Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 159
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Nikmat atau istidraj sering kali terlihat sama di permukaan. Rezeki datang, jabatan naik, usaha lancar, nama makin dikenal. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menggetarkan: apakah itu benar nikmat atau justru istidraj? Dalam tradisi tasawuf, istilah ini bukan sekadar teori, melainkan alarm batin. Sinonimnya jelas: rezeki yang menenangkan atau karunia yang menipu.

Al-Hikam karya Ibnu Athaillah membagi manusia menjadi tiga golongan saat menghadapi nikmat. Pembagian ini terasa sederhana, tetapi dampaknya menentukan arah hidup seseorang.

Gembira Karena Nafsu, Lalu Terjebak

Golongan pertama merasa bahagia karena kelezatan nikmat itu sendiri. Mereka menikmati hasilnya, tetapi melupakan Pemberinya. Fokusnya hanya pada rasa puas, status sosial, dan kenyamanan hidup. Tuhan menjadi latar belakang yang kabur.

Al-Qur’an memberi peringatan keras:

“Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(Al-Qur’an, Al-An’am: 44)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Dalam konsep tasawuf, kondisi ini disebut istidraj: kenikmatan yang dibiarkan mengalir sampai seseorang makin jauh dari kesadaran ilahiah. Ia merasa aman, padahal sedang digiring perlahan.

Abdul Aziz Al-Mahdawi mengingatkan, siapa yang tidak melihat Sang Pemberi dalam nikmatnya, maka nikmat itu berubah menjadi ujian yang menyakitkan. Rezeki yang tidak menambah kedekatan justru bisa mempercepat kehancuran moral.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa silam. Hari ini, seseorang bisa viral, kaya, dan dipuja. Namun jika pusat kegembiraannya hanya pada sorotan dan angka, maka ia sedang menari di tepi jurang yang tak terlihat.

Gembira Karena Karunia Allah

Golongan kedua lebih sadar. Mereka bergembira karena memahami bahwa nikmat itu datang dari Allah. Mereka mengakui sumbernya, bersyukur, dan merasa dicintai oleh-Nya.

Al-Qur’an menegaskan:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(Yunus: 58)

Di sini, kegembiraan menjadi ibadah. Syukur mengubah rasa senang menjadi energi spiritual. Orang seperti ini tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari hubungan vertikalnya.

Namun tasawuf tidak berhenti di sini. Karena masih ada lapisan yang lebih dalam.

Gembira Hanya Karena Allah

Golongan ketiga terasa nyaris mustahil di zaman notifikasi dan validasi sosial. Mereka tidak terpesona oleh bentuk lahir nikmat. Bahkan rasa “aku diberi karunia” pun tidak menjadi pusat perhatian. Mereka sibuk dengan Allah sendiri.

Al-Qur’an menyebutkan:

“Katakanlah: Allah, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka.”
(Al-An’am: 91)

Ini bukan sikap apatis. Ini puncak kesadaran. Nikmat hanyalah sarana mendekat, bukan tujuan akhir. Rezeki menjadi kendaraan, bukan destinasi.

Abu Hamid al-Ghazali memberi perumpamaan tajam. Seorang raja menghadiahkan kuda. Golongan pertama senang karena kudanya berguna. Golongan kedua senang karena merasa diperhatikan raja. Dan golongan ketiga justru melihat hadiah itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan raja.

Perumpamaan ini sederhana, tetapi menghantam ego kita. Kita sering terpesona pada “kuda”-nya, bukan pada Raja.

Nikmat atau Istidraj di Era Modern

Sekarang mari jujur. Ketika karier menanjak, apakah hati bertambah khusyuk atau justru makin sibuk? Ketika usaha sukses, apakah sedekah bertambah atau justru rasa sombong tumbuh diam-diam?

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya.”
(HR. Muslim)

Dunia memang menarik. Namun justru karena itu ia berbahaya. Istidraj bekerja halus. Ia tidak datang dengan alarm. Ia datang dengan tepuk tangan.

Baca juga: Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Setiap nikmat perlu ditanya: apakah ia mendekatkan atau menjauhkan? Apakah ia menambah syukur atau sekadar menambah gaya hidup?

Satir yang Menyentil Kita Semua

Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah besar, kendaraan mewah, jumlah pengikut. Padahal dalam neraca langit, indikatornya berbeda.

Ironisnya, kita sering mengira Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi Dia sedang memberi waktu sebelum teguran datang. Kita merasa dipilih, padahal mungkin hanya sedang diuji dengan kesenangan.

Nikmat atau istidraj bukan perkara jumlah, melainkan arah hati. Jika nikmat membuat kita makin tunduk, maka ia benar-benar karunia. Namun jika nikmat membuat kita lupa diri, maka ia bisa berubah menjadi jebakan yang elegan.

Akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang kita terima. Persoalannya ada pada siapa yang kita lihat ketika menerimanya.

Dan di sanalah, nasib kita ditentukan.

واللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tol Getaci Terpanjang

    Pembangunan Tol Getaci Terpanjang Dimulai 2026, Hubungkan Bandung–Cilacap

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Tol Getaci terpanjang di Indonesia mulai dibangun 2026, menghubungkan Bandung hingga Cilacap sepanjang 206 kilometer. albadarpost.com, LENSA – Ambisi pemerintah menghadirkan Tol Getaci Terpanjang di Indonesia memasuki babak baru. Proyek berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) ini diproyeksikan menandai era anyar infrastruktur jalan bebas hambatan dengan melintasi medan paling menantang di Jawa Barat hingga Jawa Tengah. […]

  • Keselamatan Anak & Pendidikan

    Dulu Seberangi Sungai, Kini Akses Pendidikan Pedesaan Lebih Aman

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 150
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Jembatan gantung yang menghubungkan wilayah Pangandaran dan Tasikmalaya kini menjadi jalur utama warga, sekaligus membuka babak baru bagi akses pendidikan pedesaan. Bagi anak-anak sekolah, jembatan ini mengakhiri risiko harian yang selama bertahun-tahun mereka hadapi saat menyeberangi sungai. Jembatan gantung Harumandala menghubungkan Desa Harumandala, Kabupaten Pangandaran, dengan Desa Sindangasih, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak berfungsi […]

  • Resep Chia Fresca

    Cuaca Panas? Coba Resep Chia Fresca Khas Meksiko

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 100
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Resep Chia Fresca atau minuman biji chia khas Meksiko kembali menarik perhatian selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Minuman tradisional yang dikenal sebagai salah satu minuman sehat dari Meksiko ini banyak dibicarakan karena kandungan serat dan omega-3 yang dimilikinya, sekaligus dipercaya membantu menjaga hidrasi tubuh saat cuaca panas. Di tengah tingginya suhu di […]

  • santri penghafal Al-Qur'an

    Tangis di Sepertiga Malam: Kisah Santri Penghafal Al-Qur’an Ini Bikin Haru

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Sebagian orang masih terlelap, tetapi seorang santri penghafal Al-Qur’an sudah duduk bersila di sudut kamar sederhana. Suara lirih ayat suci mulai terdengar pelan. Inilah rutinitas yang jarang terlihat—perjalanan sunyi seorang hafiz Qur’an yang penuh disiplin dan keteguhan. Kisah santri penghafal Al-Qur’an atau hafiz Qur’an selalu menyimpan […]

  • Sapi Kurban Tasikmalaya

    Warga Panik! Sapi Kurban 720 Kg Tercebur Saat Lewati Gang Sempit

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 106
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peristiwa sapi kurban Tasikmalaya mendadak menyita perhatian warga Kampung Lengo, Jalan Bantar Sari 03/07, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Selasa sore (26/5/2026). Seekor sapi jenis Limousin berbobot sekitar 720 kilogram tercebur ke kolam saat hendak dibawa menuju lokasi penyembelihan. Insiden itu langsung memicu kepanikan. Selain karena ukuran sapi yang sangat […]

  • Gambaran seorang muslim merenung dengan tenang di alam terbuka melambangkan ridha dalam tauhid dan keikhlasan menerima takdir Allah

    Hidup Tak Sesuai Rencana? Ini Rahasia Ridha dalam Tauhid

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana? Harapan sudah disusun rapi, tetapi kenyataan justru berbalik arah. Di titik inilah ridha dalam tauhid menjadi kunci. Konsep ini bukan sekadar menerima takdir, melainkan sikap hati yang yakin bahwa setiap ketentuan Allah selalu membawa kebaikan. Dalam Islam, ridha juga sering dipahami sebagai ikhlas menerima takdir […]

expand_less