Tanda Hati Mati Menurut Ibnu Athaillah, Sering Tak Disadari
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi hati mati menurut Ibnu Athaillah, tentang kepekaan terhadap dosa, amal kebaikan, penyesalan, dan muhasabah diri.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada tanda hati mati yang justru sering tidak terasa: seseorang tidak lagi merasa kehilangan ketika amal baik terlewat dan tidak lagi gelisah ketika melakukan dosa. Dalam bahasa lain, hati yang mati kehilangan kepekaan terhadap kebaikan dan keburukan. Pesan ini menjadi bahan muhasabah dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, khususnya Hikmah ke-58.
Ibnu Athaillah tidak sedang mengajarkan kita untuk mudah menghakimi orang lain. Sebaliknya, nasihat tersebut lebih tepat menjadi cermin bagi diri sendiri. Sebab, manusia bisa saja lalai, tergelincir dalam dosa, atau kehilangan semangat beribadah. Yang perlu diwaspadai ialah ketika semua itu tidak lagi menimbulkan penyesalan.
Di situlah persoalannya menjadi serius.
Ketika kehilangan kebaikan tidak lagi terasa sebagai kehilangan
Dalam Hikmah ke-58 Al-Hikam, Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa salah satu tanda matinya hati ialah tidak adanya rasa sedih ketika seseorang kehilangan kesempatan melakukan amal kebaikan dan tidak adanya penyesalan setelah melakukan dosa.
Pesannya sederhana, tetapi cukup untuk membuat seseorang berhenti sejenak.
Kita sering sangat peka terhadap kehilangan yang bersifat duniawi. Dompet hilang membuat panik. Ponsel rusak membuat gelisah. Pengikut media sosial berkurang bisa membuat seseorang berkali-kali memeriksa layar.
Namun, bagaimana jika yang hilang adalah kesempatan berbuat baik?
Ada waktu untuk membantu orang lain, tetapi kita melewatkannya.
Ada kesempatan bersedekah, tetapi kita menundanya.
Ada waktu untuk membaca Al-Qur’an, tetapi layar ponsel terasa lebih menarik.
Bahkan, ada kesempatan meminta maaf, tetapi gengsi justru menang.
Masalahnya bukan semata-mata kita pernah lalai. Masalahnya muncul ketika kelalaian tersebut tidak lagi membuat hati terusik.
Padahal, rasa menyesal bisa menjadi tanda bahwa hati masih peka.
Hadis Nabi tentang kebaikan dan dosa
Pesan Ibnu Athaillah memiliki kaitan erat dengan makna sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang kebaikannya membuatnya gembira dan keburukannya membuatnya sedih, maka ia adalah seorang mukmin.”
Hadis tersebut antara lain diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi no. 2165. Dalam penilaian yang tercantum pada riwayat tersebut, At-Tirmidzi menyebut hadis itu hasan sahih.
Hadis ini memberikan ukuran yang menarik.
Keimanan tidak hanya berbicara tentang apa yang tampak dari luar. Ada pula persoalan respons batin seseorang terhadap amal yang ia lakukan.
Orang beriman bukan berarti manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tetap bisa jatuh. Ia bisa lupa. Ia bisa tergelincir.
Namun, ketika melakukan kesalahan, hatinya masih memiliki kemampuan untuk merasa tidak nyaman.
Ketika kebaikan terlewat, ia merasa kehilangan.
Ketika dosa terjadi, ia terdorong untuk memperbaiki diri.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “berapa banyak amal yang sudah kita lakukan?”, tetapi juga “bagaimana perasaan kita ketika amal itu terlewat?”
Kisah Zaid al-Khair: ketika kebaikan justru dirindukan
Ada pula kisah Zaid bin Khail yang kemudian dikenal sebagai Zaid al-Khair. Kisah tersebut muncul dalam sejumlah sumber riwayat dan sejarah mengenai dirinya.
Dalam kisah itu, Zaid datang menemui Rasulullah ﷺ setelah menempuh perjalanan panjang. Ia ingin mengetahui tanda seseorang yang mendapatkan kebaikan dan tanda seseorang yang tidak mendapatkannya.
Zaid kemudian menggambarkan keadaan dirinya. Ia mencintai kebaikan dan orang-orang yang mengerjakannya. Ia juga senang ketika kebaikan tersebar. Bahkan, ketika suatu kebaikan terlewat, ia merasa menyesal dan merindukannya.
Jawaban tersebut memperlihatkan satu hal penting: kebaikan tidak sekadar dilakukan, tetapi juga dirindukan.
Di sinilah kisah Zaid menjadi menarik untuk direnungkan.
Seseorang mungkin belum mampu melakukan semua amal yang ia inginkan. Namun, jika hatinya masih merindukan kebaikan, itu berbeda dengan orang yang sama sekali tidak peduli ketika kesempatan berbuat baik berlalu.
Kisah Zaid ini sebaiknya dipahami sebagai riwayat tersendiri, bukan sebagai satu rangkaian sanad dengan hadis tentang kebaikan yang membuat seorang mukmin bahagia dan dosa yang membuatnya sedih.
Kita takut kehilangan banyak hal, tetapi bagaimana dengan amal?
Bagian ini mungkin terdengar sedikit menyindir.
Kita bisa panik ketika saldo berkurang.
Kita bisa gelisah ketika pekerjaan terganggu.
Kita bisa memikirkan berhari-hari komentar orang di media sosial.
Akan tetapi, apakah kita pernah merasa kehilangan karena satu kesempatan berbuat baik berlalu?
Pertanyaan tersebut penting karena Al-Qur’an juga mengajarkan manusia untuk memperhatikan apa yang dipersiapkannya untuk hari esok.
Allah berfirman dalam QS Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Ayat tersebut bukan sekadar mengajak manusia menghitung amal. Ia juga mengajak kita melakukan evaluasi.
Apa yang sudah dilakukan?
Apa yang terlewat?
Apa yang perlu diperbaiki?
Dan yang tidak kalah penting: apakah hati masih merasakan semua itu?
Di zaman ketika kehilangan koneksi internet beberapa menit saja bisa membuat seseorang gelisah, pertanyaan tentang kehilangan kesempatan berbuat baik terasa semakin relevan.
Hati mati bukan vonis untuk orang lain
Istilah hati mati tidak seharusnya menjadi senjata untuk menilai orang lain.
Kita tidak mengetahui isi hati manusia.
Karena itu, hikmah Ibnu Athaillah lebih tepat digunakan untuk muhasabah, bukan untuk menghakimi.
Ketika seseorang meninggalkan amal baik, jangan buru-buru mengatakan hatinya mati. Bisa jadi ia sedang lemah dan membutuhkan dorongan.
Ketika seseorang melakukan dosa, jangan langsung menganggap dirinya tidak memiliki iman. Bisa jadi ia sedang berjuang untuk keluar dari kesalahan.
Yang perlu kita tanyakan justru kepada diri sendiri.
Apakah dosa masih membuat kita menyesal?
Apakah kebaikan masih membuat kita bahagia?
Apakah kesempatan beramal yang terlewat masih membuat kita ingin mengejarnya kembali?
Jika jawabannya masih “iya”, jangan berhenti memperbaiki diri.
Sebab, Allah tidak menutup pintu taubat bagi hamba-Nya. Dalam QS Az-Zumar ayat 53, Allah melarang manusia berputus asa dari rahmat-Nya.
Dengan demikian, pembahasan tentang hati mati bukanlah ajakan untuk merasa paling suci. Justru sebaliknya. Ia merupakan peringatan agar kita tidak terlalu cepat merasa aman terhadap keadaan hati sendiri.
Jangan sampai hati terbiasa dengan dosa
Dosa yang dilakukan sekali dapat menjadi kesalahan.
Dosa yang terus diulang tanpa penyesalan dapat menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan yang tidak lagi membuat hati gelisah patut menjadi alarm.
Begitu pula amal baik. Ketika kesempatan berbuat baik terlewat, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Jika hati masih merasa kehilangan, gunakan rasa itu untuk memperbaiki langkah berikutnya.
Sebab, kehidupan hati bukan hanya terlihat dari banyaknya aktivitas keagamaan.
Ia juga terlihat dari kepekaan.
Hati yang hidup masih bisa tersentuh oleh ayat Al-Qur’an. Ia masih merasa malu ketika berbuat salah. Ia masih bahagia ketika melakukan kebaikan. Ia masih merindukan amal yang terlewat.
Maka, sebelum sibuk menilai hati orang lain, mungkin ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita jawab:
Bagaimana keadaan hati kita sendiri?
Hati yang hidup bukan hati yang tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Hati yang hidup adalah hati yang masih merasa sakit setelah jatuh, masih menyesal ketika salah, dan masih merindukan kebaikan ketika kesempatan itu terlewat. Sebab yang paling berbahaya bukan ketika kita kehilangan jalan pulang, melainkan ketika kita sudah tidak merasa perlu pulang. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar