Hujan Tak Kunjung Turun, Mengapa Umat Islam Salat Istisqa?
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi jamaah melaksanakan salat Istisqa untuk memohon hujan saat kemarau.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Ketika hujan tak kunjung turun dan kekeringan mulai mengganggu kehidupan masyarakat, umat Islam mengenal salat Istisqa, yakni ibadah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Namun, salat meminta hujan bukan sekadar ritual ketika kemarau panjang datang.
Di balik pelaksanaannya terdapat pesan spiritual tentang istighfar, taubat, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi kondisi alam. Karena itu, salat Istisqa tidak hanya berbicara tentang air yang diharapkan turun dari langit, tetapi juga tentang manusia yang kembali menyadari ketergantungannya kepada Allah.
Mengapa Salat Istisqa Dilakukan Saat Kekeringan?
Secara sederhana, Istisqa berarti memohon hujan. Dalam konteks ibadah, salat Istisqa dilakukan ketika masyarakat menghadapi kekurangan air, kemarau berkepanjangan, atau kondisi lain yang menyebabkan kebutuhan terhadap hujan meningkat.
NU Online menjelaskan bahwa salat Istisqa merupakan salat sunah yang dilakukan untuk memohon hujan. Sebelum pelaksanaannya, umat juga dianjurkan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya dipandang dari sisi kebutuhan fisik. Masyarakat juga diajak melakukan introspeksi, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat doa.
Dalam konteks ini, salat Istisqa saat kemarau menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual. Sementara itu, manusia tetap memiliki kewajiban melakukan ikhtiar nyata, seperti menjaga sumber air, menghemat penggunaan air, dan mencegah kerusakan lingkungan.
Salat Istisqa Bukan Sekadar Meminta Hujan
Ada pesan penting yang sering terlupakan ketika membahas salat Istisqa.
Ibadah ini mengajarkan manusia untuk tidak hanya meminta, tetapi juga menyadari kelemahan diri. Istighfar, taubat, sedekah, dan amal kebajikan menjadi bagian dari suasana spiritual yang mengiringi permohonan hujan dalam sejumlah tuntunan fikih.
Karena itu, tidak tepat jika kekeringan langsung disimpulkan sebagai akibat dosa masyarakat tertentu. Klaim semacam itu membutuhkan kehati-hatian. Yang lebih tepat, salat Istisqa menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam salah satu tuntunan yang dimuat NU Online, masyarakat dianjurkan melakukan taubat, memperbanyak istighfar, bersedekah, menghentikan kemaksiatan dan kezaliman, serta memperbaiki hubungan dengan sesama Muslim.
Dengan demikian, pesan Istisqa jauh lebih luas daripada sekadar menunggu hujan turun.
Bagaimana Tata Cara Salat Istisqa?
Secara umum, salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Namun, rincian tata caranya memiliki perbedaan dalam tuntunan fikih yang diikuti berbagai kalangan Muslim.
Dalam tuntunan fikih yang dimuat NU Online, salat Istisqa dilakukan dua rakaat dengan tata cara yang menyerupai salat Id. Pada rakaat pertama terdapat tujuh takbir dan pada rakaat kedua lima takbir sebelum bacaan Al-Fatihah. Setelah salat dapat dilanjutkan dengan khutbah dan doa memohon hujan.
Sementara itu, Majelis Tarjih Muhammadiyah memiliki tata cara berbeda. Dalam tuntunan yang dipublikasikan Muhammadiyah, salat Istisqa dilakukan dua rakaat dengan bacaan jahr, tanpa takbir tambahan seperti pada salat Id. Khutbah dapat disampaikan setelah salat, disertai istighfar dan doa.
Perbedaan tersebut penting diketahui agar pembaca tidak menganggap satu rincian fikih sebagai satu-satunya cara yang sah.
Karena itu, masyarakat dapat mengikuti tuntunan fikih yang dianut imam, organisasi keagamaan, atau lembaga keislaman setempat.
Apakah Salat Istisqa Harus Selalu Dilakukan?
Istisqa tidak terbatas hanya pada pelaksanaan salat.
Dalam pembahasan fikih, permohonan hujan juga dapat dilakukan melalui doa, baik secara individual maupun berjamaah. Doa meminta hujan juga dapat disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam khutbah. Muhammadiyah, misalnya, menjelaskan beberapa bentuk Istisqa, termasuk doa bersama dan pelaksanaan salat Istisqa.
Hal ini menunjukkan bahwa inti Istisqa adalah permohonan kepada Allah ketika manusia membutuhkan hujan, sedangkan bentuk pelaksanaannya dapat mengikuti tuntunan yang memiliki dasar dalam fikih.
Doa Menjadi Bagian Penting dalam Istisqa
Setelah pelaksanaan salat dan khutbah, doa menjadi bagian penting dalam memohon turunnya hujan.
Salah satu doa yang dapat digunakan adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ
Allahumma asqinal-ghaits.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan.”
Dalam praktiknya, doa Istisqa dapat lebih panjang dan memuat permohonan agar hujan yang turun membawa manfaat, tidak menimbulkan bencana, serta menjadi rahmat bagi manusia, hewan, dan lingkungan.
Karena itu, doa tidak semestinya dipahami sebagai pengganti ikhtiar. Doa dan usaha berjalan bersama.
Masyarakat tetap perlu menjaga sumber air, menghemat penggunaan air, memperbaiki sistem irigasi, serta menghindari tindakan yang memperparah kerusakan lingkungan.
Ketika Kemarau Menjadi Pelajaran
Kemarau panjang dapat mengingatkan manusia pada sesuatu yang sering luput ketika air tersedia dengan mudah.
Air baru terasa sangat berharga ketika sumbernya mulai berkurang.
Di titik itulah salat Istisqa menghadirkan dimensi spiritual. Manusia diajak berhenti sejenak dari kesibukan, berkumpul, mengangkat tangan dalam doa, memperbanyak istighfar, dan mengakui bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Namun, pengakuan tersebut bukan alasan untuk pasif.
Justru setelah berdoa, manusia perlu memperkuat ikhtiar. Menghemat air, menjaga hutan dan daerah resapan, tidak mencemari sungai, serta merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Dengan demikian, salat Istisqa bukan hanya tentang memohon hujan, tetapi juga tentang membangun kesadaran bahwa air adalah amanah yang harus dijaga.
Ketika hujan akhirnya turun, manusia bukan hanya bersyukur karena kemarau berakhir. Ia juga seharusnya belajar bagaimana menjaga nikmat tersebut agar tidak kembali hilang karena kelalaian.
Sebab, Istisqa mengajarkan satu hal penting: ketika manusia menengadah meminta hujan, pada saat yang sama ia perlu menundukkan hati, memperbaiki diri, dan menjaga bumi yang menjadi tempat hidupnya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar