Tarif Listrik Dunia: Iran Termurah, Bermuda Termahal
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar pasangan suami istri sedang memeriksa tagihan listrik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Tarif listrik dunia menunjukkan jurang perbedaan yang sangat lebar. Berdasarkan data GlobalPetrolPrices yang dipublikasikan kembali oleh DataIndonesia.id, Iran menjadi negara dengan tarif listrik termurah di dunia, sedangkan Bermuda mencatat tarif listrik termahal untuk pelanggan rumah tangga. Selisih harga keduanya bahkan mencapai sekitar 155 kali lipat. Lalu, bagaimana gambaran tarif listrik Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut?
Angka tersebut menarik perhatian karena listrik merupakan kebutuhan pokok masyarakat sekaligus penopang aktivitas ekonomi. Perbedaan tarif antarnegeri tidak hanya dipengaruhi biaya produksi energi, tetapi juga kebijakan subsidi, sumber energi, hingga kondisi geografis masing-masing negara.
Iran Memimpin Daftar Negara dengan Tarif Listrik Termurah
Data GlobalPetrolPrices memperlihatkan Iran berada di posisi teratas sebagai negara dengan tarif listrik rumah tangga paling rendah.
Masyarakat Iran hanya membayar sekitar US$0,003 per kWh atau setara sekitar Rp54 per kWh.
Di bawah Iran terdapat Ethiopia dengan tarif US$0,006 per kWh. Selanjutnya Kuba mencatat US$0,014 per kWh, sedangkan Bhutan, Kirgizstan, dan Irak sama-sama berada di angka US$0,015 per kWh.
Daftar tersebut kemudian dilengkapi Angola (US$0,016), Sudan (US$0,017), serta Zambia dan Mesir yang sama-sama mencatat US$0,023 per kWh.
Mayoritas negara dalam kelompok ini memiliki kebijakan subsidi energi yang cukup besar atau sumber energi domestik yang membantu menjaga harga listrik tetap rendah bagi masyarakat.
Bermuda Menjadi Negara dengan Tarif Listrik Termahal
Di sisi lain, Bermuda menempati posisi pertama sebagai negara dengan tarif listrik rumah tangga paling mahal.
Tarifnya mencapai US$0,465 per kWh atau sekitar Rp8.337 per kWh.
Setelah Bermuda, Irlandia berada di posisi kedua dengan US$0,450 per kWh, disusul Italia (US$0,414), Kepulauan Cayman (US$0,410), Jerman dan Belgia (masing-masing US$0,406), Inggris (US$0,402), Liechtenstein (US$0,399), Swiss (US$0,367), serta Denmark (US$0,355 per kWh).
Jika dibandingkan secara langsung, tarif listrik rumah tangga di Bermuda sekitar 155 kali lebih mahal daripada Iran. Selisih yang sangat besar ini menggambarkan bahwa biaya listrik di setiap negara sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kebijakan energinya.
Bagaimana Posisi Indonesia?
Indonesia tidak tercantum dalam daftar 10 negara dengan tarif listrik rumah tangga termurah maupun 10 negara dengan tarif tertinggi berdasarkan data GlobalPetrolPrices yang dipublikasikan kembali oleh DataIndonesia.id.
Karena itu, data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan posisi Indonesia dalam peringkat tarif listrik dunia.
Meski demikian, tarif listrik di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibanding banyak negara lain. Pemerintah bersama PT PLN (Persero) menerapkan skema tarif sesuai golongan pelanggan. Selain itu, sebagian pelanggan masih memperoleh subsidi atau kompensasi sehingga besaran tarif yang dibayar masyarakat tidak selalu mengikuti pergerakan harga energi global.
Dengan sistem tersebut, tarif listrik nasional dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebijakan fiskal, biaya pembangkitan, nilai tukar, hingga harga bahan bakar yang digunakan pembangkit listrik.
Mengapa Tarif Listrik Antarnegara Bisa Berbeda Jauh?
Perbedaan tarif listrik dunia tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhinya.
Pertama, ketersediaan sumber energi. Negara yang memiliki cadangan gas alam, minyak bumi, batu bara, atau potensi tenaga air dalam jumlah besar umumnya mampu menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah.
Kedua, kebijakan subsidi pemerintah. Sejumlah negara memilih memberikan subsidi besar agar masyarakat dapat menikmati listrik dengan harga murah, meskipun biaya produksinya tinggi.
Selain itu, biaya distribusi juga berpengaruh. Negara kepulauan kecil atau wilayah yang bergantung pada impor bahan bakar biasanya menghadapi ongkos produksi dan distribusi yang lebih mahal.
Tak kalah penting, investasi infrastruktur kelistrikan dan kebijakan transisi menuju energi bersih juga ikut membentuk besaran tarif listrik yang dibayar pelanggan.
Data Ini Memberikan Gambaran, Bukan Penilaian
Perbandingan tarif listrik dunia sebaiknya dipahami sebagai gambaran kondisi energi di berbagai negara, bukan sebagai ukuran tunggal untuk menilai keberhasilan suatu kebijakan.
Negara dengan tarif listrik murah belum tentu memiliki sistem energi yang paling efisien. Sebaliknya, negara yang menetapkan tarif tinggi bisa saja menghadapi biaya produksi besar, mengembangkan energi terbarukan, atau memiliki karakteristik geografis yang berbeda.
Karena itu, setiap angka perlu dibaca bersama konteks ekonomi, kebijakan, dan kondisi energi masing-masing negara agar menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.
Tagihan listrik memang dibayar setiap bulan. Namun, di balik setiap angka per kWh, tersimpan cerita tentang kebijakan energi, kekuatan ekonomi, dan strategi sebuah negara menjaga kesejahteraan warganya. Memahami tarif listrik dunia berarti memahami bagaimana setiap negara memilih jalan menuju ketahanan energinya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar