Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Saat Anak Diam Mengamati Pertengkaran Orang Tua

Saat Anak Diam Mengamati Pertengkaran Orang Tua

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 226
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Sering kali orang tua mengira anak tidak memperhatikan. Padahal, di sudut ruangan, anak justru menyerap semuanya—nada suara, raut wajah, hingga kata-kata yang terlontar saat orang tuanya bertengkar.

Konflik dalam rumah tangga memang tidak terhindarkan. Namun, yang jarang disadari, cara mengelola pertengkaran di keluarga justru membentuk cara anak memahami emosi, hubungan, dan rasa aman. Bukan konflik itu sendiri yang paling berpengaruh, melainkan bagaimana orang tua menanganinya.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.

Anak Belajar dari Apa yang Mereka Lihat, Bukan yang Kita Ucapkan

Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar tentang dunia bukan dari ceramah panjang, tetapi dari contoh nyata yang mereka saksikan setiap hari.

Baca juga: Resmi, Panduan Lengkap Cek Bansos PKH-BPNT 2026

Ketika orang tua beradu argumen dengan suara tinggi dan emosi tak terkendali, anak bisa merasa cemas, bingung, bahkan takut. Namun sebaliknya, saat orang tua berbeda pendapat dengan tetap saling menghargai, anak belajar bahwa perbedaan tidak harus berujung luka.

Lebih jauh, anak memahami bahwa emosi boleh muncul, tetapi tetap perlu dikendalikan. Dari situ, anak mulai mengenali konsep empati, kesabaran, dan tanggung jawab emosional.

Cara Mengelola Konflik di Keluarga agar Anak Belajar Hal Positif

Mengelola konflik secara sehat bukan berarti meniadakan perbedaan. Justru, orang tua perlu menunjukkan bagaimana perbedaan dapat diselesaikan dengan dewasa.

Pertama, orang tua perlu mengatur emosi sebelum berbicara. Menenangkan diri bukan tanda kalah, melainkan bentuk kedewasaan. Ketika orang tua menunda diskusi sampai suasana lebih tenang, anak belajar bahwa emosi tidak boleh mengendalikan keputusan.

Selanjutnya, gunakan bahasa yang tidak menyalahkan. Kalimat yang dimulai dengan “aku merasa” jauh lebih mendidik dibandingkan tuduhan. Dengan cara ini, anak melihat contoh komunikasi yang jujur namun tetap menghormati.

Selain itu, penting bagi orang tua untuk memperlihatkan proses berdamai. Permintaan maaf dan kesepakatan sederhana memberi pesan kuat kepada anak bahwa hubungan tidak runtuh hanya karena konflik.

Batasan yang Harus Dijaga Demi Keamanan Emosional Anak

Meski konflik bisa menjadi pembelajaran, orang tua tetap perlu memahami batasannya. Tidak semua pertengkaran pantas disaksikan anak, terutama konflik yang penuh amarah atau menyentuh persoalan sensitif.

Anak juga tidak boleh dijadikan penengah atau tempat meluapkan emosi. Peran ini dapat membebani anak secara psikologis dan membuat mereka merasa bertanggung jawab atas masalah orang dewasa.

Dengan menjaga batas yang jelas, orang tua tetap bisa menyelesaikan konflik tanpa mengorbankan rasa aman anak.

Ketika Pertengkaran Justru Menguatkan Ikatan Keluarga

Menariknya, konflik yang dikelola dengan sehat justru dapat memperkuat hubungan keluarga. Anak yang melihat orang tuanya mampu menyelesaikan perbedaan dengan baik cenderung tumbuh lebih percaya diri dan stabil secara emosional.

Anak juga belajar bahwa hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan yang mau belajar, memperbaiki diri, dan saling memaafkan.

Baca juga: Membaca Arti Simbol NU dalam Sejarah Umat Islam Indonesia

Bekal ini akan sangat berarti ketika anak menghadapi konflik di sekolah, pertemanan, hingga kelak membangun keluarga sendiri.

Anak Mengingat Lebih Lama dari yang Kita Kira

Anak mungkin tidak selalu bertanya, tetapi mereka selalu mengamati. Setiap konflik yang terjadi di rumah meninggalkan jejak—entah berupa luka, atau justru pelajaran hidup.

Dengan memahami cara mengelola pertengkaran di keluarga, orang tua dapat mengubah momen sulit menjadi ruang belajar yang berharga. Pada akhirnya, bukan kesempurnaan yang anak butuhkan, melainkan contoh kejujuran, empati, dan tanggung jawab emosional dari orang tuanya. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus korupsi nikel menyeret pejabat tinggi Ombudsman

    Uang Rp1,5 M Bongkar Skandal Ombudsman, Modusnya Terselubung

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 207
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus suap Ombudsman kini memasuki babak serius setelah penyidik mengungkap dugaan aliran dana Rp1,5 miliar yang menyeret seorang komisioner aktif. Dugaan korupsi Ombudsman ini tidak sekadar soal uang, tetapi juga mengarah pada praktik manipulasi mekanisme pengaduan demi kepentingan perusahaan. Penggeledahan berlangsung di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026. Tim JAM PIDSUS […]

  • PDAM Banjar

    PDAM Banjar Diprotes, Petani Soroti Pengukuran Lahan

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – PDAM Banjar menuai protes dari para petani penggarap di kawasan Mandalare, Kota Banjar, setelah proses pengukuran lahan untuk rencana pembangunan fasilitas penampungan air dilakukan tanpa koordinasi langsung dengan warga. Polemik protes petani Banjar itu tidak berangkat dari penolakan terhadap proyek pelayanan publik, melainkan dari cara pelaksanaannya yang dinilai mengabaikan komunikasi, etika […]

  • Makan Bergizi Gratis

    Menteri Arifatul Tinjau Makan Bergizi Gratis

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 137
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Makan Bergizi Gratis atau program MBG kembali mendapat perhatian pemerintah pusat. Program pemenuhan gizi bagi siswa tersebut menjadi salah satu upaya menyiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. Saat meninjau langsung pelaksanaannya di SDN Hegarsari, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi, menyaksikan bagaimana makanan bergizi tidak […]

  • Kebakaran rumah Ciamis

    Kebakaran Rumah Ciamis, Satu Rumah Warga Dilalap Api

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 83
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kebakaran Rumah Ciamis kembali menjadi perhatian setelah kobaran api dilaporkan menghanguskan sebuah rumah milik warga di Dusun Bunirasa RT 04 RW 04, Kabupaten Ciamis, Rabu (15/7/2026). Insiden rumah terbakar di Ciamis itu segera dilaporkan kepada pihak terkait agar penanganan berlangsung secepat mungkin. Berdasarkan informasi awal yang diterima, rumah yang terbakar merupakan […]

  • Pasal 240 KUHP

    Pasal 240 KUHP Tak Lagi Mengikat, Apa Batas Kritik Warga?

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 26
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pasal 240 KUHP kini tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan seluruh permohonan pengujian materiil terhadap ketentuan penghinaan pemerintah atau lembaga negara. Putusan tersebut juga menyentuh Pasal 241 KUHP, sekaligus membuka kembali perdebatan mengenai batas antara kritik, penghinaan, dan kebebasan berekspresi. MK mengucapkan Putusan Nomor 282/PUU-XXIII/2025 pada Jumat, […]

  • Motor Terbakar SPBU

    Diduga Korslet, Tiga Motor Terbakar di Area SPBU Karangnunggal

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana SPBU di wilayah Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya mendadak panik ketika tiga sepeda motor tiba-tiba terbakar saat sedang antre mengisi bensin, Selasa (19/5/2026). Peristiwa motor terbakar SPBU itu memicu kepanikan pengunjung setelah api muncul cepat disertai asap hitam pekat yang langsung membumbung tinggi di area pengisian bahan bakar. Tiga motor yang terbakar […]

expand_less