Kontes Bonsai Tasik Meledak, Harga Tanaman Tembus Fantastis
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Umum PPBI Iwan Alex R. Tangkulung hadir sampaikan sambutan di kontes dan pameran bonsai, Sabtu (25/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kontes bonsai Tasikmalaya berubah jadi magnet nasional ketika 548 bonsai memenuhi area parkir Asia Plaza, Sabtu (25/4/2026). Ajang pameran bonsai nasional ini tidak hanya menghadirkan ratusan peserta, tetapi juga menegaskan posisi Tasikmalaya dalam peta event bonsai nasional dan geliat bonsai Indonesia.
Area parkir yang biasanya dipadati kendaraan kini berubah seperti galeri terbuka. Bonsai berjajar rapat, pengunjung hilir mudik, kamera ponsel terus menyala. Setiap sudut menyuguhkan detail batang tua, akar mencengkeram, dan bentuk tajuk yang terawat puluhan tahun.
Peserta Nasional Membanjir, Tasikmalaya Naik Kelas
Ketua Umum PPBI, Iwan Alex R. Tangkulung, datang langsung dan melihat lonjakan kualitas peserta tahun ini.
“Saya sangat bersyukur bisa hadir. Peserta sekitar 500 orang, kualitasnya luar biasa,” ujarnya.
Peserta berdatangan dari Sumatera, Kalimantan, Bali, hingga Madura. Arus kedatangan ini memperlihatkan satu hal: kontes bonsai Tasikmalaya tidak lagi berskala lokal.
Lebih jauh, Iwan menilai Tasikmalaya kini sejajar dengan kota besar lain dalam kalender bonsai nasional. Setelah Bandung sukses menggelar event serupa, Tasik mulai menunjukkan daya saingnya.
548 Bonsai Dipamerkan, Kualitas dan Nilai Kian Tinggi
Panitia menampilkan 548 bonsai dari berbagai kelas, mulai bahan, pratama, madya, utama, hingga bintang. Setiap kelas menawarkan karakter berbeda, sekaligus tingkat kesulitan yang meningkat.
Di satu sisi, bonsai kelas bahan memperlihatkan potensi awal. Di sisi lain, kelas bintang menampilkan karya matang dengan detail artistik tinggi.
Beberapa tanaman bahkan ditaksir bernilai puluhan juta rupiah. Faktor usia, teknik pembentukan, dan kelangkaan jenis menjadi penentu harga.
Pengunjung tampak serius mengamati. Mereka tidak sekadar melihat, tetapi juga membandingkan bentuk, tekstur, hingga keseimbangan komposisi tanaman.
Bukan Sekadar Kontes, Ada Edukasi dan Efek Ekonomi
Kontes berlangsung selama empat hari, dari 25 hingga 28 April 2026. Selain lomba, panitia menghadirkan demo pembuatan bonsai yang selalu dipadati pengunjung.
Di sana, pemula belajar langsung dari praktisi. Mereka menyimak cara memilih bahan, memotong cabang, hingga membentuk karakter tanaman.
Sementara itu, dampak ekonomi langsung terasa. Hotel terisi, warung makan ramai, dan transportasi lokal meningkat. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kontes bonsai Tasikmalaya tidak berdiri sendiri, tetapi menggerakkan sektor lain.
Biaya pendaftaran peserta berkisar Rp300 ribu hingga Rp650 ribu. Angka ini mencerminkan bahwa industri bonsai terus bergerak dan memiliki pasar yang jelas.
Dominasi Luar Daerah Jadi Tantangan Tersendiri
Meski atmosfer kompetisi terasa kuat, hasil sementara menunjukkan dominasi peserta luar daerah. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku lokal.
Alih-alih melemahkan, situasi ini justru memacu semangat. Banyak peserta lokal mulai meningkatkan kualitas karya agar mampu bersaing di level nasional.
“Ini jadi motivasi. Ke depan, kualitas harus terus naik,” kata Iwan.
PPBI Siapkan Event Lebih Besar, Tasik Berpeluang Jadi Pusat
PPBI kini memiliki 255 cabang di seluruh Indonesia. Organisasi ini terus memperluas jaringan dan memperkuat kualitas kompetisi.
Iwan optimistis event berikutnya akan lebih besar. Ia juga berharap pemerintah daerah memberi dukungan nyata agar Tasikmalaya bisa menjadi pusat bonsai nasional.
“Jawa Barat itu barometer bonsai. Kalau didukung penuh, dampaknya bisa sangat besar,” ujarnya.
Setelah Tasikmalaya, agenda berikutnya akan digelar di Cianjur pada Juni mendatang.
Dari Hobi ke Industri Bernilai Tinggi
Kontes bonsai Tasikmalaya 2026 memperlihatkan perubahan besar. Hobi yang dulu dianggap sederhana kini berkembang menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan.
Jumlah peserta yang besar, kualitas tanaman yang meningkat, serta perputaran ekonomi yang terasa menunjukkan arah baru bagi dunia bonsai.
Jika konsistensi terjaga dan dukungan terus mengalir, bukan tidak mungkin Tasikmalaya akan menjadi salah satu pusat bonsai terkuat di Indonesia. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar