Jangan Tinggalkan Dzikir Hanya Karena Hati Belum Khusyuk
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang menunggu kereta sambil berdzikir dan bertasbih.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada ironi dalam kehidupan kita: untuk mengingat banyak hal duniawi, kita tidak membutuhkan suasana hati yang sempurna. Kita bisa mengingat tagihan, pekerjaan, pesan WhatsApp, jadwal rapat, bahkan komentar orang yang membuat kesal. Namun, ketika hendak dzikir atau mengingat Allah, sebagian dari kita justru merasa harus menunggu hati benar-benar tenang dan khusyuk.
Pesan Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menawarkan cara pandang yang berbeda. Jangan meninggalkan dzikir hanya karena hati belum sepenuhnya hadir. Sebab, perjalanan mendekat kepada Allah memang tidak selalu dimulai dari keadaan batin yang sempurna.
Pesannya sederhana, tetapi cukup menampar: jangan berhenti mengingat Allah hanya karena merasa belum menjadi orang yang baik.
Dzikir Tidak Harus Menunggu Hati Sempurna
Dalam salah satu hikmah yang dinisbatkan kepada Ibnu Athaillah, terdapat nasihat agar seorang hamba tidak meninggalkan dzikir hanya karena belum mampu menghadirkan hati secara sempurna.
Nasihat ini bukan berarti kelalaian dalam berdzikir merupakan sesuatu yang ideal. Justru sebaliknya. Dzikir dapat menjadi latihan untuk membawa hati perlahan-lahan menuju kesadaran yang lebih dalam.
Pada awalnya, seseorang mungkin menggerakkan lisan sementara pikirannya masih ke mana-mana. Beberapa saat kemudian, ia mulai memahami makna yang diucapkan. Setelah terbiasa, hatinya dapat semakin hadir. Dari sanalah dzikir tidak lagi sekadar rangkaian kata, tetapi menjadi pengingat tentang hubungan manusia dengan Allah.
Karena itu, keutamaan dzikir tidak hanya terletak pada banyaknya lafaz yang terucap. Ada proses pembentukan kesadaran di dalamnya.
Maka, jangan menunggu hati sempurna untuk mulai berdzikir.
Justru berdzikirlah sambil belajar memperbaiki hati.
Al-Qur’an Memerintahkan Mengingat Allah
Al-Qur’an memberikan landasan yang sangat jelas tentang pentingnya mengingat Allah.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat tersebut menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara dzikir dan kedekatan seorang hamba kepada Allah. Perintah itu juga tidak membatasi manusia hanya mengingat Allah ketika sedang berada dalam kondisi tertentu.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang-orang yang menggunakan akalnya sebagai mereka yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.”
(QS. Ali ‘Imran: 191)
Pesannya jelas. Mengingat Allah bukan aktivitas yang hanya berlangsung ketika seseorang berada di masjid, majelis ilmu, atau sedang memegang tasbih.
Dzikir dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Saat bekerja, seseorang dapat mengingat Allah. Ketika menunggu, ia dapat memperbanyak istighfar. Ketika memperoleh nikmat, ia dapat mengucapkan hamdalah. Bahkan ketika menghadapi masalah, ia tetap dapat menyebut nama Allah dan memohon pertolongan-Nya.
Hadis Qudsi Menggambarkan Kedekatan Allah
Pesan tersebut juga sejalan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
Dalam hadis tersebut, Allah berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
Hadis tersebut kemudian menggambarkan kedekatan seorang hamba kepada Allah dengan perumpamaan yang kuat: ketika seorang hamba mendekat kepada Allah sejengkal, Allah mendekat kepadanya sehasta; ketika ia mendekat sehasta, Allah mendekat kepadanya sedepa; dan ketika ia datang kepada Allah dengan berjalan, Allah datang kepadanya dengan cepat.
Makna hadis ini tentu bukan jarak fisik sebagaimana hubungan antara manusia. Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan keluasan rahmat, pertolongan, penerimaan, dan kedekatan Allah kepada hamba yang berusaha mendekat kepada-Nya.
Dengan demikian, langkah kecil tidak layak diremehkan.
Satu istighfar mungkin terdengar sederhana. Satu tasbih mungkin terasa biasa. Namun, kebiasaan mengingat Allah dapat menjadi jalan untuk menjaga hati tetap terhubung kepada-Nya.
Jangan Jadikan “Belum Khusyuk” Sebagai Alasan Berhenti
Di sinilah pesan Al-Hikam terasa sangat dekat dengan kehidupan modern.
Kita sering menunda sesuatu karena menunggu kondisi ideal. “Nanti kalau sudah tenang.” “Nanti kalau masalah selesai.” “Nanti kalau hati sudah benar-benar ikhlas.”
Masalahnya, kondisi ideal itu sering tidak pernah datang.
Hari ini pekerjaan menumpuk. Besok ada persoalan keluarga. Lusa muncul urusan lain. Setelah satu masalah selesai, masalah berikutnya datang. Jika dzikir harus menunggu hidup benar-benar tenang, kapan kita akan mulai mengingat Allah?
Karena itu, berdzikir kepada Allah seharusnya tidak menjadi aktivitas yang hanya muncul ketika suasana hati sedang nyaman.
Justru ketika pikiran berantakan, dzikir dapat menjadi pengingat agar manusia tidak kehilangan arah.
Namun, ada satu catatan penting: dzikir bukan sekadar gerakan lisan. Seseorang tetap perlu belajar memahami maknanya, menjaga adabnya, dan menghadirkan kesadaran sedikit demi sedikit.
Tujuannya bukan sekadar banyak menyebut nama Allah, tetapi agar ingatan kepada Allah memberi pengaruh pada perilaku.
Lisan berdzikir, tetapi perkataan juga harus dijaga.
Hati mengingat Allah, tetapi hati juga perlu belajar menjauhi kesombongan.
Tangan terbiasa mengangkat tasbih, tetapi tangan yang sama semestinya tidak ringan menyakiti orang lain.
Di situlah dzikir menemukan buahnya dalam kehidupan.
Dzikir Sepanjang Hari, Bukan Hanya Setelah Masalah Datang
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)
Ayat tersebut menunjukkan luasnya ruang untuk berdzikir. Pagi dan petang disebutkan sebagai bagian dari waktu yang dapat diisi dengan mengingat Allah.
Karena itu, dzikir tidak perlu menunggu seseorang masuk ke dalam situasi krisis.
Jangan baru mencari istighfar ketika masalah datang. Jangan baru mengingat Allah ketika semua pintu terasa tertutup. Jangan baru membuka tasbih ketika hati sudah tidak menemukan tempat untuk mengadu.
Biasakan sebelum keadaan memaksa.
Sebab hati yang terbiasa mengingat Allah akan memiliki pegangan ketika kehidupan berubah arah.
Pesan Ibnu Athaillah untuk Manusia yang Sering Menunda
Pada akhirnya, nasihat Ibnu Athaillah bukan sekadar tentang berapa banyak kalimat dzikir yang keluar dari lisan.
Pesannya lebih dalam: jangan menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk menjauh dari Allah.
Jika hati belum khusyuk, teruslah belajar khusyuk.
Jika pikiran masih sering berkelana, kembalikan perlahan.
Jika dzikir masih terasa hambar, jangan buru-buru meninggalkannya.
Sebab manusia memang tidak selalu datang kepada Allah dalam keadaan sempurna. Ada yang datang dengan hati tenang. Ada yang datang sambil menangis. Ada pula yang datang dengan pikiran penuh kekacauan.
Yang penting, ia tetap datang.
Dan mungkin, justru di situlah rahasia nasihat Al-Hikam: jangan menunggu menjadi sempurna untuk berdzikir, karena bisa jadi dzikir itulah yang sedang Allah jadikan jalan untuk memperbaiki kita.
Jangan menunggu hati bersih untuk mengingat Allah. Bisa jadi, hati yang kotor itulah alasan mengapa kita harus lebih banyak berdzikir. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar