Sawah Menyusut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Angkat Suara
- account_circle redaktur
- calendar_month 52 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Walikota Tasikmalaya Kang Diky Candranegara, Selasa(23/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Lahan sawah Tasikmalaya kembali menjadi perhatian. Di tengah kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, keberadaan lahan sawah Tasikmalaya, sawah abadi, dan ruang hijau kini menghadapi tekanan yang semakin besar. Jika tren alih fungsi lahan terus berlangsung tanpa kendali, kota ini berisiko kehilangan salah satu penyangga utama ketahanan pangan dan keseimbangan lingkungannya.
Peringatan itu disampaikan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candranegara, saat menyoroti semakin terbatasnya lahan yang tersedia di wilayah perkotaan. Menurutnya, pembangunan tidak boleh berjalan dengan mengorbankan kawasan pertanian produktif yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Sawah Abadi Tidak Bisa Ditawar
Wakil Wali Kota menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga lahan pertanian yang telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan. Baginya, sawah bukan sekadar hamparan tanah yang menghasilkan padi, melainkan aset strategis yang menentukan keberlanjutan kota dalam jangka panjang.
Di banyak daerah, alih fungsi lahan sering terjadi karena meningkatnya kebutuhan permukiman, kawasan komersial, dan pembangunan infrastruktur. Namun, ketika lahan pertanian terus berkurang, dampaknya tidak hanya dirasakan petani. Masyarakat perkotaan juga akan menghadapi ancaman berkurangnya pasokan pangan lokal serta menurunnya kualitas lingkungan.
Karena itu, perlindungan sawah abadi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam.
Bukan Saatnya Terus Membuka Lahan Baru
Selain menyoroti pentingnya menjaga lahan pertanian, Wakil Wali Kota juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan membuka kawasan baru. Sebaliknya, pemerintah perlu memaksimalkan aset yang sudah tersedia agar pemanfaatan ruang menjadi lebih efisien.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah aset milik pemerintah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jika aset-aset tersebut dikelola dengan baik, kebutuhan ruang untuk pelayanan publik maupun aktivitas pembangunan dapat terpenuhi tanpa harus mengurangi luas lahan pertanian produktif.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembangunan ramah lingkungan yang kini menjadi perhatian banyak kota di Indonesia. Melalui optimalisasi aset, pemerintah dapat menekan kebutuhan ekspansi lahan sekaligus menjaga keberlanjutan ruang terbuka hijau.
Ketika Ruang Kota Harus Dikelola Lebih Bijak
Diky Candranegara kemudian mengibaratkan tata kelola kota seperti mengelola sebuah rumah. Dalam pandangannya, ruang yang tersedia harus dimanfaatkan secara efektif agar memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa persoalan lahan tidak selalu berkaitan dengan jumlah ruang yang tersedia. Sering kali masalah muncul karena pemanfaatan ruang belum berjalan secara efisien. Akibatnya, kebutuhan pembangunan terus meningkat sementara lahan produktif semakin terdesak.
Di sisi lain, masyarakat juga mulai menyadari pentingnya menjaga ruang hijau sebagai penyangga lingkungan. Kawasan hijau berperan mengurangi suhu perkotaan, menyerap air hujan, serta menjaga kualitas udara. Oleh sebab itu, keberadaan sawah dan lahan terbuka tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting.
Menjaga Sawah, Menjaga Masa Depan
Tasikmalaya saat ini berada pada titik penting dalam menentukan arah pembangunan ke depan. Di satu sisi, kebutuhan fasilitas dan pertumbuhan kota terus berkembang. Namun di sisi lain, perlindungan terhadap lahan pertanian dan ruang hijau juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, keseimbangan harus menjadi kata kunci. Pembangunan perlu berjalan, tetapi keberlangsungan lingkungan juga harus tetap terjaga. Ketika sawah abadi mampu dipertahankan dan aset yang ada dimanfaatkan secara optimal, kota dapat tumbuh tanpa kehilangan fondasi ekologisnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya jumlah gedung yang berdiri. Keberhasilan sejati terlihat dari kemampuan sebuah kota menjaga ruang hidupnya untuk generasi yang akan datang.
Beton mungkin bisa membangun kota lebih cepat, tetapi sawah yang hilang belum tentu bisa kembali. Ketika ruang hijau habis, yang dipertaruhkan bukan sekadar pemandangan, melainkan masa depan Tasikmalaya sendiri. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar