Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

Mengapa Hawa Nafsu Lebih Berbahaya dari Syaitan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 132
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Hawa nafsu menurut Islam bukan sekadar dorongan untuk memenuhi keinginan duniawi. Dalam banyak keadaan, bahaya hawa nafsu, mengendalikan hawa nafsu, dan muhasabah justru menjadi kunci agar seseorang tidak terperosok ke dalam kesalahan yang tampak indah di permukaan. Di tengah era media sosial, ketika pujian, pengakuan, dan popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, peringatan para ulama klasik terasa semakin relevan.

Pernahkah seseorang merasa yakin bahwa dirinya sedang berada di jalan yang benar, tetapi kemudian sadar bahwa yang diikuti ternyata hanya ego yang dibungkus alasan mulia?

Fenomena itu tidak hanya terjadi pada orang awam. Tokoh berilmu, aktivis, dai, bahkan orang yang rajin beribadah pun dapat mengalaminya. Karena itulah para ulama tasawuf sejak berabad-abad lalu tidak pernah berhenti mengingatkan satu musuh yang selalu ikut ke mana pun manusia melangkah: hawa nafsu.

Saat Hawa Nafsu Tidak Lagi Mengajak Berbuat Dosa

Banyak orang membayangkan hawa nafsu selalu hadir dalam bentuk ajakan bermaksiat. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sering kali hawa nafsu justru tampil dengan wajah yang sopan. Ia tidak mengajak mencuri, tetapi mendorong seseorang ingin dipuji karena sedekahnya. Ia tidak menyuruh meninggalkan salat, tetapi membisikkan rasa bangga karena merasa paling rajin beribadah. Bahkan, ia mampu menyelipkan kesombongan di balik aktivitas dakwah atau amal sosial.

Di sinilah satir kehidupan bermula.

Manusia begitu mudah curiga kepada orang lain, tetapi nyaris tidak pernah mencurigai bisikan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:

أصلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Artinya:

“Pokok dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri. Sedangkan pokok dari setiap ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah tidak merasa puas terhadap hawa nafsumu.”

Kalimat tersebut tidak sedang mengajarkan manusia membenci dirinya. Sebaliknya, Ibnu Athaillah mengajak setiap muslim untuk terus melakukan evaluasi diri. Sebab, rasa puas yang berlebihan sering menjadi pintu masuk kesombongan.

Ketika Merasa Paling Benar Menjadi Awal Petaka

Perhatikan kehidupan sehari-hari.

Ada orang yang marah ketika dikritik, tetapi berbunga-bunga saat dipuji. Ada yang mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekeliruannya sendiri. Ada pula yang aktif mengingatkan orang lain di media sosial, namun enggan menerima nasihat ketika giliran dirinya diingatkan.

Semua itu belum tentu lahir karena niat buruk.

Namun, bisa jadi hawa nafsu sedang memainkan perannya secara halus.

Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah memberikan pesan yang sangat terkenal:

“Tentang selalu hawa nafsu dan syaitan dan jangan menurutkan keduanya. Meskipun keduanya memberi nasihat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.”

Pesan ini terasa sangat relevan pada zaman ketika citra sering lebih dipentingkan daripada isi. Tidak sedikit orang berlomba-lomba terlihat saleh, bijak, atau dermawan di hadapan publik. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah penilaian manusia, melainkan keikhlasan hati.

Al-Qur’an Mengajarkan Sikap Waspada kepada Diri Sendiri

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Yusuf a.s. tidak merasa dirinya sepenuhnya aman dari godaan hawa nafsu. Beliau justru menggantungkan keselamatan kepada rahmat Allah SWT.

Karena itu, orang yang semakin dekat kepada Allah biasanya semakin rendah hati. Mereka tidak sibuk mengumumkan kesalehannya, melainkan lebih banyak mengoreksi dirinya sendiri.

Para Ulama Tidak Pernah Berhenti Bermuhasabah

Abu Hafsh pernah berkata:

“Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, tidak menentangnya dalam segala urusan, dan tidak menariknya menuju kebaikan, maka ia telah tertipu.”

Kalimat ini mengandung pelajaran penting. Menuduh hawa nafsu bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan selalu menguji niat sebelum bertindak.

Apakah keputusan ini benar-benar karena Allah?

Ataukah hanya demi pengakuan manusia?

Imam Al-Junaid menambahkan nasihat yang tak kalah tajam:

“Jangan mempercayai hawa nafsumu meskipun telah lama taat kepadamu dalam beribadah.”

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang dilakukan bertahun-tahun bukan jaminan seseorang terbebas dari rasa ujub atau bangga terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi).

Sementara itu, Allah SWT kembali menegaskan:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Musuh Itu Tidak Pernah Pergi

Syaitan memang menggoda.

Namun, hawa nafsulah yang menentukan apakah godaan itu diterima atau ditolak.

Karena itu, perjuangan terbesar seorang mukmin bukan sekadar melawan dunia di luar dirinya, melainkan menundukkan keinginan yang terus meminta dipenuhi tanpa batas.

Mungkin kita tidak sedang kalah karena kekurangan ilmu.

Mungkin kita kalah karena terlalu cepat merasa sudah cukup baik.

Muhasabah bukan tanda kelemahan. Justru dari sanalah lahir keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Jangan terlalu sibuk mencari musuh di luar rumah. Bisa jadi, musuh yang paling sering Anda bela justru tinggal di dalam dada sendiri—bernama hawa nafsu. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi tangan pejabat menerima uang secara tersembunyi sebagai simbol praktik pemerasan jabatan dalam pelayanan publik.

    Jerat Pemerasan Jabatan dan Rusaknya Moral Oknum Aparatur

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pemerasan jabatan kembali menjadi sorotan publik karena praktik ini terus muncul dalam berbagai layanan pemerintahan. Tindak pidana pemerasan dalam jabatan atau penyalahgunaan wewenang oleh oknum pejabat tidak hanya merugikan korban secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itu, isu pemerasan jabatan bukan sekadar persoalan hukum, melainkan persoalan […]

  • Ilustrasi grafik saham digital dengan konsep investasi saham syariah dan hukum jual beli saham dalam Islam.

    5 Fakta Hukum Jual Beli Saham, Nomor 2 Mengejutkan Banyak Investor

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 191
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Hukum jual beli saham sering menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Muslim. Sebagian orang menilai investasi saham halal, sementara yang lain masih meragukannya. Oleh karena itu, pemahaman tentang hukum saham dalam Islam serta investasi saham menurut syariah sangat penting agar aktivitas finansial tetap sesuai dengan prinsip agama. Seiring berkembangnya pasar modal, semakin […]

  • tawakal sejati

    Pelajaran Ikhtiar yang Sering Kita Lupa

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 209
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Setiap pagi, jauh sebelum rutinitas manusia dimulai, kehidupan sudah lebih dulu bergerak. Langit tidak pernah benar-benar sepi. Di sana, burung-burung meninggalkan sarangnya tanpa bekal, tanpa peta, dan tanpa jaminan hasil. Mereka terbang dengan satu keyakinan sederhana: rezeki telah disiapkan, tetapi harus dijemput. Gambaran itu sejalan dengan pesan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah […]

  • CCTV Mudik Tasikmalaya real-time memantau kondisi lalu lintas di jalur Singaparna, Rajapolah, dan Cipatujah saat arus mudik Lebaran

    Hindari Macet! Ini Cara Cek CCTV Mudik Tasikmalaya Secara Real-Time

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 206
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – CCTV Mudik Tasikmalaya kini menjadi solusi cepat bagi masyarakat yang ingin memantau kondisi lalu lintas secara langsung. Melalui layanan ini, pengguna bisa melihat CCTV arus mudik Tasikmalaya atau live streaming lalu lintas Tasikmalaya selama 24 jam penuh. Dengan begitu, pemudik dapat merencanakan perjalanan lebih aman dan efisien sejak awal. Selain itu, […]

  • risiko pinjol

    Pinjol Tumbuh 24,76%, Mengapa Risiko Kredit Masih Tinggi?

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Risiko pinjol kembali menjadi perhatian setelah industri Pinjaman Daring (Pindar) mencatat pertumbuhan pembiayaan 24,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026. Nilai outstanding pembiayaan mencapai Rp105,63 triliun, sementara tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 berada di 4,32 persen. Data tersebut dilansir dari pemberitaan CNBC Indonesia yang mengutip Kepala Eksekutif Pengawas […]

  • pesantren modern dan tradisional

    Di Balik Kehidupan Santri: Rahasia Pesantren Modern dan Tradisional

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 212
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Banyak orang mengenal pesantren modern dan tradisional sebagai lembaga pendidikan Islam yang membentuk karakter santri. Namun, tidak semua orang memahami perbedaan pesantren modern dan tradisional secara mendalam. Padahal, sistem pendidikan ini memiliki pendekatan yang unik dan sering kali mengejutkan bagi mereka yang baru mengetahuinya. Selain itu, pendidikan santri di pesantren tidak hanya […]

expand_less