Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Perspektif: Nasib Pedagang Musiman Jalur Wisata Ciater

Perspektif: Nasib Pedagang Musiman Jalur Wisata Ciater

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 169
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penertiban jalur wisata Ciater menyisakan persoalan pedagang nanas di tengah lesunya wisata Nataru.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Libur Natal dan Tahun Baru lazimnya menjadi ruang harapan bagi pedagang kecil di kawasan wisata. Namun di jalur wisata Ciater, Subang, harapan itu justru mengendap. Lapak nanas kembali bermunculan, buah melimpah, harga jatuh, tetapi pembeli tak kunjung datang. Di balik pemandangan itu, ada kebijakan penertiban, perubahan pola wisata, dan kerentanan ekonomi warga yang kembali diuji.

Situasi ini penting dicermati sekarang, karena menyentuh titik temu antara kebijakan tata ruang, pengelolaan pariwisata, dan keberlanjutan nafkah warga lokal.

Fakta Kebijakan yang Sudah Final

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menertibkan lapak dan kios pedagang nanas di jalur wisata Ciater. Penertiban dilakukan dengan pemberian kompensasi ganti rugi sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per kios. Kebijakan ini membuat jalur wisata sempat steril dari pedagang.

Memasuki libur Nataru 2025–2026, pedagang kembali berjualan secara informal. Tanpa kios permanen, tanpa tenda, sebagian hanya menggelar dagangan di pinggir jalan atau menggunakan kendaraan bak terbuka. Aktivitas ini berlangsung di tengah musim panen nanas, durian, manggis, dan alpukat di Subang.

Masalah Publik di Balik Penertiban

Masalah utama bukan sekadar kembalinya pedagang ke pinggir jalan. Yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan penghidupan warga kecil di tengah kebijakan penataan kawasan wisata.

Baca juga: Perspektif: Penagihan Pinjol dan Keamanan Warga

Pedagang seperti Neneng mengaku harga nanas madu turun hingga Rp5.000 per buah karena panen melimpah. Bahkan ada yang menjual Rp10.000 untuk tiga buah. Namun murahnya harga tidak berbanding lurus dengan penjualan. Dalam sehari, dagangan hanya laku 10–20 buah.

Situasi serupa dialami Dadang Kustiawan yang menjual durian dan alpukat. Harga durian dipatok mulai Rp25.000 per buah, alpukat Rp25.000 per kilogram. Tetap saja, kendaraan wisatawan jarang berhenti.

Artinya, persoalan pedagang Ciater bukan hanya soal tempat berjualan, tetapi soal turunnya arus wisata dan berubahnya peta destinasi.

Pilihan Negara: Prosedur vs Substansi

Dari sisi prosedur, penertiban lapak telah dilakukan dengan kompensasi. Secara administratif, negara bisa mengklaim kewajiban telah dipenuhi. Namun dari sisi substansi, pertanyaan publik belum terjawab: bagaimana kelanjutan ekonomi pedagang setelah penertiban?

Negara tampak fokus pada estetika dan ketertiban jalur wisata, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam transisi ekonomi warga. Ketika kios dibongkar, pedagang tidak disiapkan dengan skema relokasi yang jelas, zona berdagang resmi, atau integrasi dengan tata kelola wisata yang baru.

Di saat bersamaan, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan banyak objek wisata baru di berbagai kecamatan. Diversifikasi ini baik bagi pariwisata, tetapi berdampak langsung pada Ciater yang tak lagi menjadi satu-satunya magnet wisata.

Dampak Nyata bagi Warga

Bagi pedagang, dampaknya konkret dan harian. Modal terkuras, tenaga terbuang, dan ketidakpastian terus berulang. Mereka kembali berdagang karena kebutuhan hidup, bukan karena menentang kebijakan.

Bagi pelayanan publik, kondisi ini menimbulkan area abu-abu. Pedagang ada, tetapi tanpa payung regulasi yang jelas. Aparat di lapangan dihadapkan pada dilema antara penegakan aturan dan realitas sosial.

Baca juga: Tampilan Beda Kereta pada Nataru 2025–2026

Bagi kepercayaan masyarakat, situasi ini berisiko menumbuhkan rasa bahwa kebijakan berhenti di penertiban, bukan pada solusi jangka menengah.

Apa yang Perlu Diawasi Publik

Yang perlu diawasi ke depan adalah implementasi kebijakan pascapenertiban. Apakah pemerintah daerah akan menyediakan ruang berdagang yang legal dan terkelola? Apakah ada integrasi pedagang lokal dalam ekosistem pariwisata baru? Atau pedagang akan terus dibiarkan bertahan secara informal, menunggu musim liburan berikutnya?

Ruang kontrol publik juga penting untuk memastikan bahwa penataan kawasan wisata tidak meminggirkan warga yang selama ini menjadi bagian dari rantai ekonomi lokal.

Jalur wisata Ciater hari ini memberi pelajaran sederhana: menata ruang tanpa menata nafkah hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Di titik inilah kebijakan publik diuji, bukan oleh dokumen, tetapi oleh kehidupan warga di pinggir jalan.

Penataan wisata Ciater belum menjawab nasib pedagang kecil. Kebijakan rapi, tetapi nafkah warga masih menggantung. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rezeki Sudah Dijamin

    Rezeki Sudah Dijamin, Kenapa Kita Masih Gelisah?

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Pukul sepuluh malam. Lampu ruang tamu masih menyala. Di atas meja, beberapa tagihan rumah tangga tergeletak tidak beraturan. Secangkir kopi yang tadi hangat mulai kehilangan uapnya. Seorang ayah membuka aplikasi perbankan di ponselnya sambil sesekali memandangi angka-angka yang belum sesuai harapan. Di kamar sebelah, anak-anaknya sudah terlelap. Mushaf Al-Qur’an yang sempat dibaca […]

  • Rumah Layak Huni

    Rumah Reyot Ibu Minawati Dibangun Bersama, Warga Garut Terharu

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Suara palu, cangkul, dan obrolan hangat warga terdengar sejak pagi di Kampung Cihalimun, Desa Sukatani, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Minggu (28/6/2026). Di tengah suasana gotong royong itu, harapan baru mulai dibangun untuk menghadirkan rumah layak huni bagi Ibu Minawati, seorang warga yang selama ini tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Rehabilitasi […]

  • PPPK Sekolah Rakyat

    Rekrutmen PPPK Sekolah Rakyat 2025 Dibuka, Kuota 3.003 Formasi

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Kemensos membuka 3.003 formasi PPPK Sekolah Rakyat 2025 bagi tenaga kependidikan dengan batas usia 50 tahun. albadarpost.com, HUMANIORA – Kementerian Sosial membuka rekrutmen PPPK Sekolah Rakyat tahun 2025. Peluang ini penting karena menyediakan 3.003 formasi bagi tenaga kependidikan yang selama ini bekerja paruh waktu maupun yang ingin masuk jalur karier pemerintah. Batas usia maksimal ditetapkan […]

  • Hakordia 2025

    KPK Gelar Hakordia 2025 untuk Perkuat Gerakan Antikorupsi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 166
    • 0Komentar

    KPK gelar Hakordia 2025 di Yogyakarta dengan agenda kolaborasi antikorupsi lintas sektor selama empat hari. albadarpost.com, LENSA – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Hakordia 2025 sebagai gerakan kolaborasi nasional yang dipusatkan di Yogyakarta pada 6–9 Desember. Agenda empat hari ini bukan seremoni tahunan, tetapi ruang inklusif yang dirancang untuk memperluas partisipasi publik dalam pencegahan korupsi. Penetapan […]

  • Lomba Marawis Polresta Tasikmalaya

    Polsek Mangkubumi Sapu Bersih Juara, Lomba Marawis Polresta Tasikmalaya Jadi Sorotan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 59
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Lomba Marawis Polresta Tasikmalaya menjadi salah satu agenda yang paling menyita perhatian dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Selain menghadirkan kompetisi seni Islami, kegiatan ini juga memperlihatkan sisi religius anggota kepolisian melalui penampilan marawis dan hafalan Al-Qur’an. Sebanyak 19 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh Polsek jajaran Polresta Tasikmalaya ikut ambil […]

  • Pj Sekda Tasikmalaya

    Bupati Tasikmalaya Melantik Pj Sekda

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Pelantikan Pj Sekda Tasikmalaya menjadi awal pengawasan publik terhadap efektivitas birokrasi dan pelayanan warga. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pelantikan Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya menandai pergantian figur kunci dalam struktur birokrasi daerah. Namun di balik prosesi resmi, publik menaruh perhatian lebih besar pada satu hal: sejauh mana jabatan strategis ini mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan […]

expand_less