Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jangan Pernah Berhenti Belajar, Meski Usia Menepi

Jangan Pernah Berhenti Belajar, Meski Usia Menepi

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINIJangan pernah berhenti belajar—nasihat itu terdengar klise, tetapi justru di sanalah letak rahasianya. Ia sederhana, namun menampar. Ia biasa, tetapi menyala. Dalam ungkapan lain, belajar seumur hidup atau menuntut ilmu tanpa henti adalah jalan sunyi yang sering kita abaikan saat usia merasa cukup dan pengalaman merasa mapan.

Sore kemarin, Om Ajur, wartawan senior mengirim pesan singkat. Ia terkesan dengan tulisan-tulisan saya di albadarpost. Ironisnya, saya tidak pernah belajar jurnalistik secara formal. Dulu di pesantren, tidak ada pelajaran reportase, tidak ada kelas wawancara, apalagi teori framing. Kami hanya diajari adab, alat, fikih, tafsir, dan kesabaran. Namun justru dari lorong-lorong kitab kuning itulah saya memahami satu hal: jangan pernah berhenti belajar.

Saya tersenyum getir. Usia saya tidak lagi muda. Rambut mulai memutih. Energi tidak seberlimpah dulu. Namun hidup terus mengirim pelajaran dengan cara yang kadang menyenangkan, kadang memalukan. Karena itu, berhenti belajar sama saja dengan mengundurkan diri dari kehidupan.

Baca juga: Risiko Hukum Pengadaan Pemerintah

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Rabbi zidni ‘ilma” (QS. Thaha: 114). Doa itu singkat, tetapi mengguncang. Nabi saja diperintahkan meminta tambahan ilmu. Lalu mengapa kita merasa cukup?

Hidup Adalah Guru yang Tak Pernah Libur

Hidup tidak pernah berhenti mengajar. Ia memberi ujian tanpa kisi-kisi. Ia menghadirkan kegagalan tanpa pemberitahuan. Namun justru di sanalah makna belajar seumur hidup menemukan relevansinya.

Sering kali kita takut salah. Kita khawatir terlihat bodoh. Kita enggan mencoba hal baru karena merasa terlambat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini tidak menyebut batas usia. Tidak ada catatan kaki yang mengatakan “kecuali setelah kepala beruban.”

Karena itu, jangan pernah berhenti belajar hanya karena gelar sudah panjang. Jangan berhenti membaca hanya karena jabatan sudah tinggi. Justru saat posisi terasa aman, kesombongan mulai menyelinap. Di titik itu, ilmu berhenti tumbuh dan hati mulai mengeras.

Imam Imam Syafi’i pernah berkata, “Barang siapa yang tidak tahan menanggung lelahnya belajar, maka ia harus tahan menanggung pahitnya kebodohan.” Kalimat itu terdengar tegas, bahkan keras. Namun ia jujur. Ilmu memang menuntut pengorbanan, sedangkan kebodohan menuntut harga diri.

Investasi yang Tidak Pernah Rugi

Di dunia yang serba cepat, banyak orang berlomba mengamankan masa depan dengan aset dan angka. Mereka menghitung tabungan, properti, dan portofolio. Namun sedikit yang menghitung kedalaman ilmu. Padahal belajar adalah investasi paling sunyi dan paling tahan krisis.

Ketika teknologi berubah, orang yang terus belajar akan menyesuaikan diri. Ketika zaman bergeser, ia tidak panik. Sebaliknya, orang yang berhenti belajar akan menyalahkan keadaan. Ia marah pada generasi baru. Ia mencibir perubahan. Padahal masalahnya bukan pada zaman, melainkan pada dirinya yang berhenti tumbuh.

Saya lama merenung: mungkin pujian wartawan senior itu bukan tentang kemampuan menulis. Mungkin itu tentang ketekunan belajar dari pengalaman. Saya belajar dari kesalahan redaksi. Saya belajar dari kritik pembaca atau bahkan kritik istri. Dan saya belajar dari kegagalan artikel yang sepi respons. Karena itu, jangan pernah berhenti belajar walau bidangnya tidak pernah kita pelajari secara formal.

Belajar tidak selalu berarti duduk di kelas. Ia bisa hadir lewat percakapan sederhana, buku tipis, bahkan komentar pedas. Jika hati terbuka, setiap peristiwa berubah menjadi madrasah.

Mengalahkan Rasa Takut

Rasa takut sering menjadi penghalang terbesar. Kita takut salah. Kita takut ditertawakan. Atau kita takut memulai dari nol. Namun setiap kesalahan adalah guru yang paling jujur. Ia tidak menyenangkan, tetapi ia efektif.

Dalam tasawuf, para ulama mengajarkan muhasabah: introspeksi diri. Tanpa evaluasi, seseorang akan terjebak dalam ilusi kesempurnaan. Karena itu, belajar juga berarti berani mengakui kekurangan. Di sinilah satir kehidupan bekerja: semakin tua usia, semakin terasa betapa sedikit yang kita tahu.

Baca juga: Tawakal dan Tafwid: Jalan Tenang di Tengah Badai Hidup

Ironisnya, justru anak kecil lebih mudah belajar. Mereka tidak malu bertanya. Mereka tidak gengsi mencoba. Sementara orang dewasa sering terjebak citra. Maka, mungkin yang perlu kita pelajari pertama kali adalah kerendahan hati.

Jangan pernah berhenti belajar, sebab berhenti berarti merasa selesai. Padahal manusia tidak pernah benar-benar selesai. Selama napas masih berhembus, Allah masih membuka episode baru.

Kebiasaan, Bukan Sekadar Motivasi

Motivasi sering meledak di awal tahun, lalu redup di tengah jalan. Karena itu, belajar harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan. Bacalah meski satu halaman. Tulis meski satu paragraf. Dengarkan meski satu nasihat. Konsistensi kecil akan membentuk perubahan besar.

Saya percaya, usia bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru pada usia matang, pengalaman memberi kedalaman. Ketika pengalaman bertemu kerendahan hati, lahirlah kebijaksanaan.

Akhirnya, nasihat sederhana itu kembali bergaung: jangan pernah berhenti belajar. Sebab hidup terus berjalan. Waktu terus menguji. Dan Tuhan terus mengajarkan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masakan ibu di dapur rumah dengan hidangan sederhana yang hangat dan penuh makna keluarga.

    Alasan Masakan Rumahan Paling Istimewa

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 11
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Masakan ibu selalu memiliki tempat istimewa di hati banyak orang. Masakan rumahan yang sederhana sering terasa lebih nikmat dibanding makanan restoran mahal. Bahkan, rasa makanan buatan ibu mampu menghadirkan kenangan masa kecil, menghadirkan rasa nyaman, dan menguatkan ikatan keluarga. Karena itu, banyak orang menyadari bahwa kelezatan masakan ibu tidak hanya berasal dari […]

  • takdir Allah

    Takdir Allah Menentukan Ikhtiar, Ulama Ingatkan Batas Kehendak

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Takdir Allah SWT membatasi kehendak manusia. Ulama menegaskan ikhtiar wajib, hasil tetap ditentukan Tuhan. albadarpost.com, LIFESTYLE – Keyakinan bahwa manusia bebas menentukan nasibnya kembali ditegaskan memiliki batas. Ulama mengingatkan, sekuat apa pun ikhtiar dilakukan, hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan takdir Allah Swt. Pemahaman ini dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak pada ambisi berlebihan yang […]

  • Pekerja migran Indonesia duduk sendiri di kamar luar negeri sambil melakukan panggilan video dengan keluarga di rumah.

    Semua Melihat Gajinya, Sedikit Orang Melihat Perjuangannya

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 14
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Setiap bulan, uang dikirim tepat waktu. Keluarga tersenyum bangga. Tetangga menganggap hidupnya sukses. Namun di kamar kecil ribuan kilometer dari rumah, seorang pekerja migran justru menahan rindu yang tidak pernah terlihat. Cerita tentang buruh migran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri, dan kehidupan pekerja migran sering berhenti pada angka gaji. Padahal, realita […]

  • kesombongan tauhid

    Mengapa Kesombongan Bisa Merusak Tauhid Seseorang

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 32
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kesombongan tauhid sering kali muncul secara halus, bahkan tanpa disadari oleh seseorang. Sikap sombong dalam iman, keangkuhan spiritual, dan merasa lebih suci dibanding orang lain menjadi pintu yang merusak kemurnian tauhid. Padahal, tauhid menuntut ketundukan total kepada Allah, bukan pengagungan diri sendiri. Lebih dari itu, kesombongan bukan sekadar akhlak buruk. Ia adalah […]

  • pengerukan pasir sungai

    Larangan Keras Tak Mampu Hentikan Tambang Pasir, Apa yang Salah?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pengerukan pasir sungai kembali menjadi sorotan karena aktivitas ini terus berlangsung meski larangan sudah ditegakkan. Fenomena pengerukan pasir sungai, tambang ilegal, dan eksploitasi sungai menunjukkan masalah yang belum terselesaikan. Di satu sisi, penindakan terlihat tegas. Namun di sisi lain, solusi nyata justru hampir tidak terdengar. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pendekatan […]

  • penyakit pascabencana

    Kemenkes Tegaskan Lonjakan Penyakit Pascabencana di Sumatera

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Kemenkes mencatat peningkatan penyakit pascabencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut dengan risiko penyebaran yang membesar. Kemenkes Laporkan Lonjakan Penyakit Pascabencana dan Peringatkan Risiko Meluas albadarpost.com, LENSA – Kasus penyakit pascabencana mulai meningkat di tiga provinsi terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Lonjakan ini menjadi perhatian pemerintah karena wilayah tersebut […]

expand_less