Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Mengapa Gempa Sukabumi Terus Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

Mengapa Gempa Sukabumi Terus Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHGempa Sukabumi kembali menjadi perhatian setelah guncangan berkekuatan magnitudo 4,8 terjadi pada Minggu (19/7/2026). Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan yang sering muncul setiap kali bumi berguncang: mengapa wilayah Sukabumi begitu sering mengalami gempa? Apakah penyebabnya hanya Sesar Cimandiri, atau ada faktor lain yang membuat kawasan ini termasuk daerah rawan aktivitas seismik?

Berdasarkan analisis BMKG, jawabannya tidak sesederhana satu jalur patahan. Sukabumi berada di kawasan yang dipengaruhi beberapa sumber gempa sekaligus. Kondisi geografis inilah yang membuat wilayah tersebut berkali-kali merasakan guncangan, baik yang berasal dari laut maupun daratan.

Sukabumi Berada di Persimpangan Dua Sumber Gempa

Di selatan Pulau Jawa, Lempeng Indo-Australia terus bergerak dan menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Proses yang berlangsung sangat lambat ini menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

Namun, ancaman bagi Sukabumi tidak hanya berasal dari zona subduksi di Samudra Hindia. Di daratan, terdapat Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang membentang dari kawasan Teluk Palabuhanratu hingga ke arah timur.

Karena berada di antara dua sistem tektonik tersebut, Sukabumi dapat merasakan guncangan dari berbagai jenis gempa. Ada yang berasal dari dasar laut, ada pula yang muncul akibat aktivitas sesar di daratan.

BMKG menjelaskan bahwa gempa yang terjadi pada 19 Juli 2026 bukan merupakan gempa megathrust. Gempa tersebut dipicu deformasi batuan di dasar laut dengan mekanisme gerakan miring atau oblique thrust. Selain itu, hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Magnitudo Besar Belum Tentu Paling Merusak

Banyak masyarakat menganggap semakin besar magnitudo, semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan. Faktanya, anggapan itu tidak selalu benar.

Kerusakan akibat gempa dipengaruhi banyak faktor, seperti kedalaman pusat gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan, hingga karakter gelombang yang merambat ke permukaan.

Sebagai contoh, gempa darat berkekuatan M3,8 yang mengguncang Sukabumi pada September 2025 memang lebih kecil dibandingkan gempa M4,8 pada Juli 2026. Meski begitu, dampaknya justru lebih besar terhadap permukiman karena sumber gempanya berada sangat dekat dengan kawasan berpenduduk.

Ratusan rumah saat itu mengalami kerusakan dengan ratusan warga terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lokasi sumber gempa sering kali lebih menentukan dibanding angka magnitudonya.

Bangunan Menjadi Penentu Besar Kecilnya Dampak

Selain karakter gempa, kualitas bangunan memiliki peran yang sangat penting.

Rumah dengan struktur yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa lebih mudah mengalami kerusakan meski diguncang gempa berkekuatan sedang. Sebaliknya, bangunan yang dirancang sesuai standar konstruksi tahan gempa memiliki peluang lebih besar untuk tetap berdiri saat terjadi guncangan.

Kondisi tanah juga ikut memengaruhi kekuatan getaran. Di sejumlah lokasi, lapisan tanah lunak mampu memperkuat gelombang gempa sehingga guncangan terasa lebih keras dibandingkan kawasan yang berada di atas batuan keras.

Sementara itu, wilayah perbukitan menghadapi ancaman tambahan berupa longsor setelah gempa terjadi, terutama ketika hujan turun dalam waktu berdekatan.

Risiko Gempa Sukabumi Masih Tergolong Tinggi

Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Sukabumi menempatkan gempa bumi sebagai salah satu ancaman utama di wilayah tersebut.

Model risiko menunjukkan jutaan penduduk berpotensi terpapar apabila terjadi gempa besar. Meski angka tersebut bukan prediksi korban pada satu kejadian tertentu, data itu menjadi dasar pemerintah dalam menyusun strategi mitigasi, penataan ruang, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Karena itu, warga tidak cukup hanya mengetahui lokasi sesar atau pusat gempa. Kesiapan keluarga, kualitas bangunan, serta pemahaman terhadap jalur evakuasi justru menjadi faktor yang paling menentukan saat bencana benar-benar terjadi.

Jangan Percaya Prediksi Gempa yang Beredar

BMKG berulang kali menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa bumi.

Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya mengabaikan pesan berantai yang mengklaim mengetahui tanggal terjadinya gempa berikutnya.

Sebaliknya, fokuslah pada langkah mitigasi. Pastikan lemari dan benda berat terpasang kuat, siapkan tas siaga bencana, kenali titik kumpul keluarga, serta biasakan melakukan simulasi penyelamatan.

Saat gempa terjadi, lakukan langkah Drop, Cover, and Hold On, lalu segera keluar menuju area aman setelah guncangan berhenti. Bagi masyarakat pesisir, segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila merasakan guncangan kuat atau berlangsung lama tanpa menunggu informasi tambahan.

Gempa Tidak Bisa Dicegah, Tetapi Dampaknya Bisa Dikurangi

Sukabumi akan tetap menjadi salah satu wilayah aktif secara tektonik karena posisinya berada di antara zona subduksi selatan Jawa dan jaringan sesar aktif di daratan. Kondisi alam tersebut tidak dapat diubah.

Namun, besarnya dampak bencana masih bisa ditekan melalui bangunan yang lebih aman, edukasi kebencanaan, jalur evakuasi yang jelas, serta disiplin mengikuti informasi resmi dari BMKG. Pada akhirnya, yang menentukan keselamatan bukan seberapa sering gempa terjadi, melainkan seberapa siap masyarakat menghadapinya.

Gempa memang datang tanpa undangan. Namun, korban bukanlah takdir. Di Sukabumi, kesiapsiagaan selalu menjadi pertahanan pertama sebelum bumi kembali berguncang. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Strategi branding sekolah untuk membangun kepercayaan publik dan daya saing pendidikan nasional

    Branding Sekolah dan Tanggung Jawab Pendidikan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah meningkatnya persaingan dunia pendidikan, sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai ruang transfer pengetahuan. Kini, masyarakat menuntut lebih dari sekadar capaian akademik. Selain mutu pembelajaran, orang tua juga menaruh perhatian besar pada pembentukan karakter, kejelasan arah pendidikan, serta nilai-nilai yang ditanamkan. Oleh karena itu, situasi ini menandai perubahan mendasar dalam cara […]

  • Talenta Digital

    Kemenekraf Dorong Talenta Digital Lewat BDD 2025 di Bandung

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Kemenekraf kembangkan talenta digital melalui BDD 2025 untuk memperkuat ekonomi kreatif nasional. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah menegaskan strategi baru dalam membangun sumber daya manusia ekonomi kreatif. Melalui Badan Ekraf Developer Day (BDD) 2025 di Bandung, Kementerian Ekonomi Kreatif menyiapkan 1.000 talenta digital yang diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan industri berbasis teknologi. Program ini dirancang untuk […]

  • Sambal tempoyak pedas asam khas Sumatera dalam mangkuk dengan cabai merah dan daun kunyit, tampilan menggugah selera

    Resep Sambal Tempoyak Viral, Pedas Asamnya Bikin Lupa Diet

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 191
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Resep sambal tempoyak kini kembali naik daun dan viral di berbagai platform. Sambal tempoyak, sambal durian fermentasi, serta olahan tempoyak khas Sumatera ini menghadirkan sensasi pedas asam yang unik dan bikin nagih. Tak hanya itu, banyak orang kini mencari cara membuat sambal tempoyak rumahan karena rasanya yang autentik dan cocok dipadukan dengan […]

  • jual trenggiling

    Sadis! Trenggiling Diburu dan Dijual Online di Tasikmalaya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 134
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus jual trenggiling kembali mencuat setelah polisi membongkar praktik perdagangan satwa dilindungi di Tasikmalaya. Aksi jual trenggiling ini melibatkan dua buruh harian lepas yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana transaksi. Modus jual satwa dilindungi tersebut akhirnya terungkap setelah polisi menangkap salah satu pelaku saat membawa tas mencurigakan. Peristiwa ini langsung menyita […]

  • MBG 5 hari

    MBG Jadi 5 Hari: Strategi Hemat atau Risiko Baru bagi Pelajar?

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 157
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Kebijakan MBG 5 hari langsung memicu perbincangan publik setelah pemerintah mengurangi frekuensi program Makan Bergizi Gratis menjadi lima hari dalam sepekan. Program makan bergizi atau bantuan nutrisi sekolah ini disebut mampu menghemat anggaran hingga Rp20 triliun. Namun, di tengah klaim efisiensi tersebut, muncul kekhawatiran baru terkait keberlanjutan gizi anak, kualitas asupan nutrisi […]

  • SPMB 2026

    SPMB 2026 Dibuka, Kesalahan Sepele Ini Bisa Bikin Anak Gagal Masuk Sekolah

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – SPMB 2026 atau Sistem Penerimaan Murid Baru mulai menjadi perhatian banyak keluarga menjelang tahun ajaran baru. Namun pendaftaran sekolah bukan hanya soal memilih sekolah lalu mengunggah berkas. Di balik proses penerimaan murid baru itu, ada jadwal, dokumen, ketentuan usia, hingga jalur penerimaan yang perlu dipahami sejak awal. Karena itu, orang tua tidak […]

expand_less