Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 133
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Hawa nafsu menurut Islam bukan sekadar dorongan untuk memenuhi keinginan duniawi. Dalam banyak keadaan, bahaya hawa nafsu, mengendalikan hawa nafsu, dan muhasabah justru menjadi kunci agar seseorang tidak terperosok ke dalam kesalahan yang tampak indah di permukaan. Di tengah era media sosial, ketika pujian, pengakuan, dan popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, peringatan para ulama klasik terasa semakin relevan.

Pernahkah seseorang merasa yakin bahwa dirinya sedang berada di jalan yang benar, tetapi kemudian sadar bahwa yang diikuti ternyata hanya ego yang dibungkus alasan mulia?

Fenomena itu tidak hanya terjadi pada orang awam. Tokoh berilmu, aktivis, dai, bahkan orang yang rajin beribadah pun dapat mengalaminya. Karena itulah para ulama tasawuf sejak berabad-abad lalu tidak pernah berhenti mengingatkan satu musuh yang selalu ikut ke mana pun manusia melangkah: hawa nafsu.

Saat Hawa Nafsu Tidak Lagi Mengajak Berbuat Dosa

Banyak orang membayangkan hawa nafsu selalu hadir dalam bentuk ajakan bermaksiat. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sering kali hawa nafsu justru tampil dengan wajah yang sopan. Ia tidak mengajak mencuri, tetapi mendorong seseorang ingin dipuji karena sedekahnya. Ia tidak menyuruh meninggalkan salat, tetapi membisikkan rasa bangga karena merasa paling rajin beribadah. Bahkan, ia mampu menyelipkan kesombongan di balik aktivitas dakwah atau amal sosial.

Di sinilah satir kehidupan bermula.

Manusia begitu mudah curiga kepada orang lain, tetapi nyaris tidak pernah mencurigai bisikan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:

أصلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Artinya:

“Pokok dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri. Sedangkan pokok dari setiap ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah tidak merasa puas terhadap hawa nafsumu.”

Kalimat tersebut tidak sedang mengajarkan manusia membenci dirinya. Sebaliknya, Ibnu Athaillah mengajak setiap muslim untuk terus melakukan evaluasi diri. Sebab, rasa puas yang berlebihan sering menjadi pintu masuk kesombongan.

Ketika Merasa Paling Benar Menjadi Awal Petaka

Perhatikan kehidupan sehari-hari.

Ada orang yang marah ketika dikritik, tetapi berbunga-bunga saat dipuji. Ada yang mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekeliruannya sendiri. Ada pula yang aktif mengingatkan orang lain di media sosial, namun enggan menerima nasihat ketika giliran dirinya diingatkan.

Semua itu belum tentu lahir karena niat buruk.

Namun, bisa jadi hawa nafsu sedang memainkan perannya secara halus.

Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah memberikan pesan yang sangat terkenal:

“Tentang selalu hawa nafsu dan syaitan dan jangan menurutkan keduanya. Meskipun keduanya memberi nasihat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.”

Pesan ini terasa sangat relevan pada zaman ketika citra sering lebih dipentingkan daripada isi. Tidak sedikit orang berlomba-lomba terlihat saleh, bijak, atau dermawan di hadapan publik. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah penilaian manusia, melainkan keikhlasan hati.

Al-Qur’an Mengajarkan Sikap Waspada kepada Diri Sendiri

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Yusuf a.s. tidak merasa dirinya sepenuhnya aman dari godaan hawa nafsu. Beliau justru menggantungkan keselamatan kepada rahmat Allah SWT.

Karena itu, orang yang semakin dekat kepada Allah biasanya semakin rendah hati. Mereka tidak sibuk mengumumkan kesalehannya, melainkan lebih banyak mengoreksi dirinya sendiri.

Para Ulama Tidak Pernah Berhenti Bermuhasabah

Abu Hafsh pernah berkata:

“Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, tidak menentangnya dalam segala urusan, dan tidak menariknya menuju kebaikan, maka ia telah tertipu.”

Kalimat ini mengandung pelajaran penting. Menuduh hawa nafsu bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan selalu menguji niat sebelum bertindak.

Apakah keputusan ini benar-benar karena Allah?

Ataukah hanya demi pengakuan manusia?

Imam Al-Junaid menambahkan nasihat yang tak kalah tajam:

“Jangan mempercayai hawa nafsumu meskipun telah lama taat kepadamu dalam beribadah.”

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang dilakukan bertahun-tahun bukan jaminan seseorang terbebas dari rasa ujub atau bangga terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi).

Sementara itu, Allah SWT kembali menegaskan:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Musuh Itu Tidak Pernah Pergi

Syaitan memang menggoda.

Namun, hawa nafsulah yang menentukan apakah godaan itu diterima atau ditolak.

Karena itu, perjuangan terbesar seorang mukmin bukan sekadar melawan dunia di luar dirinya, melainkan menundukkan keinginan yang terus meminta dipenuhi tanpa batas.

Mungkin kita tidak sedang kalah karena kekurangan ilmu.

Mungkin kita kalah karena terlalu cepat merasa sudah cukup baik.

Muhasabah bukan tanda kelemahan. Justru dari sanalah lahir keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Jangan terlalu sibuk mencari musuh di luar rumah. Bisa jadi, musuh yang paling sering Anda bela justru tinggal di dalam dada sendiri—bernama hawa nafsu. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TNI di Pesantren

    TNI Panjat Kubah Masjid, Santri Terharu

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 172
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – TNI di pesantren menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga Kota Tasikmalaya menjelang Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Namun kali ini, prajurit Yonif TP 939 Macan Putih tidak datang membawa perlengkapan tempur. Sebaliknya, mereka hadir dengan kuas, cat, sapu, dan semangat gotong royong untuk mempercantik lingkungan Pondok Pesantren Sulalatul Huda di Kecamatan Cihideung. […]

  • PSGC Ciamis

    PSGC Ciamis Resmi Jadi Tim Satelit PERSIB

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – PSGC Ciamis resmi menjalin kerja sama strategis dengan PERSIB Bandung dan menjadi tim satelit PERSIB untuk menghadapi kompetisi Liga 2 Indonesia musim 2026/2027. Kesepakatan tersebut ditandatangani di Kabupaten Ciamis pada Rabu (1/7/2026) sebagai bagian dari upaya memperkuat profesionalisme pengelolaan klub sekaligus meningkatkan pembinaan sepak bola Ciamis. Selain itu, kolaborasi ini membuka […]

  • Santri pesantren berdiskusi dalam forum bahtsul masail dengan kitab kuning membahas hukum Islam dan persoalan modern

    Dari Pesantren, Santri Menjawab Masalah Zaman Lewat Bahtsul Masail

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 197
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Di tengah derasnya perubahan zaman, tidak semua orang tahu bahwa di ruang-ruang sederhana pesantren, para santri rutin membahas persoalan besar umat. Tradisi bahtsul masail menjadi wadah penting yang mempertemukan ilmu klasik dengan realitas modern. Melalui forum ini, bahtsul masail di pesantren tidak hanya menjadi diskusi biasa, tetapi juga ruang kajian fiqih, forum […]

  • Tugu Pahlawan Banjar

    Banyak Warga Tak Tahu, Tugu Pahlawan Banjar Simpan Sejarah Besar

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 125
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Ribuan orang melintasi kawasan Tugu Pahlawan Banjar setiap hari. Kendaraan datang silih berganti, aktivitas warga terus berjalan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berhenti untuk melihat monumen itu lebih dekat. Padahal, Tugu Pahlawan Banjar menyimpan jejak Tentara Pelajar Siliwangi, kisah perjuangan para pelajar yang mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di balik […]

  • krisis psikolog singapura

    Darurat Mental di Singapura: Psikolog Kurang, Pasien Membludak

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 181
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Krisis psikolog Singapura semakin terasa ketika kebutuhan layanan kesehatan mental atau kesehatan mental Singapura melonjak tajam. Di saat yang sama, kekurangan psikolog membuat akses bantuan menjadi lebih sulit. Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan serius antara permintaan dan ketersediaan tenaga ahli. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat justru mempercepat lonjakan permintaan. Oleh karena itu, […]

  • Amanah Umar bin Khattab

    Satu Lampu, Sejuta Pelajaran dari Umar

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 111
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Suatu malam, Umar bin Khattab sedang menyelesaikan urusan pemerintahan di bawah cahaya sebuah lampu yang dibiayai dari Baitul Mal, kas negara kaum Muslimin. Ketika pembicaraan bergeser dari urusan negara menuju persoalan pribadi, beliau menghentikan percakapan sejenak, memadamkan lampu itu, lalu menyalakan lampu lain dengan minyak miliknya sendiri. Peristiwa sederhana inilah yang kemudian […]

expand_less