Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 181
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Nikmat atau istidraj sering kali terlihat sama di permukaan. Rezeki datang, jabatan naik, usaha lancar, nama makin dikenal. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menggetarkan: apakah itu benar nikmat atau justru istidraj? Dalam tradisi tasawuf, istilah ini bukan sekadar teori, melainkan alarm batin. Sinonimnya jelas: rezeki yang menenangkan atau karunia yang menipu.

Al-Hikam karya Ibnu Athaillah membagi manusia menjadi tiga golongan saat menghadapi nikmat. Pembagian ini terasa sederhana, tetapi dampaknya menentukan arah hidup seseorang.

Gembira Karena Nafsu, Lalu Terjebak

Golongan pertama merasa bahagia karena kelezatan nikmat itu sendiri. Mereka menikmati hasilnya, tetapi melupakan Pemberinya. Fokusnya hanya pada rasa puas, status sosial, dan kenyamanan hidup. Tuhan menjadi latar belakang yang kabur.

Al-Qur’an memberi peringatan keras:

“Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(Al-Qur’an, Al-An’am: 44)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Dalam konsep tasawuf, kondisi ini disebut istidraj: kenikmatan yang dibiarkan mengalir sampai seseorang makin jauh dari kesadaran ilahiah. Ia merasa aman, padahal sedang digiring perlahan.

Abdul Aziz Al-Mahdawi mengingatkan, siapa yang tidak melihat Sang Pemberi dalam nikmatnya, maka nikmat itu berubah menjadi ujian yang menyakitkan. Rezeki yang tidak menambah kedekatan justru bisa mempercepat kehancuran moral.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa silam. Hari ini, seseorang bisa viral, kaya, dan dipuja. Namun jika pusat kegembiraannya hanya pada sorotan dan angka, maka ia sedang menari di tepi jurang yang tak terlihat.

Gembira Karena Karunia Allah

Golongan kedua lebih sadar. Mereka bergembira karena memahami bahwa nikmat itu datang dari Allah. Mereka mengakui sumbernya, bersyukur, dan merasa dicintai oleh-Nya.

Al-Qur’an menegaskan:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(Yunus: 58)

Di sini, kegembiraan menjadi ibadah. Syukur mengubah rasa senang menjadi energi spiritual. Orang seperti ini tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari hubungan vertikalnya.

Namun tasawuf tidak berhenti di sini. Karena masih ada lapisan yang lebih dalam.

Gembira Hanya Karena Allah

Golongan ketiga terasa nyaris mustahil di zaman notifikasi dan validasi sosial. Mereka tidak terpesona oleh bentuk lahir nikmat. Bahkan rasa “aku diberi karunia” pun tidak menjadi pusat perhatian. Mereka sibuk dengan Allah sendiri.

Al-Qur’an menyebutkan:

“Katakanlah: Allah, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka.”
(Al-An’am: 91)

Ini bukan sikap apatis. Ini puncak kesadaran. Nikmat hanyalah sarana mendekat, bukan tujuan akhir. Rezeki menjadi kendaraan, bukan destinasi.

Abu Hamid al-Ghazali memberi perumpamaan tajam. Seorang raja menghadiahkan kuda. Golongan pertama senang karena kudanya berguna. Golongan kedua senang karena merasa diperhatikan raja. Dan golongan ketiga justru melihat hadiah itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan raja.

Perumpamaan ini sederhana, tetapi menghantam ego kita. Kita sering terpesona pada “kuda”-nya, bukan pada Raja.

Nikmat atau Istidraj di Era Modern

Sekarang mari jujur. Ketika karier menanjak, apakah hati bertambah khusyuk atau justru makin sibuk? Ketika usaha sukses, apakah sedekah bertambah atau justru rasa sombong tumbuh diam-diam?

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya.”
(HR. Muslim)

Dunia memang menarik. Namun justru karena itu ia berbahaya. Istidraj bekerja halus. Ia tidak datang dengan alarm. Ia datang dengan tepuk tangan.

Baca juga: Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Setiap nikmat perlu ditanya: apakah ia mendekatkan atau menjauhkan? Apakah ia menambah syukur atau sekadar menambah gaya hidup?

Satir yang Menyentil Kita Semua

Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah besar, kendaraan mewah, jumlah pengikut. Padahal dalam neraca langit, indikatornya berbeda.

Ironisnya, kita sering mengira Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi Dia sedang memberi waktu sebelum teguran datang. Kita merasa dipilih, padahal mungkin hanya sedang diuji dengan kesenangan.

Nikmat atau istidraj bukan perkara jumlah, melainkan arah hati. Jika nikmat membuat kita makin tunduk, maka ia benar-benar karunia. Namun jika nikmat membuat kita lupa diri, maka ia bisa berubah menjadi jebakan yang elegan.

Akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang kita terima. Persoalannya ada pada siapa yang kita lihat ketika menerimanya.

Dan di sanalah, nasib kita ditentukan.

واللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • prediksi Persib vs Bali United

    Persib vs Bali United: Prediksi Skor, Data Taktik, dan Peluang Menang Terbaru

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 166
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pertandingan antara Persib Bandung vs Bali United menjadi sorotan karena mempertemukan tim paling stabil dengan tim paling sulit diprediksi. Dalam prediksi Persib vs Bali United, analisis menunjukkan perbedaan mencolok dari sisi performa, efektivitas serangan, hingga kekuatan mental. Selain itu, istilah seperti analisis Persib vs Bali United, prediksi skor Persib, dan peluang […]

  • solusi pascapanen singkong

    Solusi Pascapanen Singkong, Cerita Mahasiswa dan UMKM Desa

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 189
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Cuaca mendung kerap menjadi momok bagi pelaku UMKM olahan singkong di desa. Proses pengeringan yang bergantung pada sinar matahari sering terhenti, sementara kebutuhan produksi terus berjalan. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) turun langsung ke lapangan membawa solusi pascapanen singkong berbasis teknologi tepat guna. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, […]

  • Ono Surono

    Ono Surono di Kasus Korupsi Bekasi

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melanjutkan penyidikan kasus korupsi proyek pemerintahan Kabupaten Bekasi dengan menelusuri dugaan aliran uang ke Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono. Pendalaman ini bukan sekadar pemeriksaan saksi, tetapi mengarah pada pengujian unsur pidana yang dapat berujung sanksi hukum dan politik bagi pejabat publik. Langkah KPK menjadi penting […]

  • Ilustrasi muslim melaksanakan salat

    Rajin Salat Tapi Masih Maksiat? Ini Jawaban Al-Qur’an

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 250
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Banyak orang pernah bertanya, bahkan mungkin bertanya diam-diam kepada dirinya sendiri: mengapa ada orang yang rajin salat, tidak pernah meninggalkan salat lima waktu, tetapi masih melakukan kebohongan, ghibah, fitnah, atau perbuatan maksiat lainnya? Pertanyaan tentang salat mencegah maksiat sebenarnya bukan hal baru. Al-Qur’an telah memberikan jawabannya melalui QS Al-‘Ankabut ayat 45. Ayat […]

  • Teror air keras Tasikmalaya

    Aksi Brutal di Manonjaya: 6 Korban Melepuh Disiram Air Keras

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 149
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Teror air keras Tasikmalaya mengguncang warga setelah seorang sopir ekspedisi melakukan aksi brutal dengan menyiramkan cairan berbahaya kepada pegawai konveksi. Insiden penyerangan air keras di Tasikmalaya ini menyebabkan sembilan orang menjadi korban, enam di antaranya mengalami luka bakar serius. Peristiwa terjadi di Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, sekitar pukul 19.00 […]

  • Kegiatan penguatan HAM kesehatan di Dinas Kesehatan Tasikmalaya dengan Wakil Wali Kota dan Kanwil HAM Jawa Barat

    Tak Sekadar Prosedur, Ini Wajah Baru Layanan Kesehatan Tasikmalaya

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 176
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penguatan HAM kesehatan mulai menunjukkan arah baru di Kota Tasikmalaya. Tidak lagi sekadar formalitas, penerapan hak asasi manusia di sektor kesehatan kini bergerak menuju layanan yang lebih adil, inklusif, dan benar-benar dirasakan masyarakat. Suasana itu terasa dalam kegiatan Penguatan Kapasitas HAM bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Kesehatan Kota […]

expand_less