Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 157
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Nikmat atau istidraj sering kali terlihat sama di permukaan. Rezeki datang, jabatan naik, usaha lancar, nama makin dikenal. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menggetarkan: apakah itu benar nikmat atau justru istidraj? Dalam tradisi tasawuf, istilah ini bukan sekadar teori, melainkan alarm batin. Sinonimnya jelas: rezeki yang menenangkan atau karunia yang menipu.

Al-Hikam karya Ibnu Athaillah membagi manusia menjadi tiga golongan saat menghadapi nikmat. Pembagian ini terasa sederhana, tetapi dampaknya menentukan arah hidup seseorang.

Gembira Karena Nafsu, Lalu Terjebak

Golongan pertama merasa bahagia karena kelezatan nikmat itu sendiri. Mereka menikmati hasilnya, tetapi melupakan Pemberinya. Fokusnya hanya pada rasa puas, status sosial, dan kenyamanan hidup. Tuhan menjadi latar belakang yang kabur.

Al-Qur’an memberi peringatan keras:

“Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(Al-Qur’an, Al-An’am: 44)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Dalam konsep tasawuf, kondisi ini disebut istidraj: kenikmatan yang dibiarkan mengalir sampai seseorang makin jauh dari kesadaran ilahiah. Ia merasa aman, padahal sedang digiring perlahan.

Abdul Aziz Al-Mahdawi mengingatkan, siapa yang tidak melihat Sang Pemberi dalam nikmatnya, maka nikmat itu berubah menjadi ujian yang menyakitkan. Rezeki yang tidak menambah kedekatan justru bisa mempercepat kehancuran moral.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa silam. Hari ini, seseorang bisa viral, kaya, dan dipuja. Namun jika pusat kegembiraannya hanya pada sorotan dan angka, maka ia sedang menari di tepi jurang yang tak terlihat.

Gembira Karena Karunia Allah

Golongan kedua lebih sadar. Mereka bergembira karena memahami bahwa nikmat itu datang dari Allah. Mereka mengakui sumbernya, bersyukur, dan merasa dicintai oleh-Nya.

Al-Qur’an menegaskan:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(Yunus: 58)

Di sini, kegembiraan menjadi ibadah. Syukur mengubah rasa senang menjadi energi spiritual. Orang seperti ini tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari hubungan vertikalnya.

Namun tasawuf tidak berhenti di sini. Karena masih ada lapisan yang lebih dalam.

Gembira Hanya Karena Allah

Golongan ketiga terasa nyaris mustahil di zaman notifikasi dan validasi sosial. Mereka tidak terpesona oleh bentuk lahir nikmat. Bahkan rasa “aku diberi karunia” pun tidak menjadi pusat perhatian. Mereka sibuk dengan Allah sendiri.

Al-Qur’an menyebutkan:

“Katakanlah: Allah, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka.”
(Al-An’am: 91)

Ini bukan sikap apatis. Ini puncak kesadaran. Nikmat hanyalah sarana mendekat, bukan tujuan akhir. Rezeki menjadi kendaraan, bukan destinasi.

Abu Hamid al-Ghazali memberi perumpamaan tajam. Seorang raja menghadiahkan kuda. Golongan pertama senang karena kudanya berguna. Golongan kedua senang karena merasa diperhatikan raja. Dan golongan ketiga justru melihat hadiah itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan raja.

Perumpamaan ini sederhana, tetapi menghantam ego kita. Kita sering terpesona pada “kuda”-nya, bukan pada Raja.

Nikmat atau Istidraj di Era Modern

Sekarang mari jujur. Ketika karier menanjak, apakah hati bertambah khusyuk atau justru makin sibuk? Ketika usaha sukses, apakah sedekah bertambah atau justru rasa sombong tumbuh diam-diam?

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya.”
(HR. Muslim)

Dunia memang menarik. Namun justru karena itu ia berbahaya. Istidraj bekerja halus. Ia tidak datang dengan alarm. Ia datang dengan tepuk tangan.

Baca juga: Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Setiap nikmat perlu ditanya: apakah ia mendekatkan atau menjauhkan? Apakah ia menambah syukur atau sekadar menambah gaya hidup?

Satir yang Menyentil Kita Semua

Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah besar, kendaraan mewah, jumlah pengikut. Padahal dalam neraca langit, indikatornya berbeda.

Ironisnya, kita sering mengira Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi Dia sedang memberi waktu sebelum teguran datang. Kita merasa dipilih, padahal mungkin hanya sedang diuji dengan kesenangan.

Nikmat atau istidraj bukan perkara jumlah, melainkan arah hati. Jika nikmat membuat kita makin tunduk, maka ia benar-benar karunia. Namun jika nikmat membuat kita lupa diri, maka ia bisa berubah menjadi jebakan yang elegan.

Akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang kita terima. Persoalannya ada pada siapa yang kita lihat ketika menerimanya.

Dan di sanalah, nasib kita ditentukan.

واللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Passport Index 2026

    Kini, WNI Bisa Keliling Dunia Tanpa Visa

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Passport Index 2026 membuka akses bebas visa ke 43 negara, memberi kemudahan perjalanan internasional bagi WNI. albadarpost.com, LIFESTYLE – Bagi banyak warga Indonesia, bepergian ke luar negeri selama ini identik dengan antrean visa, biaya tambahan, dan ketidakpastian. Mulai Januari 2026, situasi itu perlahan berubah. Passport Index 2026 mencatat paspor Indonesia kini mendapat akses bebas visa […]

  • Ilustrasi penahanan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK terkait kasus kuota haji dengan suasana tegang dan dramatis

    Yaqut Kembali Ditahan KPK: Fakta Mengejutkan di Balik Kasus Kuota Haji

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 130
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kabar Yaqut ditahan KPK kembali menjadi sorotan publik. Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, kembali menjalani penahanan di rumah tahanan setelah sebelumnya berstatus tahanan rumah. Kasus kuota haji yang menyeret namanya kini memasuki babak baru dan semakin memanas. Status Penahanan Berubah, Ada Apa? Perubahan status dari tahanan rumah ke rutan bukan […]

  • Upacara mutasi Polres Tasikmalaya 2026 dengan pergantian 12 jabatan di Lapangan Hitam Mapolres

    Mutasi Polres Tasikmalaya 2026: 12 Jabatan Berganti, Biasa atau Ada Sesuatu?

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 151
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Mutasi Polres Tasikmalaya 2026 langsung menyedot perhatian. Sebanyak 12 jabatan strategis diganti dalam satu momentum. Rotasi polisi, sertijab, dan pergeseran posisi kunci terjadi bersamaan—dan itu jarang dianggap sekadar rutinitas. Publik mulai membaca lebih dalam. Apakah ini hanya penyegaran? Atau sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang dibenahi? “Penyegaran Organisasi”, Kata Kapolres Upacara […]

  • Kisah Hasan dan Husain

    7 Kisah Hasan dan Husain, Nomor 4 Membuat Rasulullah Turun dari Mimbar

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Hasan dan Husain selalu menarik untuk dipelajari karena keduanya merupakan cucu Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai. Namun, di balik sejarah besar tersebut, terdapat banyak kisah Hasan dan Husain yang jarang diketahui oleh umat Islam. Cerita tentang keteladanan Hasan dan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, tidak hanya menggambarkan kedekatan mereka dengan […]

  • UMP dan UMK 2026

    Gubernur Jabar Tetapkan UMP dan UMK 2026

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Penetapan UMP dan UMK Jabar 2026 diteken hari ini, disparitas upah antar daerah masih jadi masalah utama. albadarpost.com, HUMANIORA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP), Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), serta upah sektoral Jawa Barat 2026 akan ditandatangani pada Rabu, 24 Desember 2025. Keputusan ini menjadi penentu arah kebijakan pengupahan […]

  • Penduduk Tasikmalaya

    Hampir 2 Juta Penduduk Tasikmalaya, Mengapa Kemiskinan Masih Tinggi?

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 27
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penduduk Tasikmalaya terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, di balik pertumbuhan populasi Tasikmalaya yang kini hampir menyentuh dua juta jiwa, masih tersimpan pekerjaan rumah besar. Berdasarkan publikasi Kabupaten Tasikmalaya Dalam Angka 2026 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya pada 2025 mencapai 1.946.197 jiwa. Ironisnya, sekitar 185.990 […]

expand_less