Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hikmah Ujian Allah: Jangan Tunggu Susah untuk Ingat Pada-Nya

Hikmah Ujian Allah: Jangan Tunggu Susah untuk Ingat Pada-Nya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada sesuatu yang sering luput kita sadari: hikmah ujian Allah bukan hanya berbicara tentang bagaimana menghadapi kesulitan, tetapi juga tentang bagaimana membaca nikmat. Sebab, ujian dari Allah tidak selalu datang dalam bentuk kehilangan, sakit, atau kegagalan. Kesehatan, rezeki, keluarga, waktu luang, bahkan hidup yang terasa baik-baik saja juga dapat menjadi ruang untuk menguji apakah seorang hamba mau bersyukur dan mendekat kepada-Nya.

Gagasan tersebut terasa kuat dalam salah satu hikmah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam al-‘Athaiyyah:

مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللَّهِ بِمُلَاطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قِيدَ إِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الامْتِحَانِ

Maknanya: “Siapa yang tidak menghadap kepada Allah melalui kelembutan-kelembutan ihsan-Nya, akan digiring kepada-Nya dengan rantai ujian.”

Redaksi hikmah tersebut tercantum dalam Al-Hikam dan disertai penjelasan bahwa manusia dapat kembali kepada Allah melalui karunia-Nya atau melalui ujian yang menggugah kesadarannya.

Kalimat itu terdengar indah. Namun, jika direnungkan lebih jauh, pesannya cukup menampar.

Ketika nikmat datang, mengapa Allah justru sering dilupakan?

Manusia mempunyai kebiasaan yang agak aneh.

Ketika tubuh sehat, kita sibuk mengejar pekerjaan. Ketika rezeki bertambah, kita menghitung target berikutnya. Ketika keluarga baik-baik saja, kita menganggap semuanya memang seharusnya demikian.

Namun, ketika sakit datang, doa mendadak menjadi panjang.

Ketika usaha tersendat, tangan lebih sering terangkat.

Ketika kehilangan seseorang, nama Allah terasa begitu dekat di bibir.

Di situlah hikmah Ibnu Athaillah menjadi relevan.

Beliau tidak sedang mengajarkan manusia agar menunggu musibah. Justru sebaliknya, ia mengingatkan agar seorang hamba mau mendekat kepada Allah ketika masih menerima kelembutan nikmat-Nya.

Sebab, seseorang tidak harus menunggu kehilangan pekerjaan untuk menyadari pentingnya rezeki. Ia tidak harus menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Ia pun tidak perlu menunggu rumah tangganya diguncang masalah untuk kembali memperbanyak doa.

Nikmat sebenarnya sudah cukup menjadi alasan untuk pulang.

Ujian tidak selalu berarti hukuman

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Membaca hikmah Ibnu Athaillah bukan berarti setiap musibah harus langsung dianggap sebagai hukuman Allah. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana dan dapat menyakiti orang yang sedang mengalami cobaan.

Al-Qur’an memang menegaskan bahwa manusia akan menghadapi ujian.

Allah berfirman:

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bentuknya pun beragam, mulai dari rasa takut, kesulitan ekonomi, kehilangan, hingga berbagai persoalan kehidupan.

Karena itu, orang yang sedang sakit tidak layak langsung dicap sedang dihukum Allah. Begitu pula seseorang yang kehilangan harta tidak otomatis lebih buruk imannya daripada orang yang hidup berkecukupan.

Justru, yang perlu dilihat adalah bagaimana seseorang merespons keadaan tersebut.

Allah juga berfirman:

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)

Perhatikan kata yang digunakan: ahsanu ‘amala—yang lebih baik amalnya.

Artinya, ukuran keberhasilan menghadapi kehidupan bukan sekadar seberapa banyak seseorang memperoleh sesuatu, melainkan bagaimana ia menjalani semua keadaan tersebut di hadapan Allah.

Jangan sampai harus kehilangan dulu baru bersyukur

Ada sindiran halus yang bisa kita arahkan kepada diri sendiri.

Kita sering menganggap nikmat sebagai sesuatu yang permanen, padahal semuanya dapat berubah.

Pagi ini sehat, sore belum tentu.

Hari ini memiliki pekerjaan, bulan depan belum tentu.

Hari ini berkumpul dengan keluarga, suatu saat kursi di ruang makan bisa menyisakan kenangan.

Karena itu, syukur tidak seharusnya menunggu kehilangan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Syukur pun bukan hanya ucapan alhamdulillah.

Ketika sehat, syukur berarti menggunakan kesehatan untuk kebaikan.

Ketika memiliki rezeki, syukur berarti menggunakannya secara halal dan tidak melupakan hak orang lain.

Ketika mempunyai waktu, syukur berarti tidak menghabiskannya seluruhnya untuk sesuatu yang sia-sia.

Dengan demikian, mendekat kepada Allah ketika memperoleh nikmat merupakan bentuk syukur yang nyata.

Saat ujian datang, pintu kembali belum tertutup

Lalu bagaimana jika seseorang sudah terlanjur jauh dari Allah?

Hikmah tersebut tidak semestinya membuat orang putus asa.

Sebaliknya, ujian dapat menjadi momentum untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri, kemudian kembali kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim, no. 2999).

Hadis tersebut memberikan perspektif penting. Nikmat dan ujian sama-sama dapat menjadi jalan kebaikan, tergantung bagaimana seorang mukmin menyikapinya.

Saat lapang, ia bersyukur.

Saat sempit, ia bersabar.

Saat berhasil, ia tidak sombong.

Saat gagal, ia tidak berputus asa.

Dengan cara itu, kehidupan tidak hanya menjadi rangkaian kejadian yang menyenangkan atau menyakitkan. Semua keadaan berubah menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Nikmat hari ini mungkin adalah panggilan yang paling lembut

Pada akhirnya, pesan Ibnu Athaillah bukan ajakan untuk takut kepada musibah. Pesannya justru mengajak kita lebih peka terhadap nikmat.

Allah tidak selalu mengingatkan manusia melalui sesuatu yang menyakitkan.

Kadang, pengingat itu datang dalam bentuk tubuh yang masih sehat.

Kadang melalui rezeki yang masih mengalir.

Kadang melalui keluarga yang masih bisa ditemui.

Kadang melalui hati yang masih tergerak ketika mendengar ayat Al-Qur’an.

Semua itu adalah kesempatan.

Maka, sebelum bertanya mengapa Allah menguji kita, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mendekat kepada-Nya ketika hidup masih begitu lapang?

Sebab, orang yang mengenali Allah ketika menerima nikmat tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.

Jangan tunggu hidup memukul keras untuk sadar bahwa Allah sedang memanggil. Bisa jadi, kesehatan yang kita nikmati pagi ini, rezeki yang kita terima hari ini, dan keluarga yang masih bersama kita adalah panggilan Allah yang paling lembut. Jika yang lembut saja terus diabaikan, jangan sampai kita baru memahami nilainya setelah datang sesuatu yang membuat hati terpaksa berlutut. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Istigosah dan doa bersama peringatan 44 tahun letusan Gunung Galunggung 1982 di Cipanas Galunggung Tasikmalaya

    44 Tahun Letusan Galunggung: Doa Bersama Menggetarkan Hati Warga Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 207
    • 0Komentar

    albadarapost.com, BERITA DAERAH – Letusan Gunung Galunggung 1982 kembali dikenang melalui kegiatan istigosah dan doa bersama yang berlangsung penuh khidmat. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat akan dahsyatnya bencana sekaligus hikmah besar yang ditinggalkannya bagi masyarakat Tasikmalaya. Bertempat di kawasan Cipanas Galunggung pada 5 April 2026, kegiatan ini menandai dimulainya rangkaian acara Memory of Galunggung. Pemerintah […]

  • Muktamar NU

    Muktamar NU Bukan Sekadar Pilih Ketua, Ini Perannya

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 49
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Muktamar NU bukan sekadar forum untuk memilih Rais Aam atau Ketua Umum PBNU. Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, forum permusyawaratan tertinggi ini juga menjadi ruang untuk membahas arah organisasi, persoalan keagamaan, program kerja, hingga hubungan NU dengan persoalan kebangsaan. Pertanyaannya kemudian: kalau Muktamar NU bukan hanya soal pergantian pemimpin, apa sebenarnya yang […]

  • Pasar Murah Banjar

    Harga Minyak dan Beras Murah, Warga Banjar Antre Panjang

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Antusiasme warga terhadap Pasar Murah Banjar terlihat sejak pagi hari, Kamis (21/05/2026). Puluhan masyarakat memadati kawasan Alun-alun Kota Banjar untuk membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasar. Program pasar murah yang digelar Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (KUKMP) itu langsung dipenuhi warga […]

  • Jum’at Resik Tasik

    Jalan Lingkar Utara Masih Kotor, Pemkot Tasik Disorot

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 161
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Program Jum’at Resik Tasik kembali menjadi sorotan setelah Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan kegiatan gotong royong di Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya. Menurutnya, kegiatan bersih-bersih yang rutin digelar itu masih terlalu fokus pada seremoni dan pencitraan, namun belum benar-benar menyentuh persoalan utama di lapangan. […]

  • risiko pinjol

    Pinjol Tumbuh 24,76%, Mengapa Risiko Kredit Masih Tinggi?

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 29
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Risiko pinjol kembali menjadi perhatian setelah industri Pinjaman Daring (Pindar) mencatat pertumbuhan pembiayaan 24,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026. Nilai outstanding pembiayaan mencapai Rp105,63 triliun, sementara tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 berada di 4,32 persen. Data tersebut dilansir dari pemberitaan CNBC Indonesia yang mengutip Kepala Eksekutif Pengawas […]

  • Patroli Maung Galuh Ciamis

    Maung Galuh Patroli Tengah Malam, Sejumlah Titik Ciamis Disambangi

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 50
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Saat sebagian warga mulai beristirahat, personel Patroli Maung Galuh Ciamis justru bergerak menyusuri sejumlah wilayah pada dini hari. Patroli tersebut berlangsung Jumat (28/8/2026) mulai pukul 00.00 WIB hingga selesai sebagai langkah preventif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas Ciamis). Berdasarkan keterangan Humas Polres Ciamis, personel Sat Samapta menyambangi sejumlah titik yang menjadi […]

expand_less