Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Hawa nafsu menurut Islam bukan sekadar dorongan untuk memenuhi keinginan duniawi. Dalam banyak keadaan, bahaya hawa nafsu, mengendalikan hawa nafsu, dan muhasabah justru menjadi kunci agar seseorang tidak terperosok ke dalam kesalahan yang tampak indah di permukaan. Di tengah era media sosial, ketika pujian, pengakuan, dan popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, peringatan para ulama klasik terasa semakin relevan.

Pernahkah seseorang merasa yakin bahwa dirinya sedang berada di jalan yang benar, tetapi kemudian sadar bahwa yang diikuti ternyata hanya ego yang dibungkus alasan mulia?

Fenomena itu tidak hanya terjadi pada orang awam. Tokoh berilmu, aktivis, dai, bahkan orang yang rajin beribadah pun dapat mengalaminya. Karena itulah para ulama tasawuf sejak berabad-abad lalu tidak pernah berhenti mengingatkan satu musuh yang selalu ikut ke mana pun manusia melangkah: hawa nafsu.

Saat Hawa Nafsu Tidak Lagi Mengajak Berbuat Dosa

Banyak orang membayangkan hawa nafsu selalu hadir dalam bentuk ajakan bermaksiat. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sering kali hawa nafsu justru tampil dengan wajah yang sopan. Ia tidak mengajak mencuri, tetapi mendorong seseorang ingin dipuji karena sedekahnya. Ia tidak menyuruh meninggalkan salat, tetapi membisikkan rasa bangga karena merasa paling rajin beribadah. Bahkan, ia mampu menyelipkan kesombongan di balik aktivitas dakwah atau amal sosial.

Di sinilah satir kehidupan bermula.

Manusia begitu mudah curiga kepada orang lain, tetapi nyaris tidak pernah mencurigai bisikan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:

أصلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Artinya:

“Pokok dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri. Sedangkan pokok dari setiap ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah tidak merasa puas terhadap hawa nafsumu.”

Kalimat tersebut tidak sedang mengajarkan manusia membenci dirinya. Sebaliknya, Ibnu Athaillah mengajak setiap muslim untuk terus melakukan evaluasi diri. Sebab, rasa puas yang berlebihan sering menjadi pintu masuk kesombongan.

Ketika Merasa Paling Benar Menjadi Awal Petaka

Perhatikan kehidupan sehari-hari.

Ada orang yang marah ketika dikritik, tetapi berbunga-bunga saat dipuji. Ada yang mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekeliruannya sendiri. Ada pula yang aktif mengingatkan orang lain di media sosial, namun enggan menerima nasihat ketika giliran dirinya diingatkan.

Semua itu belum tentu lahir karena niat buruk.

Namun, bisa jadi hawa nafsu sedang memainkan perannya secara halus.

Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah memberikan pesan yang sangat terkenal:

“Tentang selalu hawa nafsu dan syaitan dan jangan menurutkan keduanya. Meskipun keduanya memberi nasihat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.”

Pesan ini terasa sangat relevan pada zaman ketika citra sering lebih dipentingkan daripada isi. Tidak sedikit orang berlomba-lomba terlihat saleh, bijak, atau dermawan di hadapan publik. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah penilaian manusia, melainkan keikhlasan hati.

Al-Qur’an Mengajarkan Sikap Waspada kepada Diri Sendiri

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Yusuf a.s. tidak merasa dirinya sepenuhnya aman dari godaan hawa nafsu. Beliau justru menggantungkan keselamatan kepada rahmat Allah SWT.

Karena itu, orang yang semakin dekat kepada Allah biasanya semakin rendah hati. Mereka tidak sibuk mengumumkan kesalehannya, melainkan lebih banyak mengoreksi dirinya sendiri.

Para Ulama Tidak Pernah Berhenti Bermuhasabah

Abu Hafsh pernah berkata:

“Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, tidak menentangnya dalam segala urusan, dan tidak menariknya menuju kebaikan, maka ia telah tertipu.”

Kalimat ini mengandung pelajaran penting. Menuduh hawa nafsu bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan selalu menguji niat sebelum bertindak.

Apakah keputusan ini benar-benar karena Allah?

Ataukah hanya demi pengakuan manusia?

Imam Al-Junaid menambahkan nasihat yang tak kalah tajam:

“Jangan mempercayai hawa nafsumu meskipun telah lama taat kepadamu dalam beribadah.”

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang dilakukan bertahun-tahun bukan jaminan seseorang terbebas dari rasa ujub atau bangga terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi).

Sementara itu, Allah SWT kembali menegaskan:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Musuh Itu Tidak Pernah Pergi

Syaitan memang menggoda.

Namun, hawa nafsulah yang menentukan apakah godaan itu diterima atau ditolak.

Karena itu, perjuangan terbesar seorang mukmin bukan sekadar melawan dunia di luar dirinya, melainkan menundukkan keinginan yang terus meminta dipenuhi tanpa batas.

Mungkin kita tidak sedang kalah karena kekurangan ilmu.

Mungkin kita kalah karena terlalu cepat merasa sudah cukup baik.

Muhasabah bukan tanda kelemahan. Justru dari sanalah lahir keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Jangan terlalu sibuk mencari musuh di luar rumah. Bisa jadi, musuh yang paling sering Anda bela justru tinggal di dalam dada sendiri—bernama hawa nafsu. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hidup Hemat

    Anak 90-an Baru Sadar, Ternyata Orang Tua Dulu Sangat Hebat Mengatur Uang

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 122
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Generasi 90-an mungkin masih ingat suara tutup kaleng biskuit yang dibuka perlahan, lalu ternyata isinya bukan kue — melainkan uang receh, benang jahit, atau nota belanja lama. Hal-hal kecil seperti itu dulu terasa biasa saja. Namun sekarang, banyak orang justru mulai merindukan cara hidup sederhana orang tua zaman dulu. Di tengah biaya […]

  • Program Tahun Baru Energi Baru

    PLN Gulirkan Program Tahun Baru Energi Baru untuk Pelanggan

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    PLN menghadirkan Program Tahun Baru Energi Baru 2026 berupa diskon tambah daya 50 persen bagi pelanggan. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – PT PLN (Persero) membuka tahun 2026 dengan menghadirkan Program Tahun Baru Energi Baru, sebuah program apresiasi bagi pelanggan yang diwujudkan melalui diskon 50 persen biaya tambah daya listrik. Program ini menjadi bagian dari strategi PLN […]

  • Santri belajar di pesantren tradisional yang menunjukkan alasan pesantren bertahan hingga sekarang.

    Di Tengah Modernisasi, Mengapa Pesantren Justru Semakin Bertahan?

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pesantren bertahan hingga sekarang bukan sekadar karena tradisi lama. Justru, pesantren bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Banyak orang bertanya mengapa pesantren tetap eksis, bahkan ketika sistem pendidikan modern berkembang pesat. Faktanya, keberlanjutan pesantren dipengaruhi oleh kekuatan nilai, jaringan sosial, serta kemampuan lembaga ini menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. […]

  • Potret ilustratif pemimpin kartel narkoba Meksiko dengan latar wilayah Jalisco dan suasana operasi keamanan

    El Mencho: Dari Anak Desa Jalisco hingga Kartel Narkoba Meksiko

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Peta kartel narkoba Meksiko dalam dua dekade terakhir berubah drastis. Di tengah pusaran konflik, satu nama terus muncul dalam laporan intelijen, dokumen keamanan, hingga pemberitaan internasional: El Mencho. Sosok ini tidak hanya memimpin organisasi kriminal bersenjata, tetapi juga membentuk ulang dinamika kartel narkoba Meksiko modern melalui ekspansi agresif dan strategi konsolidasi […]

  • Program sosial

    Kolaborasi Polda Jabar Dorong Perbaikan RTLH

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polda Jawa Barat terus memperkuat peran sosial kepolisian dengan mendorong seluruh jajaran Polres untuk terlibat aktif dalam program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Langkah ini menjadi bagian dari program sosial yang menyasar langsung peningkatan kualitas hidup masyarakat kurang mampu di berbagai daerah di Jawa Barat. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol […]

  • air meluap Majingklak

    Air Meluap di Majingklak, Akses Desa Pamotan Terganggu Hingga Pagi

    • calendar_month Minggu, 9 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Air meluap Majingklak akibat luapan Citanduy menutup akses Pamotan dan merendam rumah warga. albadarpost.com, HUMANIORA – Air dari Sungai Citanduy kembali meluap dan merendam kawasan Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, sejak Sabtu malam (8/11/2025) hingga Minggu pagi (9/11/2025). Genangan yang mencapai setinggi mata kaki itu masuk ke sebagian rumah warga dan menutup jalan utama menuju […]

expand_less