Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hadis Nabi yang Menampar Budaya Pamer

Hadis Nabi yang Menampar Budaya Pamer

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 21 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAHHadis Nabi tentang sombong bukan sekadar mengingatkan bahaya takabur, tetapi juga mengajak setiap Muslim menguji kembali isi hatinya. Di tengah budaya media sosial, pencitraan, dan kebanggaan terhadap pencapaian, larangan sombong dalam Islam terasa semakin relevan. Islam tidak melarang seseorang menjadi sukses, kaya, berilmu, atau dikenal banyak orang. Namun, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa keberhasilan dapat berubah menjadi pintu kesombongan apabila hati mulai merasa lebih mulia daripada orang lain.

Fenomena itu tidak selalu tampak dalam bentuk ucapan yang angkuh. Kesombongan sering hadir secara halus. Ia bersembunyi di balik keinginan untuk selalu dipuji, merasa paling benar, atau sulit menerima kritik. Karena sifatnya yang samar, banyak orang tidak menyadari bahwa penyakit hati ini perlahan tumbuh bersamaan dengan meningkatnya popularitas dan pencapaian.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Hadis tersebut bukan larangan untuk berprestasi. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya bekerja keras, mencari ilmu, berdagang, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang diperingatkan Rasulullah ﷺ adalah ketika keberhasilan mengubah cara seseorang memandang dirinya dan orang lain.

Prestasi Tidak Salah, Tetapi Hati Harus Terus Dijaga

Islam sejak awal mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan kerendahan hati.

Seorang pedagang boleh menjadi kaya.

Seorang ilmuwan boleh menjadi terkenal.

Dan seorang pejabat boleh memiliki jabatan tinggi.

Bahkan seorang dai boleh dikenal jutaan orang.

Semuanya merupakan nikmat yang patut disyukuri apabila diperoleh dengan cara yang halal.

Namun, nikmat tersebut akan berubah menjadi ujian ketika seseorang mulai merasa bahwa keberhasilannya lahir semata-mata karena kemampuan dirinya.

Allah SWT mengingatkan:

“Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia karena sombong, dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18).

Ayat ini tidak membahas pakaian, kendaraan, atau jabatan. Yang menjadi sorotan adalah sikap hati.

Kesombongan selalu dimulai dari dalam, kemudian tampak melalui ucapan dan perilaku.

Bahaya Kesombongan yang Tidak Disadari

Budaya digital membuat manusia semakin mudah menampilkan sisi terbaik kehidupannya. Dalam banyak keadaan, hal itu bukanlah kesalahan. Berbagi kabar baik atau pencapaian dapat menjadi bentuk syukur dan inspirasi.

Namun, persoalannya muncul ketika tujuan utama bergeser dari berbagi manfaat menjadi mencari pengakuan.

Hari ini, ukuran keberhasilan sering kali dihitung dari jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar yang memuji.

Sebaliknya, kualitas akhlak, keikhlasan, dan kerendahan hati justru jarang menjadi bahan pembicaraan.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Bukan karena media sosial pasti melahirkan kesombongan, tetapi karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai pujian.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13).

Kemuliaan dalam Islam tidak diukur dari popularitas, melainkan ketakwaan.

Penjelasan Ulama: Kesombongan Bukan Soal Penampilan

Sebagian orang pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai seseorang yang senang memakai pakaian indah.

Beliau menjawab:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)

Imam An-Nawawi ketika mensyarah hadis ini menjelaskan bahwa inti kesombongan bukan terletak pada pakaian, harta, atau penampilan, melainkan pada dua hal: menolak kebenaran setelah mengetahuinya dan memandang rendah orang lain.

Karena itu, seseorang yang berpakaian sederhana belum tentu rendah hati. Sebaliknya, orang yang memiliki harta dan jabatan belum tentu sombong.

Yang menentukan adalah keadaan hatinya.

Muhasabah Sebelum Terlambat

Mungkin musuh terbesar seorang mukmin bukanlah dosa yang tampak, melainkan dosa yang berhasil bersembunyi di balik prestasi.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kebutuhan untuk bermuhasabah.

Semakin luas pengaruhnya, semakin besar pula tanggung jawab menjaga hati.

Rasulullah ﷺ tidak pernah melarang umatnya menjadi hebat. Beliau justru mengajarkan agar setiap keberhasilan selalu dikembalikan kepada Allah sebagai bentuk syukur, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Barangkali itulah mengapa para ulama salaf lebih takut terhadap kesombongan yang tidak disadari daripada kesalahan yang segera mereka akui. Sebab dosa yang terlihat masih mungkin ditinggalkan, sedangkan kesombongan sering kali menyamar sebagai rasa bangga yang dianggap wajar.

Kesombongan hampir tidak pernah datang sambil berkata, “Aku lebih baik.” Ia justru datang ketika hati mulai percaya bahwa semua keberhasilan adalah hasil dirinya sendiri. Prestasi memang dapat mengangkat nama seseorang di hadapan manusia, tetapi hanya kerendahan hati yang mengangkat derajatnya di hadapan Allah. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemiskinan Tasikmalaya

    Dibantu ITB dan Pemprov, Desa Padakembang Jadi Contoh Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 85
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kemiskinan Tasikmalaya kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di tengah besarnya potensi sumber daya yang dimiliki, angka kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya masih berada di atas rata-rata nasional. Kondisi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Potensi Desa Padakembang yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat bersama […]

  • Suasana budaya Sunda dalam peringatan Hari Tatar Sunda di Jawa Barat sebagai simbol pelestarian identitas dan warisan leluhur.

    18 Mei Resmi Jadi Hari Tatar Sunda, Jabar Perkuat Identitas Budaya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil satu langkah yang sarat makna budaya. Mulai tahun ini, setiap 18 Mei resmi diperingati sebagai Hari Tatar Sunda. Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terlihat seperti agenda seremonial biasa. Namun bagi masyarakat Sunda, penetapan tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih […]

  • Ilustrasi seorang muslim bersedih lalu ditenangkan sahabat sebagai simbol persaudaraan Islam yang menguatkan

    Kita Sering Lupa… Inilah Hakikat Persaudaraan Islam

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Makna persaudaraan Islam, ukhuwah Islamiyah, dan hubungan sesama muslim sering kita dengar. Namun, tidak semua orang benar-benar merasakannya. Padahal, di balik kata sederhana itu, tersimpan kekuatan yang bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Malam itu, hujan turun pelan. Seorang pria duduk sendirian di sudut kamar. Lampu redup, ponsel tergeletak, dan pikirannya penuh. Ia […]

  • Ilustrasi tradisi mudik Indonesia saat Lebaran dengan kendaraan memenuhi jalan raya menuju kampung halaman

    Asal Usul Mudik yang Jarang Dibahas, Ternyata Bukan Hanya Tradisi Lebaran

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Mudik Indonesia, tradisi pulang kampung saat Lebaran, sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap tahun jutaan orang melakukan perjalanan jauh untuk mudik ke kampung halaman. Namun, asal usul mudik Indonesia ternyata tidak hanya berkaitan dengan Idulfitri. Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang yang jarang dibahas media, mulai dari budaya desa Nusantara […]

  • Al Hikam Ibnu Athaillah

    Saat Manusia Sok Jadi Manajer Takdir

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 178
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Suara notifikasi ponsel belum berhenti sejak subuh. Ada tagihan, daftar kebutuhan rumah, harga sembako yang naik, sampai target pekerjaan yang terus bertambah. Di tengah hiruk pikuk itu, banyak orang lupa bahwa Al Hikam Ibnu Athaillah, hikmah Ibnu Athaillah, dan ajaran tentang tawakal dan ikhtiar sesungguhnya hadir untuk mengingatkan manusia agar tidak tenggelam […]

  • wajah mulus tanpa jenggot

    Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

    • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Tren wajah mulus tanpa jenggot kini menjadi standar maskulinitas baru di Korea Selatan, dipengaruhi budaya K-pop dan modernitas. albadarpost.com, LENSA HUMANIORA – Standar kecantikan bagi pria di Korea Selatan mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Wajah mulus tanpa jenggot kini dianggap sebagai penampilan ideal, menggantikan simbol maskulinitas tradisional yang lekat dengan jenggot tebal sebagai […]

expand_less