Banyak Warga Tak Tahu, Tugu Pahlawan Banjar Simpan Sejarah Besar
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tugu Pahlawan Banjar yang menjadi monumen Tentara Pelajar Siliwangi dan mengenang perjuangan Letnan Anumerta Soediro Wirjo Soeharjo di Kota Banjar, Senin (3/8/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Ribuan orang melintasi kawasan Tugu Pahlawan Banjar setiap hari. Kendaraan datang silih berganti, aktivitas warga terus berjalan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berhenti untuk melihat monumen itu lebih dekat. Padahal, Tugu Pahlawan Banjar menyimpan jejak Tentara Pelajar Siliwangi, kisah perjuangan para pelajar yang mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di balik prasasti yang mulai kusam, tersimpan potongan sejarah penting Kota Banjar yang perlahan memudar dari ingatan masyarakat.
Dari kejauhan, patung seorang tentara berdiri tegak menghadap jalan. Sosok itu seolah tetap berjaga, meski puluhan tahun telah berlalu sejak perang mempertahankan kemerdekaan usai. Namun ketika langkah mendekat, dinding putih yang mulai mengelupas, lumut yang merambat di beberapa sisi, serta tulisan prasasti yang mulai memudar menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.
Monumen itu bukan sekadar penghias ruang publik. Ia adalah pengingat bahwa Banjar pernah menjadi bagian dari sejarah besar perjuangan bangsa.
Jejak Tentara Pelajar yang Masih Terpahat di Prasasti
Prasasti utama pada monumen menyebutkan bahwa lokasi tersebut dipersembahkan bagi Tentara Pelajar Siliwangi Kompi Banjar di bawah pimpinan Letnan Satu Herman Sarens Soediro.
Nama itu bukan sekadar ukiran di atas batu. Ia menjadi penanda bahwa para pelajar pernah berdiri di garis depan mempertahankan republik yang baru merdeka. Mereka meninggalkan ruang kelas, memanggul senjata, lalu ikut menghadapi agresi militer demi menjaga Indonesia tetap berdiri.
Di sisi lain monumen terdapat prasasti penghormatan kepada Pahlawan Nasional Letnan Anumerta Soediro Wirjo Soeharjo, Kepala Logistik Yon IV Resimen X Brigade Guntur.
Prasasti itu mencatat bahwa Soediro Wirjo Soeharjo gugur di Panyusupan, Pamarican, Banjar, saat Agresi Militer Belanda pada 19 Desember 1947. Fakta tersebut menunjukkan bahwa wilayah Banjar memiliki jejak sejarah yang erat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Tugu Pahlawan di Kota Banjar, Senin (3/8/2026).
Monumen yang Menyimpan Lebih dari Sekadar Batu
Tidak semua kota memiliki monumen yang secara khusus mengenang kiprah Tentara Pelajar. Karena itu, Monumen Pahlawan Banjar memiliki arti yang jauh melampaui fungsi sebagai bangunan peringatan.
Di tempat inilah masyarakat dapat membaca langsung nama-nama pejuang, mengenali peristiwa sejarah, sekaligus memahami bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan oleh anak-anak muda yang seusianya tidak jauh berbeda dengan pelajar masa kini.
Pengalaman melihat prasasti secara langsung menghadirkan kesan yang berbeda dibanding sekadar membaca buku sejarah. Setiap ukiran nama menghadirkan cerita, setiap tanggal mengingatkan bahwa perjuangan tidak pernah lahir tanpa pengorbanan.
Mulai Terlupakan di Tengah Ramainya Kota
Ironisnya, semakin pesat perkembangan kota, semakin sedikit pula warga yang mengenal sejarah monumen tersebut.
Hasil pengamatan AlbadarPost menunjukkan kondisi Tugu Pahlawan Banjar masih kokoh, tetapi sejumlah bagian memerlukan perhatian. Cat dinding mulai mengelupas, lumut tampak pada beberapa sisi bangunan, sedangkan sebagian tulisan prasasti sudah tidak seterang ketika pertama kali dipasang.
Kondisi itu memang tidak menghilangkan nilai sejarahnya. Namun, apabila perawatan terus tertunda, generasi mendatang bisa semakin sulit membaca jejak perjuangan yang tersimpan di sana.
Padahal, monumen sejarah tidak hanya membutuhkan pelestarian fisik. Ia juga memerlukan perhatian publik agar kisah yang dikandungnya tetap hidup.
Peluang Besar Menjadi Wisata Sejarah Kota Banjar
Di banyak daerah, monumen sejarah justru berkembang menjadi destinasi edukasi yang ramai dikunjungi pelajar, mahasiswa, maupun wisatawan.
Peluang serupa terbuka bagi Tugu Pahlawan Banjar. Papan informasi yang lebih lengkap, kode QR berisi kisah perjuangan, tur sejarah lokal, hingga kegiatan belajar luar kelas dapat menghidupkan kembali fungsi monumen sebagai ruang edukasi.
Langkah sederhana tersebut bukan hanya memperkenalkan sejarah kepada generasi muda, melainkan juga memperkuat identitas Kota Banjar sebagai daerah yang memiliki jejak perjuangan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semakin banyak masyarakat mengenal sejarahnya, semakin besar pula peluang monumen ini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah Banjar.
Mengingat Sejarah Berarti Menjaga Masa Depan
Kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ada pelajar yang rela meninggalkan bangku sekolah, ada pejuang yang tidak pernah kembali ke rumah, dan ada nama-nama yang kini hanya tersisa di atas prasasti.
Tugu Pahlawan Banjar menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berada di museum besar atau halaman buku pelajaran. Kadang, ia berdiri diam di tengah kota, menunggu seseorang berhenti beberapa menit untuk membacanya.
Monumen ini mengajarkan satu hal sederhana: bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung-gedung baru, tetapi juga merawat jejak perjuangan yang telah mengantarkannya menuju kemerdekaan.
Prasasti bisa memudar, cat tembok bisa mengelupas, bahkan monumen dapat dimakan usia. Namun, jika masyarakat berhenti mengenang para pejuangnya, yang benar-benar hilang bukan sekadar sebuah tugu, melainkan ingatan tentang harga mahal yang pernah dibayar untuk sebuah kemerdekaan. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar