Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » “Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

“Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 178
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost menilai kebijakan ayah ambil rapor bersifat simbolik dan belum menyentuh akar krisis pengasuhan.


Kebijakan Ringan di Tengah Masalah Berat

albadarpost.com, EDITORIAL – Negara kembali menghadirkan kebijakan yang terdengar hangat, mudah diterima, dan cepat viral: Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Pesannya sederhana. Ayah diminta hadir ke sekolah saat pembagian rapor. Tujuannya mulia, mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Namun justru karena terdengar ringan dan manis, kebijakan ini perlu diuji lebih serius. Sebab krisis pengasuhan di Indonesia bukan perkara seremoni, melainkan persoalan struktural yang menyentuh kerja, budaya, dan ketimpangan peran dalam keluarga.

Pertanyaannya bukan apakah ayah penting. Itu sudah selesai sejak lama. Pertanyaan dasarnya adalah apakah negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, atau sekadar memproduksi kebijakan yang mudah difoto dan cepat dilaporkan.


Fakta Dasar: Apa yang Sebenarnya Terjadi

Gerakan Ayah Mengambil Rapor mendorong ayah hadir secara fisik ke sekolah saat pembagian rapor. Aktivitas ini bersifat administratif. Datang, mendengar penjelasan singkat guru, menandatangani dokumen, lalu pulang. Waktunya singkat. Dampaknya belum terukur.

Dalam praktiknya, pembagian rapor berlangsung serentak. Guru menghadapi puluhan wali murid. Interaksi personal nyaris mustahil. Kehadiran ayah dalam konteks ini tidak otomatis bermakna keterlibatan emosional atau pedagogis.

Di saat yang sama, realitas sosial jauh lebih kompleks. Banyak ayah bekerja dengan jam panjang. Ada yang terikat target dan tekanan ekonomi. Ada pula keluarga yang sejak lama dibentuk oleh pembagian peran timpang, di mana pengasuhan dianggap tugas ibu.

Baca juga: Saat Alarm Penegakan Hukum Kembali Berbunyi

Belum lagi fakta lain yang kerap luput: jutaan anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah utuh. Ada yang yatim, ada yang terdampak perceraian, ada pula yang ayahnya hadir secara biologis namun absen secara emosional.


Analisis Redaksi: Kebijakan Simbolik Tanpa Daya Ubah

Di titik inilah posisi redaksi menjadi jelas. Gerakan Ayah Mengambil Rapor adalah kebijakan simbolik. Ia menyampaikan pesan moral, tetapi tidak memampukan perubahan.

Negara seolah berasumsi bahwa absennya ayah dapat diselesaikan dengan edaran dan ajakan. Padahal akar masalahnya berada di sistem kerja yang tidak ramah keluarga, budaya pengasuhan yang timpang, dan absennya kebijakan pendukung jangka panjang.

Menghadirkan ayah di satu momen administratif tidak otomatis memperbaiki relasi ayah-anak. Hubungan itu dibangun dalam keseharian: saat anak belajar, gagal, bertanya, dan butuh didengar. Rapor hanyalah hasil akhir, bukan prosesnya.

Lebih dari itu, kebijakan ini berisiko menciptakan tekanan sosial baru. Sekolah bisa menjadi ruang perbandingan yang sunyi tapi menyakitkan. Ada anak yang rapornya diambil ayah, ada yang diwakili ibu, kakek, atau wali. Negara mungkin melihat partisipasi, tetapi sebagian anak justru merasakan pengingat atas kehilangan.


Belajar dari Pola Global: Sistem, Bukan Seremoni

Negara-negara yang serius membangun kualitas keluarga tidak berhenti pada ajakan simbolik. Mereka mengubah sistem. Cuti ayah diperluas dan fleksibel. Jam kerja diatur agar ramah pengasuhan. Perusahaan diberi insentif untuk mendukung keluarga. Pendidikan pengasuhan menyasar laki-laki sejak awal.

Baca juga: Aquarium Pangandaran Gelar Program Wisata Keluarga

Fokusnya bukan pada kehadiran sesaat, melainkan keterlibatan berkelanjutan. Bukan pada pose, tetapi pada dampak.

Di Indonesia, pola yang muncul justru sebaliknya. Kebijakan dibuat agar mudah dipuji, bukan mudah diukur. Seremonial dikedepankan karena tidak menuntut konflik dengan sistem lama.


Sikap Redaksi: Negara Harus Berani Keluar dari Cangkang

Albadarpost berpihak pada kebijakan publik yang bekerja, bukan yang sekadar terasa. Jika negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, maka keberanian dibutuhkan.

Keberanian untuk menata ulang sistem kerja. Keberanian menantang budaya lama. Keberanian mengakui bahwa krisis pengasuhan tidak bisa diselesaikan dengan satu momen simbolik.

Ajakan moral tanpa pembongkaran hambatan struktural hanya akan berumur pendek. Hangat di awal, basi setelah agenda selesai.


Reflektif

Masa depan anak-anak Indonesia tidak ditentukan oleh foto ayah mengambil rapor. Ia ditentukan oleh keberanian negara berhenti bermain aman dan mulai bekerja di inti persoalan. Selama kebijakan publik hanya mengilapkan cangkang tanpa mengisi substansi, selama itu pula kita akan terus merayakan kesan, sambil kehilangan perubahan.

“Bangsa tidak dibangun oleh kebijakan yang enak dilihat, melainkan oleh kebijakan yang berani mengubah sistem.” (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi pelaku UMKM mengembangkan bisnis kecil dengan strategi digital marketing dan inovasi produk.

    Strategi UMKM, Dari Jualan Rumahan Jadi Bisnis Besar

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Tidak sedikit pelaku usaha kecil memiliki produk bagus, rasa enak, atau kualitas yang layak bersaing. Namun, bisnis mereka tetap jalan di tempat. Di sisi lain, ada UMKM lain yang justru tumbuh cepat meski memulai dari garasi rumah atau modal terbatas. Fenomena itu membuat banyak orang mulai mencari strategi UMKM yang benar-benar […]

  • Suasana tradisi pesantren di Indonesia dengan santri belajar kitab kuning bersama kiai di lingkungan pondok

    Dari Pesantren ke Perjuangan, Ini Jejak yang Mengubah Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 217
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Tradisi pesantren sering dianggap hanya sebatas pendidikan agama. Padahal, pesantren di Indonesia menyimpan peran jauh lebih besar. Sejak dulu, peran pesantren ikut membentuk arah sejarah bangsa—dari pendidikan, budaya, hingga perjuangan. Tidak banyak yang menyadari hal ini. Namun jejaknya nyata. Dari Ruang Sederhana, Lahir Perubahan Besar Awalnya, pesantren berkembang dari kebutuhan masyarakat akan […]

  • Penyaluran bantuan ATENSI Tasikmalaya 2026 kepada ratusan warga di Gedung Juang

    490 Warga Kota Tasikmalaya Terima Bantuan ATENSI, Ini Rinciannya!

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 179
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bantuan ATENSI Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menyalurkan program ini kepada ratusan warga. Program bantuan sosial ini, atau dikenal sebagai Asistensi Rehabilitasi Sosial, menyasar Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat rentan. Kegiatan penyaluran berlangsung di Gedung Juang Kota Tasikmalaya pada Senin, 30 Maret 2026. Selain […]

  • Aneka usaha kuliner rumahan unik seperti dessert modern, frozen food sehat, dan jajanan tradisional premium

    Sepi Pesaing! Usaha Kuliner Rumahan Ini Diam-Diam Bikin Cuan

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang jualan makanan. Tapi tidak semua benar-benar untung. Menariknya, usaha kuliner rumahan yang terlihat sederhana justru sering menghasilkan lebih cepat—terutama yang masuk kategori kuliner rumahan sepi pesaing. Dengan ide tepat dan eksekusi cerdas, bisnis makanan rumahan bisa langsung dilirik pasar tanpa harus perang harga. Di sinilah peluangnya. Banyak yang belum sadar. […]

  • Tradisi Pesantren

    Dari Suara Ngaji Malam, Pesantren Menjaga Wajah Indonesia

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 191
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an masih terdengar pelan dari balik kamar-kamar sederhana di banyak pesantren Indonesia saat malam mulai larut. Sebagian santri duduk bersila sambil memegang kitab kuning yang mulai kusam di bagian sudutnya. Sebagian lain terlihat menghafal pelajaran di bawah cahaya lampu seadanya. Pemandangan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari […]

  • Ilustrasi jejak peradaban Islam di Asia berupa masjid kuno dan jalur perdagangan bersejarah

    Fakta Mengejutkan Jejak Islam di Asia yang Jarang Terungkap

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 324
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Peradaban Islam Asia menyimpan kisah besar yang jarang diketahui. Jejak peradaban Islam di Asia, sejarah Islam Asia, serta penyebaran Islam di benua ini menunjukkan pengaruh luas yang melampaui batas geografis. Bahkan, banyak wilayah yang berkembang pesat berkat nilai, ilmu, dan budaya Islam yang hadir melalui jalur damai. Menariknya, banyak catatan sejarah justru […]

expand_less