Saat Rezeki Seret dan Tagihan Menumpuk, Amalkan Doa Ini
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seorang ayah sedang berdoa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Ada orang yang siangnya masih bisa tersenyum.
Masih bercanda dengan tetangga. Masih bekerja seperti biasa. Namun begitu malam datang dan rumah mulai sepi, pikirannya penuh.
Cicilan belum selesai. Uang sekolah anak sudah dekat. Besok tagihan datang lagi.
Tidak sedikit kepala keluarga yang sekarang menjalani hari-hari seperti itu.
Karena itulah doa lunas hutang menjadi salah satu bacaan yang paling sering dicari banyak orang belakangan ini. Bukan semata ingin cepat kaya, tetapi karena hati sudah terlalu lelah memikirkan beban hidup yang terus datang bergantian.
Dan menariknya, Rasulullah SAW ternyata sejak dulu sudah mengingatkan umatnya tentang beratnya urusan utang.
Rasulullah SAW Sering Berdoa agar Dijauhkan dari Hutang
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW sering membaca doa:
“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ”
“Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram.”
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat sampai bertanya mengapa Nabi begitu sering membaca doa itu.
Rasulullah lalu menjelaskan bahwa orang yang terlilit utang mudah gelisah, mudah berjanji lalu sulit menepati.
Kalau dipikir-pikir, nasihat itu memang terasa sekali hari ini.
Sebab utang sering bukan cuma membuat dompet sesak, tetapi juga membuat kepala sulit tenang.
Ada orang yang setiap bunyi telepon langsung cemas. Ada yang jadi sulit tidur. Bahkan ada rumah tangga yang awalnya hangat perlahan berubah dingin karena tekanan ekonomi.
Doa Pelunas Hutang yang Banyak Diamalkan
Selain doa tadi, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa lain yang sangat dikenal umat Islam.
Doanya berbunyi:
“اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ”
“Allahummakfini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwaka.”
Artinya:
“Ya Allah, cukupkan aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu dari meminta kepada selain-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
Doa ini pendek. Namun maknanya dalam sekali.
Karena kadang manusia bukan tidak mau hidup tenang. Hanya saja kebutuhan datang terus, sementara penghasilan belum tentu bertambah.
Hidup Berat, Tapi Jangan Sampai Putus Harapan
Di kampung-kampung dulu, orang tua sering punya nasihat sederhana:
“Kalau hati lagi sempit, jangan jauh dari sajadah.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa.
Namun banyak orang baru mengerti setelah dewasa.
Sebab ketika hidup sedang sulit, manusia memang butuh tempat untuk mengadu selain kepada sesama manusia.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini sering menjadi penguat bagi orang-orang yang sedang jatuh secara ekonomi.
Karena kadang pertolongan datang bukan saat kita paling kuat, tetapi saat kita benar-benar berserah kepada Allah.
Jangan Tutupi Luka dengan Gaya Hidup
Hari ini banyak orang sebenarnya lelah.
Namun media sosial membuat semuanya terlihat harus baik-baik saja.
Ada yang memaksakan membeli barang baru supaya tidak dianggap tertinggal. Ada yang mengambil cicilan hanya demi terlihat mapan.
Padahal di dalam rumahnya sendiri, pikirannya belum tentu tenang.
Dulu orang tua hidup sederhana.
Kalau belum punya uang, mereka memilih menunda.
Sekarang banyak orang membeli dulu, lalu bingung membayar belakangan.
Karena itu, selain membaca doa lunas hutang, seseorang juga perlu belajar hidup secukupnya.
Bukan berarti tidak boleh punya keinginan.
Tetapi jangan sampai keinginan lebih besar daripada kemampuan.
Ikhtiar Tetap Penting
Doa bukan berarti menyerah tanpa usaha.
Islam mengajarkan umatnya untuk tetap bekerja, tetap mencari rezeki halal, dan tetap bertanggung jawab menyelesaikan utang.
Kalau punya utang, jangan menghilang.
Kalau belum mampu membayar, bicaralah baik-baik.
Kadang kejujuran justru membuka pintu pertolongan.
Dan jangan lupa, rezeki bukan selalu soal angka besar.
Kadang hati yang tenang juga bagian dari nikmat yang sangat mahal.
Tidak semua orang yang tersenyum sedang baik-baik saja. Ada yang diam-diam berjuang melawan tagihan setiap malam. Dan sering kali, di antara sunyi setelah salat, doa menjadi satu-satunya tempat hati yang lelah merasa benar-benar pulang. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar