Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Jerat Pemerasan Jabatan dan Rusaknya Moral Oknum Aparatur

Jerat Pemerasan Jabatan dan Rusaknya Moral Oknum Aparatur

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONALPemerasan jabatan kembali menjadi sorotan publik karena praktik ini terus muncul dalam berbagai layanan pemerintahan. Tindak pidana pemerasan dalam jabatan atau penyalahgunaan wewenang oleh oknum pejabat tidak hanya merugikan korban secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itu, isu pemerasan jabatan bukan sekadar persoalan hukum, melainkan persoalan moral dan integritas aparatur.

Fenomena ini sering terjadi secara tersembunyi. Namun demikian, dampaknya terasa nyata. Masyarakat kecil yang membutuhkan pelayanan cepat kerap berada pada posisi tertekan. Mereka menghadapi pilihan sulit: membayar agar urusan selesai atau menolak dan berisiko dipersulit.

Modus Pemerasan Jabatan yang Kian Variatif

Pemerasan jabatan biasanya bermula dari kewenangan formal yang dimiliki seorang pejabat. Akan tetapi, kewenangan tersebut berubah menjadi alat tekan ketika disertai ancaman terselubung. Misalnya, oknum aparat meminta sejumlah uang agar izin usaha segera terbit. Selain itu, ada pula kasus pemotongan bantuan sosial dengan dalih administrasi.

Praktik seperti ini sering dibungkus dengan istilah “uang rokok” atau “biaya percepatan”. Padahal, secara hukum, tindakan tersebut memenuhi unsur pemerasan dalam jabatan karena terdapat paksaan dan keuntungan pribadi. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami bahwa tindakan tersebut bukan budaya, melainkan pelanggaran serius.

Lebih jauh lagi, pemerasan jabatan menunjukkan lemahnya pengawasan internal. Jika sistem pengendalian berjalan efektif, ruang penyalahgunaan kekuasaan akan semakin sempit. Namun ketika kontrol longgar, celah pelanggaran terbuka lebar.

Ancaman Hukum dan Tanggung Jawab Moral

Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi secara tegas mengatur pemerasan dalam jabatan. Pelaku dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun serta denda miliaran rupiah. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara memandang serius kejahatan tersebut.

Meski demikian, penegakan hukum tidak selalu mudah. Korban sering enggan melapor karena takut mendapatkan tekanan lanjutan. Selain itu, relasi kuasa antara pejabat dan masyarakat membuat posisi korban cenderung lemah. Karena itulah, perlindungan saksi dan pelapor menjadi sangat penting.

Di sisi lain, persoalan ini tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Setiap pejabat publik memegang amanah yang harus dijaga. Ketika jabatan disalahgunakan, yang runtuh bukan hanya reputasi individu, melainkan wibawa institusi.

Dampak Sosial yang Lebih Luas

Pemerasan jabatan menimbulkan efek domino. Pertama, kepercayaan publik terhadap pemerintah menurun. Ketika masyarakat merasa diperas, mereka akan memandang pelayanan publik sebagai beban, bukan hak.

Baca juga: Menu Berbuka Hemat tapi Penuh Berkah, Wajib Coba!

Kedua, praktik ini menciptakan ketidakadilan. Warga yang mampu membayar akan mendapatkan kemudahan, sedangkan yang tidak mampu harus menunggu lebih lama. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin tajam.

Ketiga, budaya integritas sulit tumbuh jika pemerasan dibiarkan. Pegawai yang jujur akan merasa terpinggirkan, sementara pelaku pelanggaran justru mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, pembenahan sistem harus berjalan beriringan dengan penindakan tegas.

Mendesak Reformasi dan Transparansi

Untuk memutus mata rantai pemerasan jabatan, transparansi layanan menjadi kunci. Setiap biaya dan prosedur harus diumumkan secara terbuka. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui hak dan kewajibannya tanpa ruang abu-abu.

Selain itu, digitalisasi layanan publik mampu mengurangi interaksi langsung yang berpotensi menimbulkan penyalahgunaan. Sistem berbasis daring juga memudahkan pengawasan karena jejak transaksi tercatat dengan jelas.

Namun demikian, teknologi saja tidak cukup. Pendidikan etika dan penguatan integritas aparatur perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ketika pejabat memahami bahwa jabatan adalah amanah, kecenderungan menyalahgunakan wewenang akan berkurang.

Lebih dari itu, partisipasi publik harus didorong. Masyarakat perlu berani melaporkan dugaan pemerasan jabatan melalui saluran resmi. Negara pun wajib menjamin keamanan pelapor agar tidak mengalami intimidasi.

Menjaga Wibawa Negara dari Praktik Pemerasan

Pada akhirnya, pemerasan jabatan adalah cermin rapuhnya integritas sebagian aparatur. Jika praktik ini terus terjadi, kepercayaan publik akan terkikis sedikit demi sedikit. Sebaliknya, ketika negara bertindak tegas, pesan kuat akan tersampaikan bahwa kekuasaan tidak boleh disalahgunakan.

Karena itu, pemberantasan pemerasan jabatan harus menjadi agenda bersama. Aparat penegak hukum perlu konsisten menindak pelaku tanpa pandang bulu. Sementara itu, pejabat publik harus menyadari bahwa jabatan bukan alat mencari keuntungan, melainkan sarana melayani.

Jika komitmen ini dijaga, pelayanan publik akan kembali pada tujuan utamanya: melindungi dan menyejahterakan masyarakat. Tanpa integritas, kekuasaan hanya akan menjadi sumber ketakutan. Namun dengan kejujuran, jabatan dapat menjadi jalan pengabdian yang bermartabat. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • takbiran di Bali saat Nyepi

    Idul Fitri Bertepatan Nyepi, Begini Cara Takbiran di Bali Penuh Toleransi

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Fenomena takbiran di Bali saat Nyepi kembali menarik perhatian publik. Momen ini menunjukkan bagaimana umat Islam menjalankan malam takbiran dengan tetap menghormati suasana hening Hari Raya Nyepi. Praktik takbiran saat Nyepi di Bali, atau pelaksanaan takbir Idul Fitri yang disesuaikan dengan tradisi Nyepi, sering dipandang sebagai contoh nyata toleransi antarumat beragama di […]

  • Aksi kritik publik dan spanduk mosi tidak percaya terhadap Wali Kota Viman jelang satu tahun pemerintahan Kota Tasikmalaya

    Setahun Viman–Diky, Mosi Tidak Percaya Menggema

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 16
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Eskalasi kritik publik terhadap pemerintahan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Chandra mulai menguat menjelang satu tahun masa kepemimpinan mereka. Dinamika tersebut terlihat jelas dari rangkaian aksi mahasiswa, pemasangan spanduk kritik di ruang publik, hingga munculnya seruan Mosi Tidak Percaya Viman Tasikmalaya yang kini menjadi sorotan […]

  • waspada hoaks rekrutmen

    Waspada Hoaks Rekrutmen CPNS dan PPPK Kemenag

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 23
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada rekrutmen CPNS maupun PPPK di lingkungan kementerian tersebut. Masyarakat diminta waspada hoaks rekrutmen yang beredar luas di media sosial dan aplikasi pesan singkat, karena informasi tersebut berpotensi merugikan pencari kerja. Penegasan ini disampaikan menyusul maraknya unggahan dan pesan berantai yang mengatasnamakan […]

  • Tambang Ilegal Pangandaran

    Pemprov Jabar Tutup Tambang Ilegal Pangandaran

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Pemprov Jabar menutup dua tambang ilegal di Pangandaran demi keselamatan warga dan kepastian hukum lingkungan. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup dua tambang galian C ilegal di Kabupaten Pangandaran. Penutupan dilakukan setelah aktivitas penambangan batu kapur itu dinyatakan melanggar hukum dan berpotensi membahayakan keselamatan publik. Keputusan ini penting karena lokasi tambang berada […]

  • Guru sedang membimbing siswa di kelas dengan penuh perhatian seperti orang tua kedua di sekolah

    Peran Guru sebagai Orang Tua Kedua yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di ruang kelas, peran guru sering kali lebih dari sekadar pengajar. Banyak siswa melihat guru orang tua kedua yang tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memberi perhatian, nasihat, dan bimbingan hidup. Karena itu, konsep guru sebagai orang tua kedua di sekolah, peran guru dalam mendidik karakter siswa, dan tanggung jawab guru […]

  • kalender hijriyah

    Sejarah Kalender Hijriyah: Fakta yang Jarang Diketahui

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 12
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kalender Hijriyah menyimpan sejarah yang tidak banyak diketahui. Banyak orang mengenal kalender Islam ini sebagai penentu ibadah seperti puasa dan haji. Namun, sejarah kalender Hijriyah, asal-usul penanggalan Islam, serta sistem kalender bulan dalam Islam ternyata memiliki kisah menarik yang jarang dibahas. Selain itu, kalender Hijriyah tidak muncul begitu saja. Ada proses […]

expand_less