44 Tahun Letusan Galunggung: Doa Bersama Menggetarkan Hati Warga Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarapost.com, BERITA DAERAH – Letusan Gunung Galunggung 1982 kembali dikenang melalui kegiatan istigosah dan doa bersama yang berlangsung penuh khidmat. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat akan dahsyatnya bencana sekaligus hikmah besar yang ditinggalkannya bagi masyarakat Tasikmalaya.
Bertempat di kawasan Cipanas Galunggung pada 5 April 2026, kegiatan ini menandai dimulainya rangkaian acara Memory of Galunggung. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya secara resmi membuka agenda tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif sekaligus memperkuat nilai spiritual masyarakat.
Sejak awal acara, suasana haru dan khusyuk terasa kuat. Warga yang hadir mengikuti rangkaian doa dengan penuh kesadaran akan pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah.
Doa Bersama Jadi Penguat Spiritual Masyarakat
Istigosah bukan sekadar seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, momen ini juga mengajak semua pihak untuk merenungkan kembali dampak besar dari letusan Gunung Galunggung di masa lalu.
Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, secara langsung membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah, sekaligus menjadikannya sebagai pijakan dalam membangun masa depan yang lebih tangguh.
Dengan demikian, doa bersama ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.
Memory of Galunggung, Menjaga Ingatan Kolektif Generasi
Rangkaian Memory of Galunggung hadir sebagai bentuk edukasi sekaligus pelestarian sejarah lokal. Program ini dirancang agar generasi muda tetap mengenal peristiwa besar yang pernah terjadi di wilayahnya.
Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Banyak masyarakat yang hadir tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk berbagi cerita dan pengalaman terkait letusan Gunung Galunggung 1982.
Oleh sebab itu, peringatan ini memiliki nilai penting, baik dari sisi historis maupun sosial. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk terus menghidupkan agenda serupa setiap tahunnya.
Dari Bencana Menuju Kepedulian dan Ketangguhan
Letusan Gunung Galunggung 1982 meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat Tasikmalaya. Namun, dari peristiwa tersebut lahir semangat kebersamaan dan solidaritas yang terus terjaga hingga kini.
Melalui kegiatan istigosah, masyarakat diajak untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga menapaki hikmah dari bencana. Nilai kepedulian sosial dan gotong royong menjadi bagian penting yang terus diperkuat.
Baca juga: Rahasia Hijrah Nabi Muhammad SAW: Strategi yang Mengubah Dunia
Selanjutnya, kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana juga semakin ditingkatkan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat berjalan seiring dalam membangun wilayah yang lebih tangguh terhadap risiko alam.
Menguatkan Iman, Menyatukan Masyarakat
Peringatan letusan Gunung Galunggung 1982 melalui istigosah dan doa bersama menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Kegiatan ini menghadirkan refleksi mendalam sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Dengan semangat yang terbangun, Tasikmalaya terus melangkah menuju masa depan yang lebih kuat. Mengingat sejarah bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa setiap pelajaran dapat menjadi bekal menghadapi tantangan ke depan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar