WBTb Pangandaran 2026: Benjang Batok dan Pindang Gunung
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Benjang Batok Pangandaran sebagai seni pertunjukan tradisional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Albadarpost.com | HUMANIORA – WBTb Pangandaran kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Seni pertunjukan Benjang Batok dan kuliner tradisional Pindang Gunung dari Kabupaten Pangandaran masuk dalam 25 karya budaya Jawa Barat yang mendapat pengakuan dalam rangkaian WBTb Indonesia 2026 tahap kedua.
Benjang Batok tercatat pada domain seni pertunjukan, sedangkan Pindang Gunung masuk domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Keduanya menunjukkan bahwa kekayaan budaya Pangandaran tidak hanya hidup di panggung kesenian, tetapi juga berada di dapur dan pengetahuan tradisional masyarakat.
Namun, ada hal yang tidak boleh dilewatkan.
Pengakuan WBTb bukan garis akhir pelestarian budaya. Justru setelah nama sebuah tradisi masuk panggung nasional, pekerjaan yang lebih berat dimulai: memastikan tradisi tersebut tetap hidup ketika seremoni dan pemberitaan selesai.
Benjang Batok Sudah Lama Menjadi Bagian dari Identitas Pangandaran
Benjang Batok bukan kesenian yang baru dikenal pada 2026.
Dalam pemberitaan mengenai WBTb Jawa Barat, Benjang Batok sebelumnya telah disebut sebagai salah satu karya budaya tingkat provinsi dari Pangandaran. Sementara pada 2026, kesenian tersebut kembali tampil dalam proses pengusulan ke tingkat nasional.
Dalam sidang WBTb Indonesia 2026 tahap kedua yang berlangsung pada 3 September, Benjang Batok menjadi salah satu karya budaya Jawa Barat yang dipaparkan. Maestro Benjang Batok, Mang Koko, turut memperagakan seni tersebut di hadapan Tim Ahli WBTb Pusat.
Fakta itu penting.
Sebab warisan budaya takbenda tidak berdiri hanya pada nama kesenian. Ada pelaku, maestro, pengetahuan, praktik, sejarah, serta proses pewarisan yang membuat sebuah tradisi tetap mempunyai kehidupan.
Ketika maestro tampil memperagakan Benjang Batok, yang ditampilkan bukan sekadar pertunjukan. Ada pengetahuan budaya yang ikut dipertaruhkan agar tidak berhenti pada dokumentasi.
Pindang Gunung Membawa Identitas Pangandaran dari Dapur
Jika Benjang Batok berbicara melalui gerak dan pertunjukan, Pindang Gunung berbicara melalui rasa.
Kuliner ini merupakan salah satu makanan khas masyarakat Pangandaran. Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari lingkungan pesisir dan pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal.
Karena itu, Pindang Gunung lebih dari sekadar menu makanan.
Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai bahan, bumbu, teknik memasak, dan kebiasaan kuliner yang diwariskan antargenerasi.
Dalam sidang WBTb Indonesia 2026, nilai sejarah dan proses pembuatan Pindang Gunung turut dipaparkan bersama maestronya. Karya budaya tersebut diajukan Jawa Barat dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.
Penempatan ini menunjukkan satu hal menarik: pengetahuan kuliner juga merupakan pengetahuan budaya.
Resep yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat menyimpan informasi tentang lingkungan, bahan pangan, kebiasaan masyarakat, hingga identitas sebuah daerah.
25 Karya Budaya Jawa Barat Mendapat Pengakuan
Dalam Sidang Termin-2 WBTb Indonesia 2026, Jawa Barat mengajukan 25 karya budaya.
Dikutip dari Pikiran Rakyat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Iendra Sofyan, menerangkan bahwa seluruh usulan tersebut dinyatakan lolos dalam rapat pleno pada 4 September 2026. Benjang Batok tercantum pada domain seni pertunjukan, sedangkan Pindang Gunung berada dalam kelompok keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.
Dengan demikian, kabar mengenai dua karya budaya Pangandaran tersebut tidak berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari upaya lebih luas Jawa Barat untuk membawa karya budaya daerah menuju pengakuan tingkat nasional.
Namun, penyebutan status perlu tetap presisi.
Pengakuan administratif tidak sama dengan jaminan bahwa sebuah tradisi otomatis lestari.
Sebuah budaya dapat masuk daftar nasional, tetapi tetap menghadapi persoalan regenerasi pelaku, perubahan selera masyarakat, komersialisasi, hingga berkurangnya ruang untuk praktik budaya.
Setelah Diakui, Apa yang Harus Dilakukan?
Inilah pertanyaan yang menurut AlbadarPost lebih penting daripada sekadar merayakan daftar WBTb.
Apa yang terjadi setelah Benjang Batok dan Pindang Gunung memperoleh ruang di tingkat nasional?
Pemerintah daerah memiliki pekerjaan besar untuk memastikan pengakuan tersebut menghasilkan pelindungan nyata.
Dokumentasi maestro perlu diperkuat. Regenerasi pelaku harus mendapat ruang. Anak muda perlu mengenal budaya daerah bukan hanya melalui buku, tetapi juga melalui praktik.
Begitu pula dengan Pindang Gunung.
Jangan sampai makanan tradisional hanya muncul ketika ada festival atau agenda pariwisata. Jika pengetahuan memasaknya berhenti pada segelintir orang, popularitas tidak otomatis menyelamatkan tradisi.
Karena itu, promosi pariwisata seharusnya berjalan bersama pelestarian.
Budaya boleh menjadi daya tarik wisata, tetapi jangan sampai kehilangan masyarakat yang menjadi pemilik dan penjaganya.
Pangandaran Tidak Hanya Punya Pantai
Selama ini, nama Pangandaran sangat kuat dengan citra pantai dan pariwisata.
Benjang Batok dan Pindang Gunung memberikan gambaran yang lebih luas.
Pangandaran memiliki kekayaan budaya yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri. Benjang Batok merepresentasikan seni pertunjukan. Pindang Gunung memperlihatkan pengetahuan kuliner tradisional.
Keduanya berasal dari ruang kehidupan yang berbeda, tetapi memiliki persoalan yang sama: bagaimana menjaga kesinambungan tradisi di tengah perubahan zaman?
Jawabannya tidak cukup dengan sertifikat, daftar penetapan, atau seremoni.
Pelestarian membutuhkan pelaku yang terus berlatih, keluarga yang terus mewariskan pengetahuan, masyarakat yang tetap menggunakan dan menghargainya, serta pemerintah yang menyediakan ekosistem pendukung.
WBTb Bukan Museum, Budaya Harus Tetap Hidup
Masuknya Benjang Batok dan Pindang Gunung dalam rangkaian pengakuan WBTb Indonesia 2026 merupakan kabar penting bagi Pangandaran.
Tetapi peristiwa tersebut seharusnya dibaca sebagai awal tanggung jawab yang lebih besar.
Sebab budaya tidak hidup karena namanya tercantum dalam daftar.
Budaya hidup karena masih dilakukan.
Benjang Batok akan tetap menjadi warisan jika generasi berikutnya masih mau mempelajarinya. Pindang Gunung akan tetap menjadi identitas jika pengetahuan memasaknya tidak berhenti pada satu generasi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah warisan budaya bukan seberapa megah ia diumumkan di tingkat nasional, tetapi seberapa kuat ia bertahan di kampung tempat budaya itu dilahirkan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar