Hadis Jangan Marah: Nabi Ungkap Tanda Orang yang Benar-Benar Kuat
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
- visibility 85
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang menahan amarah sebagai refleksi hadis jangan marah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, HIKMAH — Hadis jangan marah bukan sekadar nasihat agar seseorang tidak mudah emosi. Dalam hadis tentang marah, Rasulullah SAW justru memberikan ukuran yang berbeda tentang arti kekuatan. Menurut pesan Nabi, orang yang kuat bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan orang lain, tetapi mereka yang mampu mengendalikan diri ketika amarah sedang memuncak.
Pesan tentang menahan amarah ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa tersulut karena perkataan orang lain, perbedaan pendapat, persoalan keluarga, pekerjaan, hingga komentar di media sosial. Karena itu, hadis Nabi tentang marah tidak hanya relevan sebagai nasihat keagamaan, tetapi juga menjadi bahan renungan tentang bagaimana manusia merespons emosi.
Hadis Jangan Marah dan Makna Orang yang Kuat
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari No. 6114. Riwayat dengan makna yang sama juga tercantum dalam Shahih Muslim No. 2609.
Pesan tersebut mengubah cara melihat kekuatan.
Dalam pemahaman umum, kekuatan sering dikaitkan dengan fisik, keberanian, kedudukan, atau kemampuan memenangkan perselisihan. Namun, Nabi Muhammad SAW memberikan penekanan berbeda.
Ujian kekuatan justru muncul ketika seseorang sedang marah.
Pada kondisi itu, seseorang mungkin merasa memiliki alasan untuk membalas. Ia bisa saja mengeluarkan kata-kata keras atau mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Namun, kemampuan untuk berhenti dan mengendalikan diri menjadi bentuk kekuatan yang lebih dalam.
Dengan demikian, hadis jangan marah tidak berarti manusia tidak boleh merasakan kemarahan. Marah merupakan emosi yang dapat muncul dalam kehidupan manusia. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seseorang mengelola emosi tersebut agar tidak mendorong tindakan yang merugikan.
Mengapa Pesan Nabi tentang Marah Masih Relevan?
Perubahan zaman membuat cara manusia berkomunikasi ikut berubah.
Dahulu, perselisihan mungkin berhenti setelah sebuah percakapan selesai. Sekarang, satu kalimat dapat menyebar melalui media sosial dalam hitungan detik.
Seseorang yang tersinggung dapat langsung membalas komentar. Setelah itu, percakapan berkembang menjadi saling serang. Tidak jarang persoalan yang semula kecil justru menjadi panjang karena masing-masing pihak mempertahankan emosinya.
Dalam situasi seperti itu, hadis tentang marah menawarkan sebuah jeda.
Tidak semua perkataan harus dijawab saat itu juga. Tidak setiap perbedaan harus berubah menjadi pertengkaran. Bahkan, tidak semua komentar yang menyakitkan harus mendapatkan balasan.
Menahan diri bukan berarti kalah.
Sebaliknya, seseorang justru sedang mengambil kendali atas dirinya sendiri.
Pesan tersebut juga relevan dalam kehidupan keluarga. Ketika emosi meningkat, sebuah kalimat yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai orang terdekat. Karena itu, kemampuan menunda respons dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah masalah berkembang lebih jauh.
Al-Qur’an Memuji Orang yang Mampu Menahan Amarah
Ajaran tentang mengendalikan emosi juga mendapat penegasan dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali ‘Imran ayat 134:
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
QS Ali ‘Imran ayat 134 menyebut orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain sebagai bagian dari golongan yang berbuat kebajikan.
Ayat tersebut memberikan lapisan makna yang penting.
Menahan amarah bukan sekadar menekan emosi. Al-Qur’an juga mengarahkan seseorang untuk mengambil langkah berikutnya, yaitu memaafkan ketika memang mampu melakukannya.
Namun, memaafkan tidak berarti membenarkan tindakan yang salah.
Seseorang tetap dapat menjaga batas dirinya, meminta pertanggungjawaban, atau mencari penyelesaian yang adil. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai amarah menguasai seluruh keputusan.
Saat Emosi Memuncak, Diam Sejenak Bisa Menjadi Kekuatan
Ada kondisi ketika jawaban tercepat bukanlah jawaban terbaik.
Ketika amarah sedang tinggi, memberi waktu kepada diri sendiri untuk tenang dapat membantu seseorang melihat persoalan dengan lebih jernih. Dengan begitu, perkataan dan tindakan tidak hanya mengikuti dorongan sesaat.
Inilah salah satu pesan penting dari hadis jangan marah.
Kekuatan tidak selalu terlihat dalam suara yang keras. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat ketika seseorang memilih diam, menarik napas, menunda balasan, lalu berbicara setelah pikirannya lebih tenang.
Sikap tersebut bukan tanda kelemahan.
Justru sebaliknya, seseorang sedang berusaha memastikan bahwa dirinya tetap menjadi pengendali tindakan, bukan sekadar mengikuti emosi.
Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Pesan Nabi ini dapat menjadi bahan muhasabah bagi kita.
Cobalah mengingat kembali satu persoalan yang sempat membuat emosi meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Apakah kita langsung membalas?
Apakah ada perkataan yang sebenarnya tidak perlu diucapkan?
Dan apakah ada persoalan yang menjadi lebih besar karena kita meresponsnya ketika sedang marah?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi diri sendiri.
Sebaliknya, pertanyaan itu dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengendalikan respons pada situasi berikutnya.
Sebab, setiap orang bisa marah. Namun, tidak semua orang mampu menguasai dirinya ketika kemarahan datang.
Di situlah pesan Rasulullah SAW terasa begitu kuat.
Orang kuat bukan mereka yang selalu berhasil memenangkan pertengkaran. Orang kuat adalah mereka yang tidak membiarkan amarah menentukan siapa dirinya.
Kadang kemenangan terbesar bukan ketika orang lain akhirnya diam, melainkan ketika kita berhasil membuat amarah dalam diri sendiri ikut diam. Sebab, sebelum mengalahkan orang lain, manusia terlebih dahulu harus belajar menaklukkan dirinya sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar