Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 72
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Nikmat atau istidraj sering kali terlihat sama di permukaan. Rezeki datang, jabatan naik, usaha lancar, nama makin dikenal. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menggetarkan: apakah itu benar nikmat atau justru istidraj? Dalam tradisi tasawuf, istilah ini bukan sekadar teori, melainkan alarm batin. Sinonimnya jelas: rezeki yang menenangkan atau karunia yang menipu.

Al-Hikam karya Ibnu Athaillah membagi manusia menjadi tiga golongan saat menghadapi nikmat. Pembagian ini terasa sederhana, tetapi dampaknya menentukan arah hidup seseorang.

Gembira Karena Nafsu, Lalu Terjebak

Golongan pertama merasa bahagia karena kelezatan nikmat itu sendiri. Mereka menikmati hasilnya, tetapi melupakan Pemberinya. Fokusnya hanya pada rasa puas, status sosial, dan kenyamanan hidup. Tuhan menjadi latar belakang yang kabur.

Al-Qur’an memberi peringatan keras:

“Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(Al-Qur’an, Al-An’am: 44)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Dalam konsep tasawuf, kondisi ini disebut istidraj: kenikmatan yang dibiarkan mengalir sampai seseorang makin jauh dari kesadaran ilahiah. Ia merasa aman, padahal sedang digiring perlahan.

Abdul Aziz Al-Mahdawi mengingatkan, siapa yang tidak melihat Sang Pemberi dalam nikmatnya, maka nikmat itu berubah menjadi ujian yang menyakitkan. Rezeki yang tidak menambah kedekatan justru bisa mempercepat kehancuran moral.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa silam. Hari ini, seseorang bisa viral, kaya, dan dipuja. Namun jika pusat kegembiraannya hanya pada sorotan dan angka, maka ia sedang menari di tepi jurang yang tak terlihat.

Gembira Karena Karunia Allah

Golongan kedua lebih sadar. Mereka bergembira karena memahami bahwa nikmat itu datang dari Allah. Mereka mengakui sumbernya, bersyukur, dan merasa dicintai oleh-Nya.

Al-Qur’an menegaskan:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(Yunus: 58)

Di sini, kegembiraan menjadi ibadah. Syukur mengubah rasa senang menjadi energi spiritual. Orang seperti ini tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari hubungan vertikalnya.

Namun tasawuf tidak berhenti di sini. Karena masih ada lapisan yang lebih dalam.

Gembira Hanya Karena Allah

Golongan ketiga terasa nyaris mustahil di zaman notifikasi dan validasi sosial. Mereka tidak terpesona oleh bentuk lahir nikmat. Bahkan rasa “aku diberi karunia” pun tidak menjadi pusat perhatian. Mereka sibuk dengan Allah sendiri.

Al-Qur’an menyebutkan:

“Katakanlah: Allah, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka.”
(Al-An’am: 91)

Ini bukan sikap apatis. Ini puncak kesadaran. Nikmat hanyalah sarana mendekat, bukan tujuan akhir. Rezeki menjadi kendaraan, bukan destinasi.

Abu Hamid al-Ghazali memberi perumpamaan tajam. Seorang raja menghadiahkan kuda. Golongan pertama senang karena kudanya berguna. Golongan kedua senang karena merasa diperhatikan raja. Dan golongan ketiga justru melihat hadiah itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan raja.

Perumpamaan ini sederhana, tetapi menghantam ego kita. Kita sering terpesona pada “kuda”-nya, bukan pada Raja.

Nikmat atau Istidraj di Era Modern

Sekarang mari jujur. Ketika karier menanjak, apakah hati bertambah khusyuk atau justru makin sibuk? Ketika usaha sukses, apakah sedekah bertambah atau justru rasa sombong tumbuh diam-diam?

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya.”
(HR. Muslim)

Dunia memang menarik. Namun justru karena itu ia berbahaya. Istidraj bekerja halus. Ia tidak datang dengan alarm. Ia datang dengan tepuk tangan.

Baca juga: Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Setiap nikmat perlu ditanya: apakah ia mendekatkan atau menjauhkan? Apakah ia menambah syukur atau sekadar menambah gaya hidup?

Satir yang Menyentil Kita Semua

Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah besar, kendaraan mewah, jumlah pengikut. Padahal dalam neraca langit, indikatornya berbeda.

Ironisnya, kita sering mengira Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi Dia sedang memberi waktu sebelum teguran datang. Kita merasa dipilih, padahal mungkin hanya sedang diuji dengan kesenangan.

Nikmat atau istidraj bukan perkara jumlah, melainkan arah hati. Jika nikmat membuat kita makin tunduk, maka ia benar-benar karunia. Namun jika nikmat membuat kita lupa diri, maka ia bisa berubah menjadi jebakan yang elegan.

Akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang kita terima. Persoalannya ada pada siapa yang kita lihat ketika menerimanya.

Dan di sanalah, nasib kita ditentukan.

واللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • penipuan WhatsApp

    Waspadalah! Modus Baru Penipuan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Penipuan WhatsApp bermodus paket tertukar menyasar warga Pangandaran. Modus barcode ancam saldo korban. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Modus penipuan WhatsApp kembali menyasar warga. Kali ini, pelaku menggunakan dalih paket tertukar dan mengaku sebagai pihak ekspedisi. Seorang warga Pangandaran nyaris menjadi korban setelah menerima pesan berisi tautan barcode yang diklaim sebagai proses pengembalian dana. Kasus ini […]

  • risiko gempa Jawa Barat

    Risiko Gempa Jawa Barat Meningkat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Risiko gempa Jawa Barat meningkat. Data BMKG menunjukkan gempa jadi ancaman harian bagi keluarga dan komunitas. albadarpost.com, FOKUS – Gempa bumi di Jawa Barat sepanjang 2025 bukan lagi peristiwa sesekali. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.242 kejadian gempa terjadi di wilayah ini. Angka tersebut menegaskan satu realitas penting: risiko gempa Jawa Barat […]

  • karedok sunda

    Karedok Sunda Kembali Viral, Ini Resep Rahasia yang Wajib Dicoba

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Karedok sunda kembali naik daun. Banyak orang kini mencari cara membuat karedok, resep karedok segar, hingga lalapan khas Sunda yang praktis namun sehat. Tren makanan alami tanpa proses memasak membuat hidangan ini kembali populer, terutama di media sosial. Selain itu, gaya hidup sehat mendorong masyarakat memilih menu berbasis sayuran mentah. Karedok menjadi […]

  • Ilustrasi suasana Idul Adha di masjid kampung dengan jamaah dan panitia kurban menjelang penyembelihan hewan.

    Bukan Hanya Kurban, Ini 9 Fakta Idul Adha yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 57
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Suara takbir biasanya mulai menggema sejak malam Idul Adha. Di beberapa kampung, bunyi beduk masih terdengar pelan bercampur dengan suara pisau panitia yang mulai diasah di halaman masjid. Sebagian warga sibuk menyiapkan plastik kresek merah untuk membungkus daging kurban. Sementara anak-anak kecil mulai berlarian membawa bambu penyangga tempat penyembelihan. Namun di balik […]

  • Pinjol Ilegal

    OJK Tasikmalaya Warning Babinsa: Jangan Tergoda Pinjol Ilegal

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 42
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus pinjol ilegal kembali menjadi perhatian serius di Tasikmalaya. Kali ini, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Tasikmalaya memberikan peringatan langsung kepada ratusan Babinsa jajaran Kodim 0612 Tasikmalaya terkait bahaya pinjaman online ilegal yang semakin marak dan meresahkan masyarakat. Peringatan tersebut disampaikan Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, saat kegiatan sosialisasi literasi keuangan […]

  • Ilustrasi jejak peradaban Islam di Asia berupa masjid kuno dan jalur perdagangan bersejarah

    Fakta Mengejutkan Jejak Islam di Asia yang Jarang Terungkap

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 200
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Peradaban Islam Asia menyimpan kisah besar yang jarang diketahui. Jejak peradaban Islam di Asia, sejarah Islam Asia, serta penyebaran Islam di benua ini menunjukkan pengaruh luas yang melampaui batas geografis. Bahkan, banyak wilayah yang berkembang pesat berkat nilai, ilmu, dan budaya Islam yang hadir melalui jalur damai. Menariknya, banyak catatan sejarah justru […]

expand_less