Rahasia Bubur Syuro Kampung yang Sulit Ditiru
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi warga memasak Bubur Syuro tradisional dalam kuali besar di halaman masjid saat peringatan Muharram dan Tahun Baru Islam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE — Resep Bubur Syuro selalu menjadi perbincangan ketika Muharram atau Tahun Baru Islam tiba. Bubur Syuro, yang juga dikenal sebagai Bubur Suro di sebagian wilayah Sunda, bukan hanya makanan tradisional. Di banyak kampung Tasikmalaya, kuliner ini menjadi bagian dari tradisi yang menyatukan warga dari berbagai usia dalam satu suasana penuh kebersamaan.
Menjelang malam 1 Muharram, halaman masjid biasanya mulai ramai. Beberapa warga datang membawa beras dalam kantong plastik. Ada yang mengantar kelapa tua dari kebun. Di sudut dapur, beberapa ibu duduk melingkar sambil mengupas bawang dan memotong daun bawang. Tidak jauh dari mereka, anak-anak berlarian sambil sesekali mengintip ke arah kuali besar yang masih kosong.
Beberapa jam kemudian, suasana berubah.
Api mulai menyala di bawah tungku. Uap tipis perlahan naik dari santan yang dipanaskan. Aroma kelapa segar bercampur daun bawang menyebar ke sekitar halaman masjid. Dari situlah Bubur Syuro mulai dimasak.
Namun ternyata, ada sejumlah rahasia yang membuat Bubur Syuro kampung terasa berbeda dibanding bubur biasa.
Resep Bubur Syuro Tradisional yang Banyak Digunakan Warga
Di berbagai daerah Priangan Timur, komposisi bahan memang bisa berbeda. Meski demikian, sebagian besar warga menggunakan resep dasar yang hampir sama.
Bahan-bahan:
- 1 kilogram beras pulen
- 4 liter santan segar
- 250 gram kacang tanah
- 250 gram kacang hijau
- 3 buah jagung manis yang dipipil
- 5 batang daun bawang
- 2 sendok makan garam
- 6 liter air
- Bawang goreng secukupnya
Sebagian kampung juga menambahkan ubi jalar, labu kuning, atau potongan sayuran sesuai kebiasaan setempat.
Karena itu, rasa Bubur Syuro dari satu daerah ke daerah lain sering memiliki ciri khas masing-masing.
Rahasia Pertama: Santan Segar Lebih Penting daripada Bumbu Mahal
Banyak orang sibuk mencari rempah tambahan agar Bubur Syuro terasa istimewa. Padahal para peracik berpengalaman justru lebih memperhatikan kualitas santan.
Mereka memilih kelapa yang benar-benar tua, lalu memerasnya pada hari yang sama saat bubur dimasak.
Santan segar menghasilkan aroma yang lebih kuat dan rasa yang lebih gurih. Selain itu, teksturnya membuat bubur terasa lebih lembut ketika disantap.
Seorang warga bahkan pernah bercanda bahwa rahasia Bubur Syuro bukan berada di toko bumbu, melainkan di kebun kelapa.
Candaan itu memang terdengar sederhana. Namun banyak warga mengakuinya.
Rahasia Kedua: Jangan Pernah Berhenti Mengaduk
Menjelang tengah malam, pekerjaan paling berat biasanya dimulai.
Beberapa bapak berdiri mengelilingi kuali besar sambil memegang pengaduk kayu sepanjang hampir satu meter. Mereka bergantian mengaduk bubur agar bagian bawahnya tidak gosong.
Sesekali terdengar suara kayu membentur sisi kuali.
“Pelan-pelan, jangan sampai lengket,” celetuk salah seorang warga kepada temannya.
Suasana itu sering memunculkan obrolan ringan, cerita masa kecil, hingga kenangan Muharram puluhan tahun lalu.
Di sinilah salah satu rahasia Bubur Syuro berada.
Semakin lama proses memasak berlangsung dengan api yang stabil, semakin menyatu pula rasa santan, beras, dan bahan lainnya.
Cara Membuat Bubur Syuro yang Gurih dan Lembut
Setelah seluruh bahan siap, proses memasak dilakukan secara bertahap.
Pertama, rebus kacang tanah dan kacang hijau hingga setengah matang.
Kemudian masukkan beras ke dalam kuali besar berisi air. Setelah beras mulai mengembang, tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk.
Selanjutnya, masukkan jagung, daun bawang, dan garam.
Aduk secara perlahan selama dua hingga tiga jam sampai seluruh bahan menyatu dan menghasilkan tekstur yang kental.
Setelah matang, taburkan bawang goreng di atasnya.
Bubur Syuro paling nikmat disantap dalam keadaan hangat.
Rahasia yang Tidak Pernah Tertulis dalam Buku Resep
Ada satu rahasia yang hampir tidak pernah muncul dalam resep mana pun.
Rahasia itu adalah kebersamaan.
Di banyak kampung Tasikmalaya, Bubur Syuro tidak dimasak oleh satu orang. Puluhan warga ikut terlibat sejak awal.
Ada yang menyumbang bahan makanan. Ada yang menyiapkan tungku. Dan ada yang bertugas membagikan bubur setelah pengajian selesai.
Menjelang bubur matang, anak-anak biasanya mulai berdatangan membawa mangkuk warna-warni dari rumah masing-masing. Mereka berdiri mengantre sambil menunggu giliran.
Sebagian tidak sabar.
Sebagian lagi sibuk bercanda dengan teman-temannya.
Pemandangan sederhana itu terus berulang setiap Muharram.
Mungkin karena itulah Bubur Syuro tetap bertahan hingga sekarang. Bukan semata karena rasanya enak, tetapi karena tradisi ini membuat warga merasa menjadi bagian dari satu keluarga besar.
Ketika Semangkuk Bubur Menjadi Warisan Budaya
Di tengah gempuran makanan modern dan tren kuliner yang datang silih berganti, Bubur Syuro tetap memiliki tempat istimewa.
Ia menghubungkan generasi tua dengan generasi muda.
Ia menghidupkan kembali suasana kampung yang hangat.
Dan yang paling penting, ia mengingatkan bahwa kebersamaan sering lahir dari hal-hal sederhana.
Rahasia terbesar Bubur Syuro ternyata bukan santan, bukan kacang hijau, dan bukan cara memasaknya. Rahasia itu tersimpan di tangan-tangan yang bekerja bersama, di tawa warga yang berkumpul, dan di hati orang-orang yang masih percaya bahwa semangkuk bubur hangat mampu menjaga kehangatan sebuah kampung. (ARR)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar