Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Saat Sertifikat Tanah Menentukan Sengketa Warga

Saat Sertifikat Tanah Menentukan Sengketa Warga

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 29 Des 2025
  • visibility 169
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sengketa tanah menunjukkan sertifikat tanah belum sepenuhnya melindungi warga dalam kebijakan agraria.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Kasus yang menimpa Nenek Elina Widjajati di Surabaya bukan sekadar perkara sengketa rumah. Ia adalah potret kebijakan agraria yang belum sepenuhnya bekerja melindungi warga paling rentan. Ketika konflik tanah berujung pada pengusiran dan perobohan rumah, pertanyaannya bukan hanya siapa yang benar, tetapi sejauh mana negara hadir memberi kepastian hukum.

Peristiwa ini penting dibaca sekarang. Program pendaftaran tanah terus digencarkan, namun di lapangan masih banyak warga yang hidup di atas lahan dengan dokumen administratif lama yang rapuh secara hukum.


Fakta Hukum yang Sudah Final

Rumah yang ditempati Elina sejak 2011 di Dukuh Kuwukan, Surabaya, diratakan secara paksa pada Agustus 2025. Pengusiran terjadi pada 6 Agustus 2025 oleh sekelompok orang yang mengklaim kepemilikan lahan. Akses rumah ditutup, barang-barang dipindahkan tanpa persetujuan, dan dokumen Letter C yang diklaim sebagai dasar kepemilikan diduga ikut hilang.

Elina mengaku sebagai ahli waris sah dari kakaknya, pemilik awal lahan. Di sisi lain, pihak yang mengaku pembeli menyatakan telah melakukan transaksi pada 2014 dan memiliki dokumen serupa. Sengketa ini belum menghasilkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Baca juga: Klausula Parkir Dilarang Hukum, Mengapa Masih Marak?

Fakta kuncinya jelas: kedua pihak sama-sama bertumpu pada dokumen non-sertifikat.


Masalah Publik di Balik Sengketa

Yang dipertaruhkan bukan hanya satu rumah, tetapi nasib jutaan bidang tanah yang belum bersertifikat di Indonesia. Letter C, girik, dan petok D masih luas digunakan warga sebagai penanda kepemilikan, meski secara hukum hanya berfungsi sebagai data administratif dan historis.

Di sinilah kebijakan agraria menghadapi paradoks. Negara mengakui keberadaan tanah adat dan riwayat penguasaan lama, tetapi perlindungan hukumnya baru benar-benar kuat setelah tanah terdaftar dan bersertifikat.

Bagi warga seperti Elina, jurang antara penguasaan faktual dan pengakuan legal bisa berujung pada kehilangan tempat tinggal.


Pilihan Negara: Administrasi atau Substansi

Undang-Undang Pokok Agraria memberi kerangka jelas soal hak atas tanah. Sertifikat Hak Milik (SHM) ditempatkan sebagai bukti terkuat. Namun kebijakan ini secara implisit menempatkan warga yang belum bersertifikat dalam posisi rawan.

Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dirancang untuk menutup celah itu. Tetapi kasus Elina menunjukkan bahwa transisi dari dokumen lama ke sertifikat resmi belum sepenuhnya disertai mekanisme perlindungan sementara.

Baca juga: Pentingnya Sertifikat Tanah

Negara memilih pendekatan administratif: siapa terdaftar, dia dilindungi. Pendekatan ini efisien, tetapi berisiko mengabaikan dimensi sosial—terutama bagi lansia, warga miskin kota, dan keluarga yang tinggal turun-temurun tanpa literasi hukum memadai.


Dampak Nyata bagi Warga

Pada level pemerintahan, sengketa seperti ini menggerus kepercayaan publik terhadap sistem pertanahan. Di mata warga, hukum terlihat hadir setelah konflik pecah, bukan mencegahnya sejak awal.

Pada level pelayanan publik, kasus ini menegaskan lemahnya pendampingan negara bagi warga yang masih memegang dokumen non-sertifikat. Tidak semua orang tahu bahwa Letter C tidak lagi cukup kuat. Tidak semua orang mampu mengakses proses sertifikasi yang dianggap rumit dan mahal.

Dampaknya konkret: ketidakpastian tempat tinggal dan trauma sosial.


Apa yang Perlu Diawasi Publik

Implementasi kebijakan agraria perlu diawasi pada dua titik. Pertama, bagaimana negara memastikan tidak ada tindakan sepihak—pengusiran, perobohan—sebelum ada putusan hukum yang sah. Kedua, bagaimana transisi dari tanah adat dan administrasi lama menuju sertifikasi dilakukan secara adil dan manusiawi.

Ruang kontrol publik terbuka di tingkat pemerintah daerah, BPN, dan aparat penegak hukum. Sengketa tanah bukan hanya soal dokumen, tetapi soal keberpihakan pada hak dasar warga.

Kasus Nenek Elina mengendap sebagai pengingat. Sertifikat tanah memang instrumen hukum, tetapi kebijakan agraria seharusnya tidak berhenti pada kertas. Di situlah negara diuji: bukan hanya menertibkan tanah, tetapi menjaga warga tetap punya tempat berpijak. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buruh Garut

    Buruh Garut Sampaikan Tuntutan, Bupati Syakur Soroti Formula Upah

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 108
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan May Day Garut 2026 berlangsung penuh perhatian terhadap isu kesejahteraan pekerja. Dalam momentum Hari Buruh Internasional itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menerima langsung audiensi serikat pekerja dan serikat buruh di Lapangan Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Jumat 1 Mei 2026. Dalam dialog tersebut, berbagai persoalan terkait hak buruh, formula pengupahan, […]

  • Biawak di Dapur

    Heboh Biawak 60 Cm Muncul di Dapur, Begini Aksi Damkar Ciamis

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 90
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Biawak di dapur membuat suasana siang yang semula tenang mendadak berubah tegang di Kabupaten Ciamis, Selasa (9/6/2026). Kemunculan reptil liar tersebut mengejutkan seorang ibu rumah tangga yang tengah memasak. Dalam hitungan menit, laporan masuk ke petugas Damkar Pos WMK Kawali dan proses evakuasi pun segera dilakukan. Peristiwa itu terjadi di Dusun […]

  • Ono Surono

    Ono Surono di Kasus Korupsi Bekasi

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 124
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melanjutkan penyidikan kasus korupsi proyek pemerintahan Kabupaten Bekasi dengan menelusuri dugaan aliran uang ke Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono. Pendalaman ini bukan sekadar pemeriksaan saksi, tetapi mengarah pada pengujian unsur pidana yang dapat berujung sanksi hukum dan politik bagi pejabat publik. Langkah KPK menjadi penting […]

  • perang Islam

    Dari Badar ke Hattin: 7 Perang Islam Penuh Ketegangan

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Perang Islam menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban dunia. Dalam sejarah perang Islam, berbagai konflik besar tidak hanya menentukan arah dakwah, tetapi juga membentuk strategi militer, politik, dan sosial umat. Kisah perang dalam Islam selalu menghadirkan drama, pengorbanan, dan momen penuh ketegangan yang mengubah jalannya sejarah. Menariknya, setiap perang besar Islam memiliki […]

  • tempe crispy fine dining

    Tempe Goreng Naik Level: Dari Makanan Biasa Jadi Fine Dining Viral

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tempe crispy fine dining kini menjadi tren kuliner yang menarik perhatian pecinta makanan modern. Hidangan tempe goreng premium ini menghadirkan tekstur renyah yang konsisten dengan sentuhan teknik memasak ala restoran mewah. Bahkan, tempe goreng modern ini tampil elegan dengan saus pendamping unik yang memperkaya rasa. Perubahan ini bukan sekadar gaya. Sebaliknya, inovasi […]

  • Mojtaba Khamenei

    Siapa Mojtaba Khamenei? Tokoh yang Dijaga Pasukan NOPO Iran

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 146
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Perubahan kepemimpinan di Iran membuat nama Mojtaba Khamenei mendadak menjadi sorotan dunia. Sosok ini kini dikenal sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru sekaligus tokoh yang dijaga ketat oleh pasukan NOPO Iran, unit keamanan elite yang bertugas melindungi pemimpin negara. Mojtaba Khamenei merupakan putra dari Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya […]

expand_less