5.825 Atlet Madrasah Tumpah di Tasikmalaya, PORSENI Jabar Dibuka
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi PORSENI Sisa Madrasah Tingkat Jabar 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – PORSENI Madrasah Jabar 2026 resmi dibuka di Kota Tasikmalaya, Sabtu, 22 Agustus 2026. Ajang PORSENI Jabar 2026 itu mempertemukan 5.825 atlet madrasah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat dalam kompetisi olahraga dan seni.
Bukan sekadar pertandingan antarpelajar, PORSENI siswa madrasah menjadi panggung untuk menunjukkan bakat, keberanian, sportivitas, sekaligus hasil pembinaan di masing-masing daerah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Pembukaan turut didampingi Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi dan Ketua PGM Jawa Barat Asep Rizal.
Kehadiran ketiganya memperlihatkan dukungan terhadap pengembangan potensi, prestasi, sportivitas, dan karakter siswa madrasah di Jawa Barat.
Pembukaan berlangsung di Lapangan Alun-Alun Dadaha, Kota Tasikmalaya. Rangkaian PORSENI dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Agustus 2026.
Tasikmalaya Jadi Panggung Ribuan Talenta
Angka 5.825 menjadi salah satu daya tarik utama PORSENI Madrasah Jabar 2026 tahun ini.
Ribuan atlet datang dari berbagai daerah dengan membawa nama madrasah dan kontingen masing-masing. Mereka tidak hanya mengejar posisi di podium, tetapi juga mendapatkan pengalaman bertanding dalam atmosfer kompetisi tingkat Jawa Barat.
Peserta berasal dari berbagai jenjang madrasah, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Kontingen daerah pun telah melakukan persiapan sebelum berangkat ke Kota Tasikmalaya.
Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, mengirim 173 peserta dan atlet, yang terdiri atas 53 peserta MI, 58 MTs, dan 60 MA.
Sementara itu, Kota Tasikmalaya juga menyiapkan kontingen sendiri. Data Pemerintah Kota Tasikmalaya mencatat 56 peserta MI, 58 MTs, dan 60 MA, dengan total 13 cabang perlombaan yang terdiri atas sembilan cabang seni dan empat cabang olahraga.
Situasi tersebut membuat Kota Tasikmalaya selama beberapa hari menjadi titik pertemuan talenta muda madrasah dari berbagai penjuru Jawa Barat.
Bukan Hanya Soal Siapa yang Membawa Medali
Kompetisi memang memiliki pemenang.
Namun, makna PORSENI Madrasah Jabar 2026 tidak berhenti pada perolehan medali. Ajang ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk membangun kepercayaan diri, menguji kemampuan, serta belajar menghadapi kemenangan dan kekalahan.
Pemerintah Kota Tasikmalaya sebelumnya menegaskan bahwa PORSENI tidak semata berorientasi pada kemenangan. Ajang tersebut diharapkan menjadi ruang pengembangan bakat dan potensi, sekaligus membangun kepercayaan diri, sportivitas, dan kebersamaan siswa madrasah.
Karena itu, pertandingan menjadi bagian dari proses pendidikan.
Siswa yang menang mendapatkan apresiasi atas hasil latihan mereka. Sebaliknya, peserta yang belum meraih podium tetap membawa pulang pengalaman yang dapat menjadi modal untuk berkembang.
Di titik inilah PORSENI memiliki nilai yang lebih panjang daripada sekadar hasil pertandingan.
29 Cabang Jadi Arena Persaingan
Persaingan di PORSENI Tasikmalaya juga tidak sederhana.
Informasi mengenai kontingen daerah menyebut terdapat 29 cabang olahraga dan seni yang dipertandingkan dalam ajang tingkat Jawa Barat tersebut.
Artinya, setiap kontingen mempunyai peluang untuk menunjukkan kekuatan pada bidang yang berbeda.
Ada siswa yang unggul di arena olahraga. Ada pula yang memiliki kemampuan di bidang seni. Keduanya mendapat ruang dalam satu panggung kompetisi.
Dengan komposisi peserta dari MI, MTs, dan MA, PORSENI sekaligus memperlihatkan keragaman potensi siswa madrasah.
Tasikmalaya pun tidak sekadar menjadi tempat pertandingan. Kota ini menjadi ruang perjumpaan antarsiswa, guru, pendamping, dan kontingen dari berbagai daerah.
Ada Tantangan Setelah PORSENI Berakhir
Rangkaian pertandingan akan selesai pada 24 Agustus.
Namun, pekerjaan pembinaan seharusnya tidak berhenti bersama berakhirnya kompetisi.
Siswa yang menunjukkan prestasi perlu mendapatkan pembinaan lanjutan. Begitu pula peserta yang belum berhasil meraih medali perlu memperoleh ruang untuk terus berlatih.
Sebab, prestasi olahraga dan seni tidak lahir dalam satu pertandingan. Ada proses panjang di belakangnya, mulai dari latihan, pendampingan, disiplin, hingga keberanian tampil.
PORSENI dapat menjadi momentum untuk menemukan bibit-bibit potensial dari madrasah di berbagai daerah Jawa Barat.
Pada saat yang sama, madrasah dapat menjadikan hasil pertandingan sebagai bahan evaluasi pembinaan siswa.
Dari Arena Pertandingan Menuju Pembinaan
Kehadiran ribuan atlet di Kota Tasikmalaya memperlihatkan bahwa potensi siswa madrasah tidak hanya berada di ruang kelas.
Mereka juga memiliki kemampuan dalam olahraga, seni, kreativitas, dan berbagai bidang kompetisi.
Karena itu, keberhasilan PORSENI seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah medali yang terkumpul di akhir kegiatan.
Lebih jauh, keberhasilan itu dapat dilihat dari seberapa banyak siswa yang menemukan kepercayaan dirinya, belajar menghargai lawan, menjaga sportivitas, dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan setelah kompetisi selesai.
Bagi Kota Tasikmalaya, menjadi tuan rumah juga memberi pengalaman tersendiri. Sebelumnya, Pemerintah Kota Tasikmalaya telah menyiapkan kontingen dengan pesan agar peserta tampil optimal, menjaga nama baik daerah, dan menjadikan PORSENI sebagai pengalaman berharga untuk berkembang.
Kini, panggung itu benar-benar terbuka.
Ribuan atlet madrasah telah berkumpul. Masing-masing datang membawa target, latihan, dan harapan.
Dan di antara ribuan nama tersebut, bukan tidak mungkin akan muncul talenta yang kelak membawa nama Jawa Barat ke tingkat yang lebih tinggi.
PORSENI Jangan Berhenti di Podium
PORSENI Madrasah Jabar 2026 pada akhirnya bukan hanya cerita tentang siapa yang menjadi juara.
Medali memang menjadi simbol keberhasilan. Namun, karakter, sportivitas, keberanian, dan pengalaman bertanding juga menjadi bagian penting dari perjalanan siswa.
Karena itu, setelah arena pertandingan di Kota Tasikmalaya kembali sepi, semangat pembinaan harus tetap berjalan.
Sebab, juara mungkin hanya lahir dari podium. Tetapi talenta besar lahir dari pembinaan yang tidak berhenti setelah tepuk tangan reda. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar