HUT RI di Cikalanggirang, Seni Tradisional Hidupkan Kebersamaan Warga
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

HUT RI di Cikalang Girang (Foto: Setda Kota Tasik).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Semangat HUT RI Tasikmalaya tidak hanya hadir melalui agenda resmi pemerintah. Di lingkungan masyarakat, peringatan kemerdekaan juga tumbuh lewat kreativitas warga, seni budaya tradisional, dan kebersamaan yang dibangun dari tingkat kampung.
Suasana tersebut terlihat dalam Kreasi Seni Budaya Tradisional yang berlangsung di Lapang Volley RT 03 RW 17 Cikalanggirang, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Setda Kota Tasikmalaya, Wakil Wali Kota Tasikmalaya turut menghadiri kegiatan tersebut.
Kehadiran pemerintah daerah menjadi salah satu bagian dari acara. Namun, cerita yang lebih menarik justru datang dari ruang masyarakat: ketika warga menggunakan momentum kemerdekaan untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga seni dan budaya tradisional.
Kemerdekaan Tumbuh dari Lingkungan Warga
Peringatan HUT RI di Tasikmalaya tidak selalu membutuhkan panggung besar. Sebab, semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat melalui kegiatan yang mempertemukan masyarakat.
Di Cikalanggirang, seni budaya tradisional menjadi salah satu medium untuk menghadirkan suasana tersebut.
Kegiatan ini memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkreativitas. Pada saat yang sama, pertemuan warga membuka kesempatan untuk memperkuat silaturahmi dan membangun kembali interaksi sosial di lingkungan.
Hal itu menjadi penting di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
Di satu sisi, perkembangan zaman membawa banyak kemudahan. Namun, di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Karena itu, kegiatan budaya di tingkat RW memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan.
Ia menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Seni Tradisional Menemukan Ruang di Tengah Perubahan Zaman
Seni tradisional membutuhkan ruang agar tetap hidup.
Tanpa ruang untuk tampil, kesenian lokal berisiko hanya menjadi bagian dari ingatan generasi sebelumnya. Sebaliknya, ketika masyarakat terus menghadirkannya dalam berbagai kegiatan, budaya memiliki kesempatan untuk beradaptasi dan tetap dikenal.
Kreasi Seni Budaya Tradisional RW 17 Cikalanggirang menunjukkan salah satu bentuk sederhana dari upaya tersebut.
Momentum HUT ke-81 RI Tasikmalaya tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan kemerdekaan. Lebih jauh, perayaan itu dapat menjadi ruang untuk menunjukkan identitas masyarakat melalui kebudayaan yang mereka miliki.
Dengan demikian, kemerdekaan dan budaya lokal dapat berjalan beriringan.
Kemerdekaan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berekspresi. Sementara itu, budaya memberikan identitas terhadap ekspresi tersebut.
Wakil Wali Kota Hadir, Warga Tetap Menjadi Bagian Penting
Kehadiran Wakil Wali Kota Tasikmalaya menambah perhatian terhadap kegiatan masyarakat di Cikalanggirang.
Namun, secara substansi, kegiatan tersebut tetap berangkat dari ruang masyarakat.
Pemerintah dapat memberikan dukungan dan apresiasi. Sementara itu, keberlangsungan kegiatan sosial dan kebudayaan tetap membutuhkan partisipasi warga.
Di sinilah gotong royong memiliki arti penting.
Kebersamaan tidak hanya terlihat ketika masyarakat menghadapi persoalan besar. Ia juga tumbuh ketika warga bersedia menyediakan waktu untuk berkumpul, berkesenian, menjaga hubungan sosial, dan merawat lingkungan kebudayaan mereka.
Karena itu, kegiatan warga seperti di RW 17 Cikalanggirang patut dilihat sebagai bagian dari kehidupan sosial Kota Tasikmalaya.
Bukan karena skalanya besar, melainkan karena kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ruang untuk bergerak bersama.
Jangan Biarkan Peringatan Kemerdekaan Berhenti pada Seremonial
Peringatan kemerdekaan setiap tahun selalu menghadirkan suasana meriah. Akan tetapi, nilai perayaannya tidak semestinya berhenti setelah acara selesai.
Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah momentum tersebut mampu meninggalkan sesuatu bagi masyarakat?
Kegiatan budaya dapat menjadi salah satu jawabannya.
Jika masyarakat terus memiliki ruang untuk berkesenian, maka generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal budaya di lingkungannya. Jika warga terus bertemu dan bekerja sama, maka hubungan sosial juga memiliki peluang untuk semakin kuat.
Selanjutnya, dukungan pemerintah terhadap kegiatan masyarakat dapat diarahkan bukan hanya pada acara sesaat, tetapi juga pada keberlanjutan komunitas seni dan kebudayaan lokal.
Langkah tersebut akan membuat peringatan kemerdekaan memiliki dampak yang lebih panjang.
Sebab, pembangunan kota bukan hanya tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kehidupan sosial, kebudayaan, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap lingkungan juga menjadi bagian penting dari wajah sebuah kota.
Dari Cikalanggirang untuk Tasikmalaya
Kegiatan di RW 17 Cikalanggirang memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan dapat mengambil bentuk yang sederhana.
Tidak selalu berupa upacara besar. Tidak harus berlangsung di pusat kota.
Kadang, semangat itu muncul dari sebuah lapangan lingkungan ketika warga berkumpul dan menghadirkan seni budaya yang mereka miliki.
Dalam konteks HUT RI Tasikmalaya, pesan tersebut cukup jelas. Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengisi masa kini dengan kreativitas, kebersamaan, dan kepedulian terhadap identitas lokal.
Karena itu, kegiatan seperti ini layak mendapat perhatian. Bukan semata karena dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, melainkan karena masyarakat menunjukkan bahwa ruang kebudayaan masih dapat hidup dari tingkat lingkungan.
Kemerdekaan tidak selalu membutuhkan panggung megah. Kadang, ia cukup tumbuh dari sebuah lapangan kampung—ketika warga berkumpul, budaya tetap dimainkan, dan gotong royong membuat sebuah lingkungan merasa memiliki masa depannya sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar