Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Revitalisasi Tugu Pancakarsa Berubah, Ornamen Kujang Jadi Sorotan

Revitalisasi Tugu Pancakarsa Berubah, Ornamen Kujang Jadi Sorotan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
  • visibility 228
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Revitalisasi Tugu Pancakarsa memicu polemik setelah perubahan ornamen kujang dianggap menggeser identitas visual Kabupaten Bogor.

albadarpost.com, LENSA – Perubahan bentuk dan tampilan ornamen kujang pada Tugu Pancakarsa memantik sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Tugu yang berada di kawasan Sentul itu sebelumnya dikenal sebagai simbol yang merepresentasikan identitas Kabupaten Bogor. Setelah dilakukan revitalisasi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor, tampilannya kini berubah. Pergeseran desain itulah yang kemudian memunculkan tanya: apakah proses peningkatan estetika ini benar-benar menjaga karakter simbolik yang lama, atau justru menghadirkan wajah baru yang jauh dari makna awalnya?

Tugu Pancakarsa adalah salah satu ikon penting Kabupaten Bogor. Keberadaannya menjadi penanda gerbang wilayah yang ramai dilalui warga maupun pendatang. Saat revitalisasi dilakukan, publik tidak menolak gagasan pembaruan. Namun reaksi muncul ketika hasil akhir ditampilkan di ruang publik. Warga menilai bagian visual yang paling kentara berubah adalah ornamen kujang. Bagi sebagian warga, perubahan itu dianggap terlalu jauh dari karakter awal Tugu Pancakarsa.

Di media sosial, percakapan mengalir cepat. Beberapa warga mengunggah foto sebelum dan sesudah revitalisasi, membandingkan proporsi desain serta detail ukiran pada bagian yang menyerupai senjata tradisional Sunda tersebut. Dalam beberapa unggahan, warganet menilai tampilan baru tugu itu dianggap lebih menyerupai bentuk dekoratif modern yang tidak lagi mewakili identitas lokal. Sementara yang lain menilai perubahan ini adalah bagian dari pembaruan ruang publik yang wajar dilakukan.

Polemik Ornamen Kujang dan Identitas Visual

Sorotan terhadap ornamen kujang ini berangkat dari posisi kujang sebagai simbol budaya Sunda. Lebih dari sekadar artefak, kujang mengandung nilai historis dan filosofi tentang keberanian, kearifan, dan identitas masyarakat Tatar Sunda. Perubahan bentuk kujang—sekecil apa pun—sering dianggap memiliki implikasi simbolik. Karena itu, publik mempertanyakan sejauh mana revitalisasi ini dikonsultasikan kepada ahli budaya atau sekadar berfokus pada estetika visual.

Sejumlah aktivis kebudayaan di Bogor juga menyampaikan pandangan serupa. Mereka menilai ikon publik semestinya dirawat dengan prinsip kehati-hatian. Boleh saja dilakukan peningkatan kualitas, tetapi tidak dengan menghilangkan elemen dasar yang selama ini melekat di ingatan kolektif warga. Tugu yang berdiri di ruang strategis ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, melainkan juga sebagai penanda identitas kawasan.

Pemerintah Kabupaten Bogor menyatakan bahwa revitalisasi Tugu Pancakarsa merupakan bagian dari peningkatan tata ruang kota. Pemerintah menegaskan tidak ada niat menghapus karakter budaya. Upgrading tugu disebut sebagai penyesuaian untuk memberikan citra yang lebih modern. Meski begitu, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya mengurangi reaksi publik karena aspek komunikasi perubahan dinilai kurang terbuka sejak awal.

Proses Revitalisasi dan Transparansi Publik

Warga yang mempertanyakan proses revitalisasi mempersoalkan transparansi tahapan pekerjaan. Mereka menilai proyek yang menyangkut simbol daerah semestinya melibatkan lebih banyak dialog publik. Dalam beberapa diskusi komunitas, warga menyebut sudah seharusnya pemerintah mempublikasikan desain awal revitalisasi agar masyarakat dapat memberi masukan sebelum pembangunan berjalan.

Baca juga: PMT Stunting Jadi Fokus PKK Tasikmalaya Percepat Perbaikan Gizi

Sementara itu, beberapa pihak menyatakan bahwa perubahan tidak perlu diributkan berlebihan. Mereka beranggapan bahwa desain kota bergerak dinamis. Identitas visual pun tidak selalu harus terpaku pada bentuk lama. Bagi kelompok ini, modernisasi desain dianggap sebagai bagian dari evolusi ikon daerah. Meski demikian, kelompok pendukung tetap sepakat bahwa simbol lokal seperti ornamen kujang tidak dapat diperlakukan seperti elemen dekoratif biasa.

Di lapangan, aparat mulai melakukan penataan tambahan di sekitar area tugu. Pemerintah menyebut proses penyempurnaan masih berjalan. Namun belum ada kepastian apakah desain yang menuai reaksi akan ditinjau ulang. Ketidakjelasan itu ikut memperpanjang diskusi di ruang publik.

Identitas, Ruang Publik, dan Masa Depan Tugu Pancakarsa

Polemik revitalisasi Tugu Pancakarsa membuka kembali diskusi lama tentang bagaimana ruang publik harus dikelola. Di satu sisi, pemerintah memiliki kewenangan untuk memperbarui fasilitas kota. Di sisi lain, ruang publik bukan semata milik pemerintah, tetapi juga warga yang hidup dan tumbuh bersama simbol-simbol yang ada di dalamnya.

Kasus perubahan ornamen kujang ini menjadi contoh bahwa pergeseran elemen visual sekecil apa pun bisa memicu respons besar. Identitas adalah sesuatu yang tumbuh perlahan, tetapi dapat tergerus dalam satu keputusan desain yang terburu-buru. Diskusi publik semacam ini justru penting untuk menegaskan bahwa warga masih merawat ikatan simbolik dengan daerahnya. Ketika simbol dipersoalkan, itu berarti ia masih memiliki arti.

Isu ini kemungkinan tidak berhenti di sini. Respons pemerintah, sikap seniman lokal, dan suara warga akan menentukan arah kelanjutan diskusi. Ruang kota terus berubah, tetapi pertanyaannya tetap sama: perubahan seperti apa yang benar-benar mencerminkan identitas masyarakat Bogor? (Red/Asep Chandra)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hajat Laut Pangandaran

    Budaya Terawat, Aqidah Terjaga: Hajat Laut Pangandaran 2026 Hadir Lebih Meriah

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 260
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Hajat Laut Pangandaran 2026 kembali hadir dengan wajah yang lebih lengkap. Tidak hanya menghadirkan perlombaan dan festival budaya, tradisi tahunan masyarakat pesisir ini juga mengusung kegiatan istighosah sebagai penguat nilai spiritual. Mengangkat tema “Budaya Terawat, Aqidah Terjaga”, Hajat Laut Pangandaran akan digelar pada Selasa, 16 Juni 2026 di kawasan Pantai Timur Pangandaran. […]

  • Jamaah Haji Tasikmalaya

    Penuh Haru! Jamaah Haji Tasikmalaya Resmi Berangkat, Pesan Wali Kota Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 203
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jamaah Haji Kota Tasikmalaya akhirnya resmi diberangkatkan. Suasana pelepasan jamaah haji Tasikmalaya 2026 di Masjid Agung berubah haru. Tangis keluarga pecah. Doa-doa mengalir tanpa henti. Kamis (16/4/2026), Viman Alfarizi Ramadhan hadir langsung dalam prosesi pelepasan di Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Ia berdiri di hadapan ratusan jamaah dan keluarga yang sejak pagi […]

  • Drainase Kalangsari

    Viman Benahi Drainase Kalangsari Setelah 15 Tahun

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Drainase Kalangsari akhirnya menjadi prioritas penanganan setelah bertahun-tahun memicu banjir Kalangsari setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Jalan Moh. Hatta, Kota Tasikmalaya. Untuk memastikan percepatan penanganan, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, turun langsung meninjau lokasi. Selain itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan perbaikan drainase Tasikmalaya akan dilakukan melalui sinergi dengan Kementerian Pekerjaan […]

  • Supeltas Puncak

    Perspektif Kebijakan Supeltas Puncak, Batas Tipis Negara–Warga

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Perspektif kebijakan Supeltas Puncak, membaca dampak penataan lalu lintas bagi warga dan tata kelola ruang publik. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Kemacetan di jalur Puncak setiap musim libur bukan sekadar persoalan teknis lalu lintas. Ia adalah persoalan tata kelola publik. Ketika Polres Bogor merekrut Supeltas—sukarelawan pengatur lalu lintas—negara sesungguhnya sedang menjalankan fungsi administratif di ruang abu-abu: memperluas […]

  • FTBI Ciamis 2026

    FTBI Ciamis 2026, Ini 7 Lomba Bahasa Sunda untuk SD

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 34
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — FTBI Ciamis 2026 menghadirkan tujuh mata lomba bahasa dan sastra Sunda untuk peserta didik jenjang sekolah dasar. Kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kabupaten Ciamis itu berlangsung di SD Negeri 1 Cijeungjing, Kamis, 27 Agustus 2026. Tujuh cabang dalam lomba bahasa Sunda Ciamis tersebut mencakup Ngadongéng, Biantara, Maca Sajak, […]

  • Pajak UMKM

    Pajak UMKM Bisa Nihil? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Masih banyak pelaku usaha kecil yang mengira setiap omzet atau setiap penghasilan pasti langsung dikenai pajak. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar. Dalam sistem perpajakan Indonesia, terdapat beberapa kondisi yang memungkinkan Pajak UMKM atau Pajak Penghasilan (PPh) menjadi nol atau tidak terutang sesuai ketentuan yang berlaku. Kesalahan memahami aturan pajak bukan hanya […]

expand_less