untuk beraktivitas mendapat perhatian yang memadai.
Dari Rumah Duka, Ada Pekerjaan yang Harus Dilanjutkan
Kunjungan Wali Kota Tasikmalaya ke rumah duka menjadi simbol kepedulian pemerintah terhadap keluarga korban.
Namun, pekerjaan pemerintah tidak selesai setelah ucapan belasungkawa disampaikan.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa pencegahan membutuhkan langkah yang terukur. Pemetaan lokasi rawan, penerangan, patroli gabungan, dan keterlibatan masyarakat perlu berjalan sebagai satu rangkaian.
Pada saat yang sama, publik berhak melihat apakah langkah tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.
Sebab, tujuan akhir dari seluruh kebijakan keamanan bukan sekadar menunjukkan kehadiran pemerintah, melainkan memastikan masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa aman.
Belasungkawa adalah bentuk kepedulian. Tetapi keamanan baru benar-benar terasa ketika kepedulian itu berubah menjadi tindakan yang konsisten di jalan, di lingkungan, dan di ruang publik. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar