Janji Allah di Jalan Syukur

albadarpost.com, OPINI – Ada ayat yang tidak turun untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan. Ia tidak menggedor telinga, tetapi mengetuk hati. Surat Ibrahim ayat 7 adalah salah satunya. Sebuah pengumuman dari langit yang tidak memaksa, tetapi mengundang kesadaran terdalam manusia.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu mengingkari, sungguh azab-Ku sangat keras.”
Kalimat ini seperti cermin. Ia tidak bertanya seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita menyadari. Di hadapan ayat ini, manusia diajak berhenti sejenak, mengendapkan riuh dunia, lalu menengok ke dalam.
Syukur yang Hidup di Dalam Hati
Dalam jalan para sufi, syukur bukanlah reaksi sesaat, melainkan maqam: sebuah kedudukan ruhani. Imam Al-Junaid menyebut syukur sebagai kemampuan melihat Pemberi di balik setiap pemberian. Karena itu, syukur tidak lahir dari banyaknya nikmat, tetapi dari beningnya pandangan hati.
Baca juga: Harga Beras Naik, Zakat Fitrah Menyesuaikan? Ini Penjelasan Baznas RI
Syukur sejati tidak selalu berbunyi. Ia hadir dalam diam yang sadar. Ia tumbuh ketika hati tidak lagi sibuk menghitung kekurangan, tetapi mulai mengenali kecukupan. Maka, orang yang bersyukur bukan yang paling kaya, melainkan yang paling tenang.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga lapis: pengetahuan (ma’rifah), keadaan hati (hal), dan perbuatan (‘amal). Ketika ketiganya bertaut, syukur menjadi hidup. Namun ketika salah satunya hilang, syukur berubah menjadi kebiasaan kosong.
Janji Allah dan Rahasia Penambahan
Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur. Namun para ‘Arifin memahami, tambahan itu sering datang dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak selalu menambah apa yang tampak, tetapi memperluas apa yang terasa.
Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam menulis, “Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang ada, ia akan kehilangan nikmat yang akan datang.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan hukum ruhani. Nikmat bertahan bukan karena dijaga tangan, tetapi karena dirawat hati.
Rasulullah SAW mengajarkan syukur melalui hidupnya. Dalam hadis riwayat Aisyah RA, Nabi tetap shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa bersusah payah padahal dosanya diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
Syukur, dalam hal ini, bukan balasan atas nikmat, tetapi cara mencintai Allah.
Kufur Nikmat: Lupa yang Menggelapkan
Kufur nikmat tidak selalu berbentuk penolakan terang-terangan. Ia sering hadir sebagai lupa. Lupa bahwa sehat adalah karunia. Lupa bahwa waktu adalah amanah. Lupa bahwa keberhasilan adalah titipan.
Para sufi menyebut lupa sebagai hijab paling halus. Ia tidak menyakitkan, tetapi menggelapkan. Dari lupa, lahir kelalaian. Dari kelalaian, tumbuh kesombongan. Maka, azab yang disebutkan dalam ayat sering kali datang sebagai kehilangan makna, bukan semata musibah.
Baca juga: Singapura Tancap Gas Menuju Target Wisata 2026
Ketika nikmat tidak lagi mendekatkan kepada Allah, saat itulah nikmat berubah menjadi ujian terberat.
Menjadikan Syukur sebagai Jalan Pulang
Syukur bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan pulang. Jalan yang mengantar manusia kembali mengenali dirinya sebagai hamba, bukan pemilik. Dalam syukur, manusia berhenti menuntut dunia, lalu mulai merawat amanah.
Di tengah zaman yang mendorong manusia untuk selalu lebih, syukur mengajarkan cukup. Di saat dunia mengukur nilai dari pencapaian, syukur menimbang dengan ketulusan. Maka, syukur menjadi bentuk perlawanan paling lembut terhadap keserakahan.
Surat Ibrahim ayat 7 tidak sekadar menjanjikan penambahan nikmat. Ia mengajarkan cara hidup. Jika syukur tumbuh, hati lapang. Jika hati lapang, hidup bercahaya.
Dan barangkali, itulah nikmat terbesar yang sering luput kita syukuri.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Direktur Albadar Institute, Pemimpin Redaksi AlbadarPost)




