Rajin Salat Tapi Masih Maksiat? Ini Jawaban Al-Qur’an
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi muslim melaksanakan salat
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Banyak orang pernah bertanya, bahkan mungkin bertanya diam-diam kepada dirinya sendiri: mengapa ada orang yang rajin salat, tidak pernah meninggalkan salat lima waktu, tetapi masih melakukan kebohongan, ghibah, fitnah, atau perbuatan maksiat lainnya?
Pertanyaan tentang salat mencegah maksiat sebenarnya bukan hal baru. Al-Qur’an telah memberikan jawabannya melalui QS Al-‘Ankabut ayat 45. Ayat ini bukan hanya menjelaskan kewajiban salat, tetapi juga menjelaskan bagaimana salat seharusnya membentuk karakter, menjaga hati, dan mengarahkan kehidupan manusia.
Di banyak masjid kampung, terutama saat Subuh, jamaah kadang hanya memenuhi satu atau dua saf. Sebagian datang dengan sarung yang masih sedikit kusut karena baru bangun tidur. Ada pula yang berjalan cepat sambil merapikan peci sebelum takbiratul ihram dimulai.
Pemandangan sederhana seperti itu menunjukkan bahwa salat bukan aktivitas para malaikat. Salat adalah ibadah manusia biasa yang setiap hari berjuang melawan rasa malas, kantuk, kesibukan, dan godaan dunia.
Allah Menegaskan Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar
Allah SWT berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, salat yang dilakukan dengan benar akan menjadi benteng yang menjaga seseorang dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Artinya, salat bukan sekadar gerakan fisik.
Salat adalah pendidikan jiwa yang dilakukan lima kali sehari.
Setiap kali seorang muslim membaca Al-Fatihah dan mengucapkan:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
ia sedang memperbarui janji penghambaan dan ketergantungannya kepada Allah.
Fahsya dan Munkar, Dua Penyakit yang Menggerogoti Manusia
Dalam ayat tersebut Allah menyebut dua istilah penting.
Pertama, fahsya, yaitu segala bentuk perbuatan keji yang berkaitan dengan syahwat, seperti zina, pornografi, ucapan cabul, dan perilaku yang melampaui batas.
Kedua, munkar, yaitu segala sesuatu yang ditolak syariat dan akal sehat, seperti dusta, korupsi, fitnah, ghibah, menipu, hingga menzalimi orang lain.
Karena itu, ayat ini tidak hanya berbicara tentang satu jenis dosa.
Ia mencakup hampir seluruh bentuk kemaksiatan yang sering muncul dalam kehidupan manusia.
Salat Mencegah Maksiat?
Di sinilah letak pelajaran yang sering terlewat.
Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa orang yang salat pasti langsung sempurna.
Ayat itu menjelaskan bahwa salat yang benar memiliki pengaruh untuk mencegah dan mengurangi kemaksiatan.
Al-Hasan Al-Bashri pernah mengatakan:
“Barang siapa salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka salatnya belum memberikan manfaat sebagaimana mestinya.”
Jujur saja, hampir semua muslim pernah mengalami masa ketika salat terasa sangat khusyuk pada suatu waktu, lalu terasa biasa saja pada waktu yang lain.
Kadang hati hadir sepenuhnya.
Kadang pikiran masih berkelana ke urusan pekerjaan, keluarga, tagihan, atau persoalan yang belum selesai.
Bahkan ada orang yang baru tersadar ia lupa membaca doa setelah salam karena pikirannya masih tertinggal pada pekerjaan yang harus diselesaikan pagi itu.
Ketidaksempurnaan itu adalah bagian dari perjuangan manusia.
Karena itulah kualitas salat perlu terus diperbaiki sepanjang hidup.
Tafsir Tasawuf: Maksiat Tidak Selalu Terlihat oleh Mata
Dalam pandangan tasawuf, makna ayat ini jauh lebih dalam.
Para ulama sufi menjelaskan bahwa fahsya tidak hanya berupa dosa lahiriah.
Fahsya juga bisa berupa syahwat yang menguasai hati.
Sedangkan munkar adalah segala sesuatu yang membuat manusia jauh dari Allah.
Karena itu, salat yang benar tidak hanya mengurangi dosa fisik.
Salat juga membantu:
- Mengurangi kesombongan
- Menenangkan amarah
- Mengikis riya
- Menguatkan tawakal
- Melembutkan hati
Setiap kali seorang hamba mengucapkan:
الله أكبر
ia sedang mengingatkan dirinya bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Allah.
Kejadian Kecil yang Sering Terjadi Setelah Salat
Setelah salat berjamaah selesai, suasana masjid sering menghadirkan pemandangan yang sederhana tetapi hangat.
Sebagian jamaah langsung pulang karena harus bekerja atau mengantar anak sekolah.
Sebagian lainnya tetap duduk beberapa menit sambil berzikir.
Ada pula yang berbincang ringan tentang kondisi kampung, hasil panen, atau kabar tetangga yang sedang sakit.
Kejadian-kejadian kecil itu menunjukkan bahwa salat bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga ruang yang memperkuat hubungan sosial antar manusia.
Tantangan Salat di Era Digital
Tantangan umat Islam saat ini berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Tidak sedikit orang yang mampu mengingat puluhan akun media sosial, tetapi masih berjuang menghafal makna bacaan salat yang dibaca setiap hari.
Sebagian orang bahkan lebih sering melihat layar ponsel sebelum tidur dibanding melakukan muhasabah terhadap amal yang telah dikerjakan sepanjang hari.
Notifikasi datang tanpa henti.
Video berganti setiap beberapa detik.
Perhatian manusia semakin mudah terpecah.
Di tengah kondisi seperti itu, salat menjadi jeda yang sangat berharga.
Salat mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal arah.
Mungkin yang membuat seseorang jauh dari maksiat bukan karena ia tidak pernah tergoda. Melainkan karena lima kali sehari ia kembali diingatkan siapa dirinya, kepada siapa ia akan kembali, dan untuk apa sebenarnya ia hidup. Ketika salat berubah dari sekadar kebiasaan menjadi pertemuan hati dengan Allah, saat itulah ayat “inna shalata tanha ‘anil fahsya’i wal munkar” benar-benar hidup dalam diri seorang hamba. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar