Jangan Pernah Berhenti Belajar, Meski Usia Menepi

albadarpost.com, OPINI – Jangan pernah berhenti belajar—nasihat itu terdengar klise, tetapi justru di sanalah letak rahasianya. Ia sederhana, namun menampar. Ia biasa, tetapi menyala. Dalam ungkapan lain, belajar seumur hidup atau menuntut ilmu tanpa henti adalah jalan sunyi yang sering kita abaikan saat usia merasa cukup dan pengalaman merasa mapan.
Sore kemarin, Om Ajur, wartawan senior mengirim pesan singkat. Ia terkesan dengan tulisan-tulisan saya di albadarpost. Ironisnya, saya tidak pernah belajar jurnalistik secara formal. Dulu di pesantren, tidak ada pelajaran reportase, tidak ada kelas wawancara, apalagi teori framing. Kami hanya diajari adab, alat, fikih, tafsir, dan kesabaran. Namun justru dari lorong-lorong kitab kuning itulah saya memahami satu hal: jangan pernah berhenti belajar.
Saya tersenyum getir. Usia saya tidak lagi muda. Rambut mulai memutih. Energi tidak seberlimpah dulu. Namun hidup terus mengirim pelajaran dengan cara yang kadang menyenangkan, kadang memalukan. Karena itu, berhenti belajar sama saja dengan mengundurkan diri dari kehidupan.
Baca juga: Risiko Hukum Pengadaan Pemerintah
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Rabbi zidni ‘ilma” (QS. Thaha: 114). Doa itu singkat, tetapi mengguncang. Nabi saja diperintahkan meminta tambahan ilmu. Lalu mengapa kita merasa cukup?
Hidup Adalah Guru yang Tak Pernah Libur
Hidup tidak pernah berhenti mengajar. Ia memberi ujian tanpa kisi-kisi. Ia menghadirkan kegagalan tanpa pemberitahuan. Namun justru di sanalah makna belajar seumur hidup menemukan relevansinya.
Sering kali kita takut salah. Kita khawatir terlihat bodoh. Kita enggan mencoba hal baru karena merasa terlambat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini tidak menyebut batas usia. Tidak ada catatan kaki yang mengatakan “kecuali setelah kepala beruban.”
Karena itu, jangan pernah berhenti belajar hanya karena gelar sudah panjang. Jangan berhenti membaca hanya karena jabatan sudah tinggi. Justru saat posisi terasa aman, kesombongan mulai menyelinap. Di titik itu, ilmu berhenti tumbuh dan hati mulai mengeras.
Imam Imam Syafi’i pernah berkata, “Barang siapa yang tidak tahan menanggung lelahnya belajar, maka ia harus tahan menanggung pahitnya kebodohan.” Kalimat itu terdengar tegas, bahkan keras. Namun ia jujur. Ilmu memang menuntut pengorbanan, sedangkan kebodohan menuntut harga diri.
Investasi yang Tidak Pernah Rugi
Di dunia yang serba cepat, banyak orang berlomba mengamankan masa depan dengan aset dan angka. Mereka menghitung tabungan, properti, dan portofolio. Namun sedikit yang menghitung kedalaman ilmu. Padahal belajar adalah investasi paling sunyi dan paling tahan krisis.
Ketika teknologi berubah, orang yang terus belajar akan menyesuaikan diri. Ketika zaman bergeser, ia tidak panik. Sebaliknya, orang yang berhenti belajar akan menyalahkan keadaan. Ia marah pada generasi baru. Ia mencibir perubahan. Padahal masalahnya bukan pada zaman, melainkan pada dirinya yang berhenti tumbuh.
Saya lama merenung: mungkin pujian wartawan senior itu bukan tentang kemampuan menulis. Mungkin itu tentang ketekunan belajar dari pengalaman. Saya belajar dari kesalahan redaksi. Saya belajar dari kritik pembaca atau bahkan kritik istri. Dan saya belajar dari kegagalan artikel yang sepi respons. Karena itu, jangan pernah berhenti belajar walau bidangnya tidak pernah kita pelajari secara formal.
Belajar tidak selalu berarti duduk di kelas. Ia bisa hadir lewat percakapan sederhana, buku tipis, bahkan komentar pedas. Jika hati terbuka, setiap peristiwa berubah menjadi madrasah.
Mengalahkan Rasa Takut
Rasa takut sering menjadi penghalang terbesar. Kita takut salah. Kita takut ditertawakan. Atau kita takut memulai dari nol. Namun setiap kesalahan adalah guru yang paling jujur. Ia tidak menyenangkan, tetapi ia efektif.
Dalam tasawuf, para ulama mengajarkan muhasabah: introspeksi diri. Tanpa evaluasi, seseorang akan terjebak dalam ilusi kesempurnaan. Karena itu, belajar juga berarti berani mengakui kekurangan. Di sinilah satir kehidupan bekerja: semakin tua usia, semakin terasa betapa sedikit yang kita tahu.
Baca juga: Tawakal dan Tafwid: Jalan Tenang di Tengah Badai Hidup
Ironisnya, justru anak kecil lebih mudah belajar. Mereka tidak malu bertanya. Mereka tidak gengsi mencoba. Sementara orang dewasa sering terjebak citra. Maka, mungkin yang perlu kita pelajari pertama kali adalah kerendahan hati.
Jangan pernah berhenti belajar, sebab berhenti berarti merasa selesai. Padahal manusia tidak pernah benar-benar selesai. Selama napas masih berhembus, Allah masih membuka episode baru.
Kebiasaan, Bukan Sekadar Motivasi
Motivasi sering meledak di awal tahun, lalu redup di tengah jalan. Karena itu, belajar harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan. Bacalah meski satu halaman. Tulis meski satu paragraf. Dengarkan meski satu nasihat. Konsistensi kecil akan membentuk perubahan besar.
Saya percaya, usia bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru pada usia matang, pengalaman memberi kedalaman. Ketika pengalaman bertemu kerendahan hati, lahirlah kebijaksanaan.
Akhirnya, nasihat sederhana itu kembali bergaung: jangan pernah berhenti belajar. Sebab hidup terus berjalan. Waktu terus menguji. Dan Tuhan terus mengajarkan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)




