Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Hawa nafsu menurut Islam bukan sekadar dorongan untuk memenuhi keinginan duniawi. Dalam banyak keadaan, bahaya hawa nafsu, mengendalikan hawa nafsu, dan muhasabah justru menjadi kunci agar seseorang tidak terperosok ke dalam kesalahan yang tampak indah di permukaan. Di tengah era media sosial, ketika pujian, pengakuan, dan popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, peringatan para ulama klasik terasa semakin relevan.

Pernahkah seseorang merasa yakin bahwa dirinya sedang berada di jalan yang benar, tetapi kemudian sadar bahwa yang diikuti ternyata hanya ego yang dibungkus alasan mulia?

Fenomena itu tidak hanya terjadi pada orang awam. Tokoh berilmu, aktivis, dai, bahkan orang yang rajin beribadah pun dapat mengalaminya. Karena itulah para ulama tasawuf sejak berabad-abad lalu tidak pernah berhenti mengingatkan satu musuh yang selalu ikut ke mana pun manusia melangkah: hawa nafsu.

Saat Hawa Nafsu Tidak Lagi Mengajak Berbuat Dosa

Banyak orang membayangkan hawa nafsu selalu hadir dalam bentuk ajakan bermaksiat. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sering kali hawa nafsu justru tampil dengan wajah yang sopan. Ia tidak mengajak mencuri, tetapi mendorong seseorang ingin dipuji karena sedekahnya. Ia tidak menyuruh meninggalkan salat, tetapi membisikkan rasa bangga karena merasa paling rajin beribadah. Bahkan, ia mampu menyelipkan kesombongan di balik aktivitas dakwah atau amal sosial.

Di sinilah satir kehidupan bermula.

Manusia begitu mudah curiga kepada orang lain, tetapi nyaris tidak pernah mencurigai bisikan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:

أصلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Artinya:

“Pokok dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri. Sedangkan pokok dari setiap ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah tidak merasa puas terhadap hawa nafsumu.”

Kalimat tersebut tidak sedang mengajarkan manusia membenci dirinya. Sebaliknya, Ibnu Athaillah mengajak setiap muslim untuk terus melakukan evaluasi diri. Sebab, rasa puas yang berlebihan sering menjadi pintu masuk kesombongan.

Ketika Merasa Paling Benar Menjadi Awal Petaka

Perhatikan kehidupan sehari-hari.

Ada orang yang marah ketika dikritik, tetapi berbunga-bunga saat dipuji. Ada yang mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekeliruannya sendiri. Ada pula yang aktif mengingatkan orang lain di media sosial, namun enggan menerima nasihat ketika giliran dirinya diingatkan.

Semua itu belum tentu lahir karena niat buruk.

Namun, bisa jadi hawa nafsu sedang memainkan perannya secara halus.

Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah memberikan pesan yang sangat terkenal:

“Tentang selalu hawa nafsu dan syaitan dan jangan menurutkan keduanya. Meskipun keduanya memberi nasihat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.”

Pesan ini terasa sangat relevan pada zaman ketika citra sering lebih dipentingkan daripada isi. Tidak sedikit orang berlomba-lomba terlihat saleh, bijak, atau dermawan di hadapan publik. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah penilaian manusia, melainkan keikhlasan hati.

Al-Qur’an Mengajarkan Sikap Waspada kepada Diri Sendiri

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Yusuf a.s. tidak merasa dirinya sepenuhnya aman dari godaan hawa nafsu. Beliau justru menggantungkan keselamatan kepada rahmat Allah SWT.

Karena itu, orang yang semakin dekat kepada Allah biasanya semakin rendah hati. Mereka tidak sibuk mengumumkan kesalehannya, melainkan lebih banyak mengoreksi dirinya sendiri.

Para Ulama Tidak Pernah Berhenti Bermuhasabah

Abu Hafsh pernah berkata:

“Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, tidak menentangnya dalam segala urusan, dan tidak menariknya menuju kebaikan, maka ia telah tertipu.”

Kalimat ini mengandung pelajaran penting. Menuduh hawa nafsu bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan selalu menguji niat sebelum bertindak.

Apakah keputusan ini benar-benar karena Allah?

Ataukah hanya demi pengakuan manusia?

Imam Al-Junaid menambahkan nasihat yang tak kalah tajam:

“Jangan mempercayai hawa nafsumu meskipun telah lama taat kepadamu dalam beribadah.”

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang dilakukan bertahun-tahun bukan jaminan seseorang terbebas dari rasa ujub atau bangga terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi).

Sementara itu, Allah SWT kembali menegaskan:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Musuh Itu Tidak Pernah Pergi

Syaitan memang menggoda.

Namun, hawa nafsulah yang menentukan apakah godaan itu diterima atau ditolak.

Karena itu, perjuangan terbesar seorang mukmin bukan sekadar melawan dunia di luar dirinya, melainkan menundukkan keinginan yang terus meminta dipenuhi tanpa batas.

Mungkin kita tidak sedang kalah karena kekurangan ilmu.

Mungkin kita kalah karena terlalu cepat merasa sudah cukup baik.

Muhasabah bukan tanda kelemahan. Justru dari sanalah lahir keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Jangan terlalu sibuk mencari musuh di luar rumah. Bisa jadi, musuh yang paling sering Anda bela justru tinggal di dalam dada sendiri—bernama hawa nafsu. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ono Surono

    Ono Surono di Kasus Korupsi Bekasi

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 137
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melanjutkan penyidikan kasus korupsi proyek pemerintahan Kabupaten Bekasi dengan menelusuri dugaan aliran uang ke Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono. Pendalaman ini bukan sekadar pemeriksaan saksi, tetapi mengarah pada pengujian unsur pidana yang dapat berujung sanksi hukum dan politik bagi pejabat publik. Langkah KPK menjadi penting […]

  • rokok ilegal

    Bea Cukai Jabar Tindak Rokok Ilegal, 88 Juta Batang Disita

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Bea Cukai Jawa Barat menyita 88 juta batang rokok ilegal hingga November 2025, mayoritas dari jalur darat perlintasan. albadarpost.com, LENSA – Kepala Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Barat, Setiawan, menyatakan wilayahnya menjadi titik perlintasan paling strategis dalam distribusi rokok ilegal. Hingga November 2025, total 88 juta batang rokok tanpa cukai disita dan dimusnahkan […]

  • junta Myanmar scam online

    Junta Myanmar Gempur Pusat Scam Online, Ribuan Warga China Lari ke Thailand

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Militer Myanmar gencar memberantas jaringan scam online di perbatasan, ratusan bangunan dihancurkan dan ribuan warga China kabur ke Thailand. Operasi Militer Myanmar Hancurkan Pusat Scam Online albadarpost.com, HUMANIORA – Junta militer Myanmar melancarkan operasi besar-besaran untuk membongkar jaringan scam online yang menjamur di wilayah perbatasan. Aksi ini menjadi langkah paling agresif dalam beberapa tahun terakhir […]

  • Jamaah Palestina melaksanakan salat Id di luar kompleks Masjid Al-Aqsa akibat pembatasan akses oleh otoritas Israel.

    Tangis Idul Fitri di Palestina: Shalat Id Dilarang di Al-Aqsa

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 150
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Larangan shalat Id Al Aqsa menjadi sorotan dunia setelah otoritas Israel melarang warga Palestina melaksanakan salat Idul Fitri di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur. Kebijakan tersebut langsung memicu perhatian global karena menyangkut salah satu situs suci umat Islam. Biasanya, ribuan jamaah memadati area masjid pada hari raya. Namun tahun ini suasana […]

  • BPD Desa Kujangsari

    BPD Desa Kujangsari Awali Tugas dengan Doa Bersama

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 59
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – BPD Desa Kujangsari langsung mengirimkan pesan kuat pada awal masa bakti periode 2026–2034. Sembilan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kujangsari memilih mengawali tugas mereka dengan tasyakuran, pembacaan selawat, dan doa bersama sebagai simbol rasa syukur sekaligus komitmen untuk mengawal aspirasi masyarakat. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota […]

  • Memasak nasi pulen tanpa rice cooker menggunakan panci dengan metode tradisional di dapur rumah

    Ternyata Begini Cara Memasak Nasi Pulen Tanpa Rice Cooker

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 152
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat rice cooker tidak bisa digunakan, banyak orang langsung panik karena merasa tidak bisa memasak nasi. Padahal, membuat nasi pulen tanpa rice cooker justru lebih mudah daripada yang dibayangkan. Cara memasak nasi manual atau masak nasi pakai panci sudah dilakukan sejak lama dan tetap menghasilkan nasi lembut, wangi, serta matang merata. […]

expand_less