Malik Ditolak SD, Bocah Stunting Ini Justru Disarankan ke SLB
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Nana Supriatna dan Ariana Kurniati murka terhadap SDN Sindanggalih, Anak bisa baca disuruh ke SLB, Jumat (3/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Impian Malik ditolak SD ketika proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) berlangsung. Bocah berusia tujuh tahun asal Kampung Sindanggalih, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya itu ingin belajar di sekolah negeri yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumahnya. Namun, keluarga justru mengaku mendapat saran agar Malik bersekolah di SLB. Kisah anak stunting ditolak sekolah ini kembali memunculkan perbincangan tentang penerapan pendidikan inklusif di sekolah dasar negeri.
Orang Tua Mengaku Terpukul Usai Mendapat Saran Masuk SLB
Seharusnya Senin, 6 Juli 2026 menjadi hari pertama Malik mengenakan seragam SD. Akan tetapi, harapan itu belum menjadi kenyataan.
Ibunya, Ariana Kurniati, mengatakan Malik sudah didaftarkan ke SDN Sindanggalih karena lokasinya paling dekat dengan rumah. Namun, saat proses pendaftaran berlangsung, keluarga mengaku memperoleh penjelasan yang membuat mereka kecewa.
Menurut Ariana, panitia menyampaikan bahwa Malik lebih tepat menempuh pendidikan di sekolah luar biasa.
Padahal, ia menegaskan kondisi putranya tidak sesuai dengan anggapan tersebut.
“Anak saya bukan penyandang disabilitas intelektual dan bukan autis. Dia hanya belum mampu berjalan karena sejak kecil mengalami stunting. Sekarang dia sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Ariana, Jumat (3/7/2026).
Selain itu, Ariana menjelaskan Malik rutin menjalani pemantauan kesehatan sejak balita. Dokter, lanjutnya, tidak menemukan kelainan neurologis maupun gangguan perkembangan otak.
Sebaliknya, tenaga medis hanya meminta keluarga terus memperbaiki asupan gizi agar berat badan Malik meningkat dan kemampuan fisiknya berkembang.
Malik Sudah Bisa Membaca dan Menulis, Ayah Pertanyakan Pendidikan Inklusif
Ayah Malik, Nana Supriatna, bekerja sebagai buruh mebel. Meski hidup sederhana, ia memiliki harapan yang sama seperti orang tua lainnya, yakni melihat anaknya belajar di sekolah negeri dekat rumah.
Menurut Nana, kondisi ekonomi keluarga seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Malik untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Ia juga mempertanyakan penerapan pendidikan inklusif apabila sekolah negeri belum siap menerima peserta didik dengan keterbatasan fisik.
“Kalau alasannya fasilitas belum siap, lalu anak seperti Malik harus sekolah di mana?” katanya.
Di sisi lain, Nana menilai putranya memiliki kemampuan akademik yang cukup baik. Malik telah mengenal huruf, mampu membaca kalimat sederhana, serta dapat menulis.
Karena itu, keluarga berharap sekolah mempertimbangkan kemampuan belajar Malik, bukan hanya kondisi fisiknya.
Hingga kini, Malik masih menunggu kepastian hasil SPMB.
Kepala SDN Sindanggalih Bantah Menolak Malik
Sementara itu, Kepala SDN Sindanggalih, Nana Hermawan, membantah adanya penolakan terhadap Malik.
Ia menjelaskan sekolah belum mengumumkan hasil resmi penerimaan siswa baru karena jadwal pengumuman baru berlangsung pada Senin, 6 Juli 2026.
Menurutnya, seluruh anak yang memenuhi ketentuan usia sekolah dasar tetap memiliki hak mengikuti proses penerimaan.
Namun, ia mengakui sekolah menghadapi keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas pendukung.
“Kami hanya menjelaskan kondisi yang ada. Satu kelas berisi sekitar 30 siswa, sementara guru terbatas. Kami khawatir pelayanan kepada Malik tidak maksimal,” ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan belum mengambil keputusan akhir mengenai status penerimaan Malik.
Kasus Malik Kembali Mengingatkan Pentingnya Sekolah Inklusif
Peristiwa yang dialami Malik kembali membuka diskusi mengenai kesiapan sekolah umum dalam menerapkan pendidikan inklusif.
Prinsip pendidikan inklusif memberi kesempatan kepada setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan tanpa membedakan kondisi fisik, latar belakang ekonomi, maupun kebutuhan belajarnya.
Karena itu, banyak pihak menilai sekolah tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga dukungan guru, sarana pendukung, serta pendampingan agar setiap peserta didik dapat belajar secara optimal.
Di sisi lain, keluarga Malik berharap proses SPMB memberikan kepastian yang adil. Mereka tidak meminta perlakuan istimewa, melainkan kesempatan yang sama seperti anak-anak lain seusianya.
Bagi Malik, ruang kelas bukan sekadar tempat belajar membaca atau berhitung. Sekolah merupakan pintu pertama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Malik memang belum mampu melangkah dengan kedua kakinya. Namun, jangan sampai sistem pendidikan lebih dulu menghentikan langkah mimpinya menuju ruang kelas. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar