Banyak yang Belum Tahu, Begini Tata Cara Salat Jenazah Sesuai Sunnah
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi jamaah sedang melaksanakan salat jenazah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Di tengah kesibukan sehari-hari, salat jenazah sering hadir tanpa banyak pemberitahuan. Seseorang wafat. Kabar menyebar dari mulut ke mulut, grup WhatsApp keluarga, atau pengeras suara masjid. Tidak lama kemudian, jamaah mulai berdatangan untuk melaksanakan salat jenazah, sebuah ibadah yang sederhana namun menyimpan pelajaran besar tentang kehidupan dan kematian.
Siang itu, misalnya. Sebuah keranda berbalut kain hijau terletak di depan saf pertama. Cahaya matahari masuk melalui jendela masjid dan membentuk garis tipis di lantai keramik yang mengilap. Kipas angin tua di langit-langit berputar perlahan. Suaranya terdengar samar di sela-sela bisikan jamaah yang baru datang.
Tidak ada yang berbicara keras.
Suasananya berbeda.
Salat jenazah memang hanya berlangsung beberapa menit. Namun sering kali, kesannya bertahan jauh lebih lama.
Mengapa Salat Jenazah Begitu Penting?
Dalam Islam, salat jenazah termasuk fardu kifayah. Artinya, jika sebagian umat Islam telah melaksanakannya, kewajiban itu gugur bagi yang lain. Namun jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, seluruh masyarakat setempat dapat menanggung dosa.
Karena itu, para ulama sejak dahulu menaruh perhatian besar terhadap ibadah ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menghadiri jenazah hingga disalatkan, maka baginya satu qirath pahala. Dan barang siapa menghadirinya hingga dimakamkan, maka baginya dua qirath pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika para sahabat bertanya tentang besarnya satu qirath, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa nilainya seperti gunung yang besar.
Bukan pahala yang kecil.
Karena itulah, setiap kali ada kesempatan mengikuti salat jenazah, banyak ulama menganjurkan untuk tidak melewatkannya.
Tata Cara Salat Jenazah yang Perlu Diketahui
Berbeda dengan salat lima waktu, salat jenazah tidak memiliki rukuk, sujud, maupun tasyahud. Seluruh rangkaian dilakukan dalam posisi berdiri.
Niat
Untuk jenazah laki-laki:
أُصَلِّي عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُومًا/إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallī ‘alā hādzal mayyiti arba’a takbīrātin fardhal kifāyati ma’mūman/imāman lillāhi ta’ālā.
Untuk jenazah perempuan, kata الميت diganti الميتة.
Takbir Pertama
Imam memulai salat dengan takbiratul ihram.
Setelah itu jamaah membaca Surah Al-Fatihah.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Isra: 82)
Takbir Kedua
Setelah takbir kedua, jamaah membaca selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Minimal membaca:
“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ”
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”
Selawat menjadi bentuk penghormatan kepada Rasulullah sekaligus bagian dari doa yang dipanjatkan dalam salat jenazah.
Takbir Ketiga
Pada bagian ini jamaah mendoakan orang yang meninggal dunia.
Di antaranya:
“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ”
“Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.”
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah dia.
Untuk jenazah perempuan, kata له diganti لها.
Inilah inti dari salat jenazah.
Doa.
Tidak ada sujud. Tidak ada rukuk. Yang ada adalah permohonan tulus agar Allah memberikan ampunan kepada saudara sesama Muslim yang telah mendahului.
Takbir Keempat
Setelah takbir keempat, jamaah kembali berdoa sebelum salam.
“اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ”
“Allahumma lā tahrimnā ajrahu wa lā taftinnā ba’dahu waghfir lanā wa lahu.”
Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, jangan Engkau beri kami fitnah setelahnya, dan ampunilah kami serta dia.”
Kemudian imam menutup salat dengan salam.
Singkat.
Tetapi maknanya sangat dalam.
Saat Kematian Menjadi Nasihat Paling Sunyi
Menariknya, salat jenazah bukan hanya tentang orang yang meninggal.
Ibadah ini juga berbicara kepada orang-orang yang masih hidup.
Di barisan kedua, seorang pemuda tampak melirik ke samping dan bertanya pelan kepada temannya tentang bacaan setelah takbir kedua. Di saf belakang, seorang bapak paruh baya mengangkat kedua tangannya sedikit lebih lama setelah imam selesai berdoa.
Mungkin ia sedang mengingat seseorang.
Mungkin juga dirinya sendiri.
Tidak ada yang tahu.
Anehnya, banyak orang baru benar-benar memikirkan kematian ketika berdiri dalam salat jenazah. Padahal beberapa menit sebelumnya mereka masih sibuk melihat notifikasi ponsel, membahas pekerjaan, atau bercanda dengan teman.
Begitulah manusia.
Sering merasa perjalanan hidup masih panjang.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini sangat pendek.
Namun hampir tidak ada manusia yang bisa menghindari maknanya.
Pelajaran yang Sering Datang Terlambat
Ada satu hal yang membuat salat jenazah selalu terasa berbeda.
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dirinya akan berada di balik doa-doa itu.
Hari ini seseorang berdiri sebagai jamaah.
Besok, bisa jadi orang lain yang berdiri mendoakannya.
Kesadaran seperti itu sering muncul tiba-tiba. Kadang saat melihat keranda. Kadang saat mendengar imam mengucapkan takbir pertama. Dan kadang justru ketika jamaah mulai meninggalkan masjid dan suasana kembali sepi.
Pelan-pelan.
Lalu hilang lagi karena kesibukan.
Padahal pesan yang dibawa salat jenazah sangat jelas.
Hidup tidak berlangsung selamanya.
Jabatan akan selesai. Harta akan ditinggalkan. Popularitas akan memudar. Yang tersisa hanyalah amal dan doa.
Karena itu, salat jenazah bukan sekadar ritual mengantar orang yang meninggal dunia.
Ia adalah pengingat.
Tentang akhir perjalanan.
Tentang pentingnya mempersiapkan bekal.
Dan tentang kenyataan bahwa setiap langkah yang kita ambil hari ini, pada akhirnya sedang menuju tempat yang sama.
Empat takbir dalam salat jenazah hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi hati yang masih mau mendengar, empat takbir itu cukup untuk mengingatkan satu kenyataan yang sering dilupakan: kita sedang menjalani kehidupan, sekaligus berjalan menuju kepulangan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar