Tanpa Disadari, Banyak Orang Melakukan Ghibah di Grup WhatsApp
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi percakapan ghibah di grup WhatsApp.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Fenomena ghibah WhatsApp kini semakin sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Obrolan di grup WA keluarga, komunitas, kantor, hingga tongkrongan kadang berubah menjadi pembahasan keburukan orang lain tanpa disadari. Padahal, dalam ajaran Islam, ghibah atau menggunjing termasuk perbuatan yang dilarang dan memiliki konsekuensi dosa yang serius.
Ironisnya, banyak orang menganggap percakapan di grup hanya candaan biasa. Ada yang awalnya sekadar membalas stiker, lalu obrolan berkembang menjadi membahas kehidupan pribadi seseorang. Kadang grup langsung ramai. Notifikasi terus berbunyi. Nama seseorang pun mulai jadi bahan komentar bersama.
Sebagian orang sebenarnya merasa tidak nyaman, tetapi memilih diam karena takut dianggap tidak solid dengan grup. Ada juga yang hanya membaca percakapan tanpa ikut menanggapi, meski dalam hati merasa pembahasan itu sudah kelewat batas.
Apa Itu Ghibah dalam Islam?
Dalam Islam, ghibah berarti membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak disukainya, meskipun hal itu benar adanya.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan makna ghibah dalam hadis berikut:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.”
(HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ghibah tidak harus berupa fitnah atau kebohongan. Ketika seseorang membicarakan kekurangan orang lain di belakangnya dan orang tersebut tidak menyukainya, maka perbuatan itu sudah termasuk ghibah.
Karena itu, para ulama menegaskan bahwa ghibah di grup WhatsApp tetap memiliki hukum yang sama seperti ghibah secara langsung.
Ghibah di Grup WA Bisa Menjadi Dosa Bersama
Perkembangan teknologi membuat bentuk ghibah ikut berubah. Jika dulu orang bergunjing secara langsung di tempat tertentu, kini pembicaraan itu berpindah ke ruang digital.
Masalahnya, percakapan di grup WhatsApp sering berkembang sangat cepat. Satu komentar negatif bisa memancing balasan panjang dari anggota lain. Bahkan, terkadang ada yang ikut menambahkan cerita baru tentang orang yang sedang dibahas.
Tidak jarang grup mendadak sunyi beberapa detik setelah satu anggota mulai membicarakan aib orang lain. Namun setelah itu, pesan balasan justru bermunculan lebih ramai. Ada yang tertawa. Ada yang ikut menyindir. Dan ada pula yang mengirim emoji seolah menganggap semuanya lucu.
Padahal, dalam Islam, menjaga kehormatan sesama muslim memiliki nilai yang sangat besar.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS Al-Hujurat: 12)
Ayat tersebut menunjukkan betapa buruknya perbuatan ghibah di sisi Allah SWT. Perumpamaan memakan bangkai saudara sendiri menjadi gambaran keras agar manusia menjaga lisannya, termasuk tulisan dan komentar di media digital.
Mengapa Banyak Orang Tidak Sadar Sedang Ghibah?
Salah satu penyebab utama ghibah di grup WhatsApp sulit disadari ialah karena percakapannya sering dibungkus candaan.
Awalnya hanya obrolan ringan. Namun perlahan pembahasan mulai mengarah pada kehidupan pribadi seseorang, penampilan, masalah rumah tangga, hingga urusan pekerjaan.
Selain itu, budaya ingin tahu urusan orang lain membuat sebagian orang mudah terbawa suasana grup. Ketika banyak anggota ikut tertawa atau membalas komentar, orang lain cenderung merasa pembahasan itu wajar.
Padahal, satu kalimat pendek yang diketik di ponsel bisa melukai orang lain dalam waktu lama.
Di era digital sekarang, dosa tidak selalu muncul dari ucapan langsung. Kadang, ia lahir dari jempol yang terlalu cepat mengetik tanpa memikirkan dampaknya.
Kapan Membicarakan Orang Lain Diperbolehkan?
Meski ghibah dilarang, ulama menjelaskan ada kondisi tertentu yang membolehkan seseorang membicarakan orang lain demi tujuan syar’i atau kemaslahatan.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan beberapa kondisi tersebut, seperti:
- melaporkan kezaliman,
- meminta fatwa,
- memperingatkan masyarakat dari bahaya,
- atau menjelaskan identitas seseorang tanpa niat merendahkan.
Namun, pembolehan itu tetap memiliki batas. Karena itu, umat Islam diminta berhati-hati agar pembahasan tidak berubah menjadi ajang menghina atau mempermalukan orang lain.
Menjaga Grup WA Tetap Sehat dan Nyaman
Para ulama mengingatkan bahwa grup WhatsApp seharusnya menjadi tempat berbagi informasi baik, mempererat silaturahmi, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Karena itu, setiap anggota grup memiliki tanggung jawab moral untuk menghentikan percakapan yang mulai mengarah pada ghibah.
Kadang, memilih diam, mengalihkan topik, atau tidak ikut menimpali pembahasan negatif justru menjadi cara sederhana menjaga diri dari dosa.
Sebab, tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua keburukan orang lain pantas dijadikan hiburan di grup percakapan.
Di zaman serba digital, dosa bisa datang tanpa suara. Bukan dari mulut yang berbicara, melainkan dari jempol yang terlalu mudah menulis keburukan orang lain lalu menganggapnya sekadar candaan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar