Bukan Sekadar Haul, Mama Kudang Satukan Ribuan Jamaah di Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ribuan jamaah menghadiri Haul Akbar ke-67 KH Ahmad Sudja'i di Komplek Pesantren Kudang Kota Tasikmalaya, Minggu (31/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Lautan jamaah memadati kawasan Masjid Komplek Pesantren Kudang, Jalan Gudang Pesantren, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Minggu (31/5/2026). Sejak pagi, arus kedatangan jamaah terus mengalir menuju lokasi Haul Akbar ke-67 KH Ahmad Sudja’i atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mama Kudang.
Dari area parkir hingga halaman pesantren, suasana terlihat penuh namun tetap tertib. Di beberapa sudut kompleks, jamaah tampak duduk beralas tikar sederhana sambil menunggu acara dimulai. Sebagian membawa payung untuk mengantisipasi perubahan cuaca, sementara yang lain memilih berteduh di bawah rindangnya pepohonan yang mengelilingi kawasan pesantren.
Menjelang tausiyah dimulai, lantunan shalawat dari pengeras suara terdengar menggema hingga ke jalan sekitar pesantren. Suara itu seolah menjadi penanda bahwa haul bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum yang selalu dinanti ribuan jamaah dari berbagai daerah.
Namun di balik besarnya jumlah kehadiran, ada pesan yang lebih dalam. Haul Mama Kudang tahun ini memperlihatkan bagaimana jejak seorang ulama masih hidup puluhan tahun setelah wafatnya.
Bukan Sekadar Mengenang, Tetapi Menjaga Warisan Keilmuan
Pelaksana Harian Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara hadir bersama tokoh agama, pengasuh pesantren, santri, alumni, serta masyarakat umum yang memadati lokasi kegiatan.
Acara diawali dengan tawasulan yang dipimpin Mama Ending dari Cinusa Kawalu. Selanjutnya, DR H Ahmad Zaki Mubarak membacakan biografi KH Ahmad Sudja’i yang dikenal sebagai pendiri majelis pengajian dan Pondok Pesantren Kudang periode 1900 hingga 1962.
Ketika nama KH Ahmad Sudja’i disebut berulang kali dalam pembacaan biografi tersebut, beberapa jamaah tampak menundukkan kepala. Sebagian lainnya tetap fokus mendengarkan hingga akhir, seolah sedang mengingat kembali cerita-cerita yang pernah mereka dengar dari orang tua, guru, atau generasi sebelumnya.
Bagi sebagian masyarakat Tasikmalaya, Mama Kudang bukan hanya tokoh sejarah.
Beliau adalah bagian dari mata rantai keilmuan yang masih terasa pengaruhnya hingga hari ini.
Ketika Ulama dan Umaro Bertemu dalam Satu Majelis
Tema haul tahun ini, “Sinergi Ulama dan Umaro, Pemberdayaan Ekonomi Santri Jejaring Sanad Keilmuan”, memperlihatkan bahwa pesantren tidak hanya berbicara tentang masa lalu.
Tema tersebut juga menyoroti pentingnya membangun masa depan melalui pendidikan, ekonomi, dan penguatan karakter generasi muda.
Dalam sambutannya, Rd Diky Candranegara menegaskan bahwa haul menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus menjaga nilai perjuangan para ulama.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Menurut Diky, semangat perjuangan KH Ahmad Sudja’i harus terus diwariskan kepada generasi penerus, terutama para santri yang saat ini melanjutkan tradisi keilmuan di lingkungan Pondok Pesantren Kudang.
Tidak Semua Jamaah Datang dengan Alasan yang Sama
Menariknya, tidak semua jamaah yang hadir datang dengan alasan yang sama.
Sebagian hadir untuk mengikuti tawasulan dan doa bersama.
Sebagian lainnya datang karena memiliki ikatan emosional dengan pesantren atau keluarga besar Mama Kudang.
Ada pula yang sengaja hadir untuk merasakan suasana haul yang telah menjadi tradisi turun-temurun di Tasikmalaya.
Fragmen-fragmen kecil itu terlihat di berbagai sudut lokasi.
Beberapa jamaah lanjut usia tampak datang didampingi anak atau cucunya. Ada yang berjalan perlahan menuju area utama kegiatan sambil berpegangan tangan.
Setelah acara berlangsung, sejumlah alumni dan jamaah terlihat saling menyapa. Beberapa bahkan mengabadikan momen dengan berfoto bersama teman-teman lama yang jarang ditemui.
Pemandangan sederhana itu mungkin tidak tercantum dalam susunan acara resmi.
Namun justru di situlah makna haul terasa hidup.
Ia menjadi ruang pertemuan antara ilmu, kenangan, dan silaturahmi.
Warisan Ulama yang Tidak Pernah Berhenti Mengalir
Tausiyah yang disampaikan Kiai Akah E Muslihuddin mengingatkan jamaah bahwa seorang ulama tidak hanya meninggalkan nama.
Mereka meninggalkan ilmu.
Meninggalkan akhlak.
Meninggalkan murid-murid yang kemudian meneruskan perjuangan.
Karena itu, keberadaan pesantren dan majelis ilmu menjadi bukti bahwa perjuangan seorang ulama tidak berhenti saat ia wafat.
Sebaliknya, perjuangan itu terus hidup melalui generasi yang melanjutkan ajarannya.
Meski demikian, tidak semua tantangan zaman hari ini sama dengan masa ketika Mama Kudang hidup.
Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika kehidupan masyarakat terus bergerak.
Namun kebutuhan terhadap ilmu, akhlak, dan keteladanan tetap sama.
Itulah sebabnya haul masih relevan hingga sekarang.
Bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk mengingatkan arah perjalanan masa depan.
Ukhuwah yang Menjadi Modal Kota Tasikmalaya
Haul Akbar ke-67 KH Ahmad Sudja’i juga memperlihatkan eratnya hubungan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam membangun Kota Tasikmalaya yang religius, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Di tengah berbagai perubahan yang terus terjadi, masyarakat masih membutuhkan ruang kebersamaan seperti ini.
Ruang yang tidak dibangun oleh kepentingan sesaat.
Tetapi dibangun oleh rasa hormat kepada ilmu dan keteladanan.
Ribuan orang mungkin datang ke Haul Mama Kudang dengan niat yang berbeda-beda. Namun mereka pulang membawa pesan yang sama: seorang ulama boleh meninggalkan dunia puluhan tahun lalu, tetapi ilmu yang dia tanam, akhlak yang dia ajarkan, dan doa yang dia wariskan dapat terus hidup di hati generasi yang bahkan tidak pernah sempat menatap wajahnya secara langsung. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar