Bahaya Salah Memilih Teman Menurut Ibnu Athaillah
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Memilih teman bukan sekadar menentukan dengan siapa seseorang makan, bercanda, atau menghabiskan waktu. Lebih dari itu, pengaruh teman dan lingkungan pergaulan dapat perlahan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Bahkan, menurut pesan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, seseorang bisa melakukan kesalahan tetapi justru melihatnya sebagai sesuatu yang baik ketika terlalu dekat dengan orang yang standar akhlaknya lebih buruk.
Hikmah ke-54 yang dinisbatkan kepada Ibnu Athaillah itu terasa seperti teguran yang tidak berisik.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada tuduhan.
Namun, pesannya cukup membuat seseorang bertanya kepada dirinya sendiri: jangan-jangan selama ini saya merasa benar hanya karena terlalu sering dibenarkan?
Di situlah persoalan memilih sahabat menjadi penting.
Ketika Kesalahan Mulai Terasa Biasa
Kesalahan biasanya tidak datang dengan papan pengumuman bertuliskan “Ini adalah kesalahan.”
Sebaliknya, ia sering hadir secara perlahan.
Hari pertama, seseorang merasa tidak nyaman ketika mengucapkan sesuatu yang buruk. Beberapa waktu kemudian, ia mendengar teman melakukan hal yang sama dan semua orang tertawa. Karena suasana terasa biasa, rasa bersalah mulai berkurang.
Lalu kesalahan itu dilakukan lagi.
Kali ini tidak ada rasa bersalah.
Beberapa hari kemudian, orang tersebut bahkan ikut menertawakan orang lain yang melakukan hal serupa.
Begitulah pengaruh pergaulan bekerja.
Ia tidak selalu berupa ajakan terang-terangan. Kadang, cukup melalui kebiasaan yang terus berulang sampai hati kehilangan kepekaan.
Karena itu, masalah dalam memilih teman bukan hanya soal apakah seseorang baik atau buruk. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada diri kita setelah terlalu lama berada di dekatnya?
Apakah kita semakin mudah meminta maaf?
Apakah kita semakin berani mengakui kesalahan?
Atau justru semakin pandai mencari alasan?
Teman yang Selalu Membenarkan Belum Tentu Teman yang Baik
Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat dirinya sendiri.
Kita bisa melihat noda di baju orang lain dari jauh. Namun, ketika noda itu berada di punggung sendiri, kita membutuhkan cermin.
Begitu pula dengan akhlak.
Seseorang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan ketika perkataan mulai kelewat batas, ketika perilaku mulai menyimpang, atau ketika keputusan mulai merugikan diri sendiri.
Masalah muncul ketika cermin itu tidak pernah menunjukkan kesalahan.
Teman melakukan kekeliruan, kita membelanya.
Kita melakukan kekeliruan, dia membela kita.
Besok kesalahan yang sama terjadi lagi. Keduanya kemudian berkata, “Tidak apa-apa. Semua orang juga begitu.”
Akhirnya, persahabatan berubah menjadi ruang yang selalu menyediakan pembenaran.
Tidak ada yang mengoreksi.
Tidak ada yang mengingatkan.
Semua orang merasa benar.
Padahal, teman dekat yang baik bukan selalu orang yang mengatakan, “Kamu benar.”
Kadang justru orang yang berani berkata, “Kamu salah, tetapi kamu masih bisa memperbaikinya,” adalah sahabat yang jauh lebih berharga.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud 4833 dan dinilai hasan oleh Al-Albani pada sumber tersebut.
Pesannya jelas: kedekatan memiliki pengaruh.
Karena itu, memilih teman bukan berarti mencari manusia tanpa dosa. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang perlu diperhatikan adalah apakah hubungan tersebut mendorong seseorang menuju kebaikan atau justru membuat keburukan terasa normal.
Al-Qur’an Menggambarkan Penyesalan karena Salah Memilih Teman
Peringatan tentang persahabatan juga muncul dalam Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Furqan ayat 27–29, Allah menggambarkan penyesalan seseorang pada hari kemudian. Ia berkata:
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
“Wahai celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat.”
Kemudian ia berkata bahwa teman tersebut telah membuatnya berpaling dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadanya.
Ayat tersebut tidak mengajarkan manusia untuk memusuhi semua orang yang memiliki kekurangan.
Sebaliknya, ayat itu mengingatkan tentang kedekatan yang membawa pengaruh buruk.
Sebab, berbeda antara berteman untuk mengajak seseorang menjadi lebih baik dengan menjadikan keburukan sebagai kebiasaan bersama.
Itulah sebabnya, dalam Islam, kualitas persahabatan tidak hanya diukur dari seberapa sering kita tertawa bersama. Lebih dalam lagi, ukurannya adalah apakah hubungan tersebut membantu kita menjaga iman, akhlak, dan kesadaran terhadap kesalahan.
Rasulullah Mengibaratkan Teman seperti Penjual Minyak Wangi
Gambaran yang sangat indah tentang pengaruh teman datang dari hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW mengibaratkan teman yang baik seperti pembawa atau penjual minyak wangi. Dari orang tersebut, seseorang bisa mendapatkan aroma yang baik atau memperoleh manfaat. Sebaliknya, teman yang buruk diibaratkan seperti pandai besi; seseorang bisa terkena percikan api atau setidaknya mendapatkan bau yang tidak menyenangkan. (Sunnah)
Perumpamaan tersebut sederhana, tetapi kuat.
Kita tidak selalu sadar bahwa sesuatu telah menempel pada diri kita.
Begitu pula dengan pergaulan.
Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun berada dalam lingkungan tertentu, cara berbicara, cara berpikir, selera, kebiasaan, bahkan standar tentang benar dan salah dapat ikut berubah.
Karena itu, sesekali kita perlu bertanya:
Setelah berteman dengan mereka, apakah saya menjadi lebih baik?
Apakah saya semakin mudah menerima nasihat?
Apakah saya masih merasa bersalah ketika melakukan kesalahan?
Atau justru sebaliknya?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak teman yang kita punya.
Jangan Salah Memahami Nasihat Ibnu Athaillah
Ada satu catatan penting.
Hikmah Ibnu Athaillah tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih suci daripada orang lain. Manusia memiliki masa lalu, kelemahan, dan proses perubahan yang berbeda.
Karena itu, memilih teman bukan berarti hanya mau bergaul dengan orang yang dianggap sempurna.
Justru, seseorang yang baik dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk berubah.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika hubungan dekat membuat seseorang semakin nyaman dengan keburukan, menolak nasihat, dan kehilangan kemampuan untuk mengoreksi diri.
Al-Qur’an juga memberikan gambaran tentang persahabatan pada hari akhir:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).
Pesannya kembali kepada satu hal: persahabatan yang dibangun di atas kebaikan memiliki arah yang berbeda dari persahabatan yang hanya memperkuat kesalahan.
Hikmah ini sebaiknya dibaca sebagai ajakan untuk melakukan introspeksi, bukan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Tidak ada manusia yang bebas dari kekurangan. Ukurannya bukan apakah teman kita lebih buruk atau lebih baik daripada kita, melainkan apakah hubungan tersebut membuat kita semakin dekat dengan kebaikan atau semakin nyaman mempertahankan kesalahan.
Coba Periksa Lingkaran Terdekat Kita
Mungkin kita tidak perlu buru-buru mengganti semua teman.
Cukup mulai dengan melihat pengaruhnya.
Siapa yang mengingatkan kita ketika salah?
Siapa yang membuat kita malu melakukan keburukan?
Siapa yang mendorong kita memperbaiki ibadah dan akhlak?
Dan siapa yang justru membuat kita berkata, “Santai saja, tidak ada masalah,” setiap kali hati sebenarnya sudah tahu bahwa ada sesuatu yang keliru?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling sulit.
Sebab terkadang, orang yang paling kita sayangi adalah orang yang paling sulit kita kritik.
Namun, persahabatan yang sehat bukanlah persahabatan yang membuat dua orang selalu merasa benar.
Persahabatan yang sehat adalah hubungan yang membuat keduanya berani menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, pesan Ibnu Athaillah terasa sederhana sekaligus mengganggu kenyamanan.
Jangan hanya bertanya, “Siapa teman saya?”
Tanyakan juga:
“Saya sedang menjadi siapa setelah terlalu lama berteman dengannya?”
Sebab teman yang buruk tidak selalu menyeret kita ke jurang sambil berteriak.
Kadang ia hanya tersenyum, menepuk bahu kita, lalu berkata, “Tenang, itu bukan masalah.”
Kita percaya.
Besok kita mengulanginya.
Lusa kita membelanya.
Sampai akhirnya, masalah terbesar bukan lagi ketika kita melakukan kesalahan.
Masalah terbesar adalah ketika hati sudah tidak lagi mengenali kesalahan sebagai kesalahan.
Dan ketika itu terjadi, mungkin yang perlu kita ganti bukan sekadar lingkungan pergaulan.
Mungkin kita perlu mencari kembali cermin yang berani menunjukkan wajah kita apa adanya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar