Opini

Kesulitan yang Tak Pernah Datang Sendiri

albadarpost.com, OPINI – Di masa depan, manusia hidup dengan teknologi yang serba cepat, tetapi jiwa mereka berjalan tertatih. Segalanya tersedia, namun ketenangan menjadi barang langka. Orang-orang hafal cara mengeluh, tetapi lupa cara bersyukur. Mereka menunggu keajaiban datang setelah luka sembuh, padahal luka itu tidak pernah benar-benar pergi. Fa inna ma’al usri yusra.

Di kota yang bercahaya tanpa malam, sebuah ayat tua kembali dibaca dengan suara pelan: Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra. Ayat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya mengiris. Sebab selama ini manusia salah menaruh harap. Mereka mengira kemudahan selalu datang setelah segalanya runtuh. Padahal Allah menyatakan sesuatu yang lebih jujur: kemudahan hadir bersama kesulitan.

Di titik itu, kritik sunyi terhadap cara manusia memaknai hidup pun dimulai.

Kesulitan yang Selalu Membawa Pasangan

QS. Al-Insyirah ayat 5–6 tidak sedang menawarkan penghiburan kosong. Allah tidak berkata “nanti” atau “kelak”. Allah memakai kata ma’a (bersama). Artinya, kesulitan dan kemudahan berjalan berdampingan sejak awal. Namun manusia sering hanya fokus pada yang menyakitkan, lalu menutup mata dari yang menenangkan.

Baca juga: Kritik Wali Kota Tasikmalaya dan Ujian Komunikasi Publik

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menegaskan bahwa pengulangan ayat ini adalah bentuk jaminan ilahi. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Dengan kata lain, beban hidup selalu lebih ringan daripada yang dibayangkan, asalkan iman tetap bekerja.

Namun di masa depan itu, manusia terlanjur jatuh cinta pada keputusasaan. Mereka menganggap sabar sebagai sikap kalah. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar.” (HR. Muslim).

Hadis ini tidak romantis. Ia realistis. Hidup memang berisi dua hal itu. Namun iman membuat keduanya bernilai.

Sabar yang Aktif, Bukan Menyerah

Di zaman itu, kata sabar sering disalahpahami. Banyak orang mengira sabar berarti diam dan menerima tanpa usaha. Padahal Al-Qur’an selalu menggandengkan sabar dengan ikhtiar. Sabar bukan berhenti bergerak, melainkan terus berjalan tanpa kehilangan arah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah berkata, “Sabar itu separuh iman, dan iman itu terdiri dari sabar dan syukur.” Pernyataan ini menyayat, sebab manusia modern ingin iman yang instan, tanpa proses menahan diri dan menata luka.

QS. Al-Insyirah mengajarkan optimisme yang keras kepala. Optimisme yang tidak tunduk pada keadaan. Ayat ini memerintahkan manusia untuk percaya bahkan saat bukti belum terlihat. Sebab pertolongan Allah sering datang dalam bentuk yang tidak disangka: keteguhan hati, pikiran yang jernih, atau orang-orang baik yang tiba tepat waktu.

Di masa depan, sebagian orang akhirnya sadar bahwa kemudahan terbesar bukan hilangnya masalah, melainkan kemampuan bertahan tanpa kehilangan iman.

Dua Kemudahan yang Sering Diabaikan

Allah mengulang janji-Nya dua kali bukan untuk gaya bahasa, melainkan untuk menampar keraguan manusia. Para ulama tafsir sepakat, pengulangan ini menyiratkan kekuatan harapan. Satu kesulitan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dikelilingi peluang untuk bangkit.

Namun manusia sering melewatkannya. Mereka sibuk menghitung luka, tetapi lupa menghitung nafas yang masih berjalan. Mereka meratap atas yang hilang, tetapi abai pada yang masih tinggal.

Baca juga: Kekuatan Militer Indonesia vs Singapura

Hasan al-Bashri pernah berkata, “Janganlah engkau mengira cobaan itu tanda kebinasaan. Bisa jadi ia adalah pintu pengangkatan derajat.” Kalimat ini terasa asing di masa depan yang memuja kenyamanan. Namun justru di situlah nilainya.

Janji yang Tidak Pernah Ingkar

Di akhir cerita, manusia di kota bercahaya itu mulai belajar ulang tentang hidup. Mereka berhenti menunggu kemudahan di garis akhir. Mulai mencarinya di sepanjang jalan. Mereka membaca kembali QS. Al-Insyirah bukan sebagai hiasan dinding, melainkan sebagai kompas batin.

Kesulitan tetap datang. Luka tetap ada. Namun kini mereka tahu satu hal penting: Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian. Di setiap sesak, selalu ada celah. Di setiap beban, selalu ada kekuatan.

Dan di sanalah kita akhirnya mengerti: yang membuat hidup terasa gelap bukan kesulitan, melainkan lupa bahwa kemudahan sedang berjalan di sampingnya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button