Banyak Keluarga Retak karena Utang, Nabi Sudah Mengingatkannya
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seorang kepala keluarga termenung memikirkan utang rumah tangga.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Hutang dalam Islam sejak dulu sudah menjadi perhatian serius. Rasulullah SAW bahkan sering berdoa agar dijauhkan dari lilitan hutang karena dampaknya tidak hanya menyentuh urusan uang, tetapi juga ketenangan hidup, hubungan keluarga, bahkan kualitas ibadah seseorang.
Hari ini, hadis tentang hutang itu terasa semakin nyata. Banyak keluarga tampak baik-baik saja di media sosial, tetapi diam-diam hidup di bawah tekanan cicilan, pinjaman online, dan tagihan yang terus datang tanpa jeda.
Ada ayah yang tetap memakai seragam kerja rapi setiap pagi, lalu berangkat sambil tersenyum kecil di depan anak-anaknya. Namun beberapa menit kemudian, ia berhenti sebentar di pinggir jalan hanya untuk menarik napas panjang setelah membaca pesan penagihan di ponselnya.
Di dalam rumah, amplop tagihan listrik masih terlipat di atas kulkas. Sementara di meja makan, obrolan mulai pendek-pendek. Tidak ada pertengkaran besar. Hanya suasana yang perlahan berubah dingin.
Dan anehnya, zaman sekarang orang bisa membeli kopi mahal sambil pura-pura tenang, padahal limit pinjaman onlinenya tinggal beberapa ribu rupiah lagi.
Rasulullah SAW Sering Memohon Perlindungan dari Hutang
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW membaca doa:
“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan hutang.”
Ketika sahabat bertanya mengapa Rasulullah begitu sering meminta perlindungan dari hutang, beliau menjawab:
“Karena seseorang jika berhutang, ia akan berkata lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.”
(HR Bukhari)
Hadis ini terasa sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang awalnya berhutang untuk kebutuhan kecil. Namun setelah tekanan datang, sebagian mulai menghindari telepon, sulit tidur, bahkan kehilangan ketenangan saat berkumpul bersama keluarga.
Islam tidak melarang hutang. Akan tetapi, Islam mengingatkan bahwa hutang adalah amanah berat yang bisa menyeret seseorang ke dalam tekanan batin jika tidak dijaga dengan tanggung jawab.
Gaya Hidup Modern Membuat Banyak Orang Terjebak
Salah satu penyebab terbesar masalah hutang hari ini ialah gaya hidup yang dipaksakan. Media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat sukses, meski kondisi keuangan sebenarnya sedang goyah.
Ada yang rela mengambil cicilan demi ponsel baru. Ada yang memaksakan liburan agar terlihat bahagia di dunia maya. Bahkan ada keluarga yang tetap menggelar hajatan hanya karena takut dianggap gagal oleh lingkungan sekitar.
Lucunya, setelah semua foto selesai diunggah, kecemasan itu tetap pulang bersama mereka.
Kadang malam di sebuah rumah terasa sunyi sekali. Televisi menyala, tetapi tidak benar-benar ditonton. Anak-anak masuk kamar lebih cepat. Sementara orang tuanya duduk diam menghitung sisa saldo di layar ponsel yang cahayanya menyinari wajah lelah mereka.
Dan sering kali, hutang tidak langsung menghancurkan rumah. Ia masuk pelan-pelan. Lewat cicilan kecil. Lewat gengsi yang dianggap biasa. Sampai akhirnya ketenangan di rumah mulai habis tanpa sadar.
Hutang Bisa Mengganggu Ibadah dan Pikiran
Dalam Islam, hutang bukan sekadar masalah ekonomi. Hutang juga bisa memengaruhi kesehatan mental dan hubungan seseorang dengan Allah SWT.
Orang yang terlalu tertekan oleh hutang sering kehilangan fokus saat salat. Pikirannya terus dipenuhi jadwal pembayaran, bunga pinjaman, atau ancaman penagihan yang datang sewaktu-waktu.
Ada orang yang masih duduk lama di atas sajadah setelah salat isya. Tapi bukan karena ingin berzikir lebih khusyuk. Dadanya hanya terasa penuh. Berat sekali. Ia bingung harus mulai mencari uang dari mana lagi besok pagi.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.”
(QS Al-Isra: 26)
Ayat ini mengingatkan bahwa gaya hidup berlebihan sering menjadi pintu awal datangnya masalah keuangan. Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, dan kemampuan mengendalikan keinginan.
Islam Mengajarkan Hidup Secukupnya
Islam tidak melarang umatnya hidup nyaman atau memiliki harta. Namun Islam sangat menekankan tanggung jawab dan ketenangan hati dalam mencari rezeki.
Rasulullah SAW bahkan pernah menunda menyalatkan jenazah seseorang yang masih memiliki hutang sebelum ada jaminan pelunasan. Peristiwa itu menunjukkan betapa seriusnya persoalan hutang dalam Islam.
Karena itu, sebelum berhutang, seseorang perlu bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya rasa takut tertinggal dari orang lain?
Kadang yang paling melelahkan bukan jumlah tagihannya. Tapi rasa malu ketika harus terus bilang “insyaallah segera dibayar” padahal hati sendiri mulai goyah. Sedikit.
Cara agar Keluarga Terhindar dari Lilitan Hutang
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan agar keluarga lebih aman dari tekanan hutang. Pertama, membedakan kebutuhan dan keinginan. Kedua, menghindari gaya hidup konsumtif. Ketiga, membiasakan musyawarah keuangan dalam rumah tangga.
Selain itu, perbanyak doa agar Allah memberi kecukupan dan keberkahan rezeki. Sebab tidak sedikit keluarga yang sebenarnya berpenghasilan cukup, tetapi tetap merasa kurang karena gaya hidup berjalan lebih cepat daripada kemampuan.
Dalam banyak kasus, masalah terbesar bukan pendapatan yang kecil. Masalah muncul ketika keinginan tumbuh tanpa batas.
Hutang memang tidak selalu langsung merobohkan rumah. Namun pelan-pelan, ia bisa mencuri tidur, mengubah nada bicara di meja makan, lalu membuat sebuah keluarga terasa asing… bahkan ketika masih tinggal di atap yang sama. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar