Teman yang Salah Bisa Menjauhkan Kita dari Allah
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- visibility 82
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Pertemanan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Teman yang baik bukan sekadar orang yang menyenangkan diajak bercanda. Dalam memilih teman, seorang Muslim juga perlu memperhatikan apakah pertemanan tersebut membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru perlahan menjauh dari kebaikan.
Pesan tentang pertemanan dalam Islam itu disampaikan dengan sangat singkat oleh Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam:
لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهَضُكَ حَالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ مَقَالُهُ
Maknanya kurang lebih: “Jangan berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu untuk taat kepada Allah dan perkataannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.” Teks hikmah tersebut tercantum dalam pembahasan Al-Hikam karya Ibnu Athaillah beserta penjelasannya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, coba terapkan pada kehidupan sehari-hari.
Kita mungkin punya banyak teman. Ada teman kerja, teman sekolah, teman nongkrong, teman di media sosial, sampai teman yang hanya muncul ketika ada sesuatu yang sedang viral.
Tetapi, siapa yang benar-benar membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?
Pertanyaan itu jauh lebih penting.
Ibnu Athaillah Tidak Mengajarkan Kita Membenci Orang
Pesan Ibnu Athaillah tidak tepat jika dipahami sebagai perintah untuk menjauhi semua orang yang memiliki kekurangan.
Sebab kita sendiri juga bukan manusia sempurna.
Seorang teman bisa saja memiliki masa lalu yang buruk, tetapi sedang berusaha memperbaiki diri. Ada pula orang yang belum banyak mengetahui ilmu agama, tetapi memiliki kejujuran, kerendahan hati, dan kemauan untuk belajar.
Karena itu, ukuran teman yang baik bukan sekadar penampilan, status sosial, banyaknya pengetahuan agama, atau seberapa sering seseorang berbicara tentang kebaikan.
Yang lebih penting adalah arah pengaruhnya.
Apakah setelah berteman dengannya kita terdorong memperbaiki salat?
Apakah kita lebih malu melakukan keburukan?
Apakah kita semakin senang berbuat baik?
Atau justru sebaliknya?
Kalau setiap pertemuan membuat hati semakin berat melakukan kebaikan, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Bukan untuk merasa lebih suci.
Melainkan untuk menjaga diri.
Penjelasan atas hikmah tersebut juga menekankan gagasan bahwa keadaan dan karakter seseorang dapat memengaruhi orang yang berada di dekatnya. Karena itu, Ibnu Athaillah mendorong seseorang memilih lingkungan pergaulan yang dapat membangkitkan semangat menuju Allah.
Nabi Mengingatkan: Perhatikan Siapa Teman Dekat Kita
Pesan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam hadis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya, “Seseorang berada di atas agama atau kebiasaan teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”
Hadis ini diriwayatkan Abu Hurairah dan tercantum dalam Sunan Abi Dawud nomor 4833 serta Jami’ at-Tirmidzi nomor 2378. Keduanya mencantumkan penilaian hadis tersebut sebagai hasan.
Perhatikan satu kata penting: teman dekat.
Sebab tidak semua orang yang kita kenal otomatis mempunyai pengaruh yang sama.
Ada orang yang hanya kita sapa sesekali.
Ada pula orang yang pendapatnya selalu kita dengarkan.
Ada yang sekadar menjadi rekan kerja.
Ada juga yang menjadi tempat kita meminta nasihat ketika sedang bingung.
Nah, orang-orang yang paling dekat inilah yang perlu kita evaluasi.
Sebab secara perlahan, kebiasaan teman dapat menjadi kebiasaan kita.
Cara berbicaranya bisa ikut memengaruhi cara bicara kita.
Cara melihat masalah bisa memengaruhi cara kita mengambil keputusan.
Bahkan, standar tentang sesuatu yang dianggap benar atau salah pun bisa berubah tanpa terasa.
Teman Buruk Tidak Selalu Terlihat Buruk
Di sinilah nasihat tentang memilih teman menjadi menarik.
Kita sering membayangkan teman buruk sebagai orang yang kasar, suka membuat masalah, atau terang-terangan mengajak kepada keburukan.
Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Ada orang yang sangat menyenangkan, tetapi terus mendorong kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tahu tidak baik.
Ada pula yang pintar berbicara, tetapi selalu punya alasan untuk membenarkan kesalahan.
Ada juga yang membuat kita tertawa sepanjang malam, tetapi setelah pertemuan selesai, tidak ada sedikit pun dorongan untuk menjadi lebih baik.
Yang lebih lucu, kita kadang menyebut semua itu sebagai “pertemanan yang sehat.”
Sehat dari mana?
Kalau hati semakin jauh dari Allah, setidaknya kita perlu melakukan pemeriksaan ulang.
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat mudah dipahami. Beliau menggambarkan teman yang baik seperti penjual minyak kasturi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi. Dari penjual minyak wangi, seseorang bisa mendapatkan aroma harum; sementara dari pandai besi, ia bisa terkena percikan atau mendapatkan bau yang tidak menyenangkan. Hadis ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 2101.
Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh pergaulan dapat bekerja tanpa kita sadari.
Kita tidak harus berniat menjadi seperti teman kita.
Cukup terlalu lama berada di lingkungan tertentu, standar kita bisa berubah.
Yang dulu terasa aneh mulai terasa biasa.
Yang dulu membuat malu mulai dianggap lucu.
Yang dulu kita hindari perlahan mulai kita toleransi.
Al-Qur’an Mengingatkan Ada Persahabatan yang Berujung Penyesalan
Al-Qur’an juga memberikan peringatan tentang hubungan pertemanan.
Allah berfirman dalam QS Az-Zukhruf ayat 67:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
Artinya, “Teman-teman karib pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
Ayat tersebut tidak berarti semua hubungan pertemanan pasti berakhir menjadi permusuhan.
Pesannya lebih spesifik: persahabatan yang dibangun di atas keburukan dapat berubah menjadi penyesalan, sedangkan hubungan yang dibangun dalam ketakwaan memiliki nilai yang berbeda.
Karena itu, memilih teman bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada sesama.
Namun, ketika menentukan siapa yang paling dekat dengan hati, siapa yang paling sering didengar nasihatnya, dan siapa yang paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita, kehati-hatian menjadi penting.
Ukuran Teman yang Baik: Setelah Bertemu, Kita Jadi Apa?
Mungkin inilah cara paling sederhana untuk menguji sebuah pertemanan.
Setelah bertemu dengannya, kita menjadi manusia seperti apa?
Apakah kita semakin jujur?
Apakah kita semakin menghargai orang tua?
Apakah kita semakin menjaga ibadah?
Apakah kita lebih mudah meminta maaf?
Apakah kita lebih ringan membantu orang lain?
Atau justru kita semakin mudah meremehkan dosa?
Jawabannya mungkin tidak langsung terlihat.
Namun, perubahan kecil yang terjadi berulang kali pada akhirnya membentuk kebiasaan.
Karena itu, pesan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam bukan sekadar nasihat tentang mencari teman yang saleh. Pesan tersebut juga mengajak kita melakukan introspeksi terhadap pengaruh lingkungan terhadap hati dan perilaku.
Dan ada satu pertanyaan yang lebih tajam lagi:
Apakah kita sendiri sudah menjadi teman yang baik bagi orang lain?
Sebab jangan sampai kita sibuk mencari sahabat yang dapat membawa kita mendekat kepada Allah, sementara kehadiran kita justru membuat orang lain semakin jauh.
Itulah bagian yang sering luput.
Kita ingin punya teman baik.
Tetapi kita juga harus berusaha menjadi teman yang baik.
Jangan Putus Silaturahmi, Tetapi Bijak Menentukan Kedekatan
Memahami nasihat ini juga membutuhkan keseimbangan.
Tidak semua orang yang berbeda dengan kita harus dijauhi.
Tidak semua orang yang pernah melakukan kesalahan harus ditinggalkan.
Dan tidak semua pergaulan harus diakhiri secara dramatis.
Ada kalanya yang diperlukan bukan memutus hubungan, melainkan mengatur batas kedekatan.
Tetap menyapa.
Tetap menghormati.
Tetap membantu ketika diperlukan.
Namun, kita tidak harus menjadikan semua orang sebagai tempat utama untuk mencari pengaruh, nasihat, dan arah kehidupan.
Dengan begitu, pesan Al-Hikam tentang memilih teman dapat dipahami secara lebih proporsional.
Bukan tentang mencari manusia sempurna.
Melainkan mencari lingkungan yang membantu kita terus memperbaiki diri.
Sebab pada akhirnya, teman yang baik bukan orang yang selalu membenarkan kita.
Kadang justru dia orang yang berani berkata, “Jangan lakukan itu. Kamu bisa menjadi lebih baik.”
Dan kalimat seperti itu mungkin tidak selalu enak didengar.
Tetapi bisa jadi, itulah bentuk pertemanan yang paling berharga.
Jangan hanya bertanya, “Siapa teman yang membuat saya bahagia?” Tanyakan juga, “Setelah berteman dengannya, apakah saya semakin dekat kepada Allah?” Sebab teman bukan cuma orang yang menemani perjalanan hidup—ia bisa ikut menentukan arah perjalanan itu. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar